Palu!

Cerita berikut ini saya tulis di akhir tahun 2010. Sebuah curahan hati? Ehm, saya sendiri lupa apa ini kisah nyata atau bukan. Tapi yang paling saya ingat adalah komentar teman saya saat cerita ini saya boyong ke hadapannya.

“Cerita apaan sih ini? Nggak ngerti”. 

Gedebuk. Plak. Bret. Ada palu menghantam dinding rumah. Kala itu sontak kutatap dia dengan tatapan membunuh. Tapi yang ada dia cuma melengos dan meninggalkan aku yang membeku. Heleh.

Setelah kasus ini, aku tak pernah lagi memintanya membaca ceritaku.

Hahaha, apa ini? Dendam?

Nggak.

Terus?

Dia pindah kosan.

Jih.

———————————————————————

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

 

 

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.

Advertisements

2 thoughts on “Palu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s