Semua Tak Mudah

Amir menghentakan kakinya sambil berbalik badan. Sesaat aku bisa melihat bibir mungilnya mengerut. Meski tak kudengar bunyi pintu kamar di banting, tapi aku tahu pasti Amir ada di sana.

***

“Mungkin sebaiknya kau fokus dulu pada kuliahmu Mey”, siang itu Teh Ima membujukku kembali. Aku paham kenapa Teh Ima bersikukuh memintaku berhenti bekerja. Ia tahu gajiku tak seberapa, ia juga tahu betapa beratnya ‘pekerjaan’ku ini.

“Mey akan berhenti Teh, tapi bukan sekarang.”

“Kau masih mau mengurus anak itu?”

“Amir. Dia punya nama”, sedikit kesal ku keraskan suaraku.

“Ya, Amir, atau siapalah”, Teh Ima diam dan menarik nafasnya, “Tapi kau membuang waktumu Mey. Oke, Teteh paham, kau merasa punya tanggung jawab. Amir senang padamu, menurut padamu. Tapi apa yang bisa kau lakukan lagi? Bahkan orang tuanya tak pernah menjenguknya kan? Mereka meninggalkan Amir di sana”, kini Teh Ima menatapku lekat. Aku bisa merasakan ia mencoba menahan diri, pekikan kesalnya sekarang berubah jadi bisikan lirih.

“Mey, begini saja…”

“Mey tahu rasanya ditinggal sendiri, Teh. Dan itu lebih dari sekedar cukup bagi Mey untuk tidak meninggalkan Amir.”

***

"Aku tahu menangis tak membuat jendela ini lebih lebar. Aku tak akan menangis."
‘Aku tahu menangis tak membuat jendela ini terbuka lebih lebar. Maka aku tak akan menangis lagi‘ (Dari Kak Mey untuk Amir)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s