Aku Positif!

Sudah beberapa kali sebenarnya jemariku menyentuh keyboard, me-nari-kannya, hingga menghiasi layar putih di hadapanku. Tapi beberapa kali pula semua hanya singgah dan mengisi antrian draft. Dan sejauh ini, jika tulisanku gak beres sekali, berarti itu gak jadi. Jadi, supaya ga mubazir (nyungsep di draft lagi), kuputuskan malam ini harus jadi satu. Satu pokoknya mah.

Jadi ide tulisan ini rupanya sambungan dari tulisanku beberapa waktu lalu (bisa baca disini). Meski gak ada kesimpulan di ujung tulisan itu, tapi pandangan aneh agaknya ‘cukup dekat’ dengan orang-orang begitu. Nah, di satu sisi, sebenarnya itu bukan masalah besar bagi yang ‘bisa’ mengatasi nya. Seperti aku (hah?). Eh, bukan bermaksud apa-apa, cuma biar gak nyontohin orang lain aja. Kalau salah kan malah jadi fitnah. Jadi biar asli, aku cerita aku aja. Lagi kan blog ku sendiri -__- (apasih heboh sendiri)

***

Dulu, dicemooh sesat, aneh, sempat membuatku lemah di awal. Sempat gamang, “benarkah keputusan ini?”, sempat takut kehilangan teman, dan semacam itu. Seiring waktu, aku tak takut lagi. Salah satu kalimat yang dikirimkan kakakku kala itu (jika kau tanya ia tentang sms ini, kupastikan ia lupa. Kakakku jenis orang yang melupakan hal-hal semacam ini).

Dek, apa artinya semua orang senang padamu jika Allah jauh darimu? Lalu, apa lagi yang kurang jika Allah menyayangimu, meski dunia menjauhimu?

Jelas. Masalah selesai. Aku berinteraksi lagi. Tidak ada masalah apa-apa. Ketakutan nyatanya cuma bayanganku. Tidak ada yang menghina apalagi menjambak kerudungku, haha.

Tapi kemudian, ‘cobaan’ itu berlanjut pada hal lain. Kau tau, ujian itu memang berubah. Tergantung dimana dan seperti apa diri kita. Aku tak lagi dihadapkan pada persoalan seperti di atas, tapi lebih dari itu, kini ia menyita perhatianku.

“Kamu mah, apa-apa negatif semua, kayaknya semua yang dilakukan mereka (pemerintah-red) salah melulu, kapan benernya?”

“Eh Rin, kemajuan itu muncul dari pikiran-pikiran positif, bukan dari pikiran sinis, apalagi apa-apa dihubung-hubungan sama propaganda asing”.

Ya, itu. Kalimat-kalimat itu.

Aku tertohok. Aku merasa kutub negatif, aku terpojok dan merasa penyebar ide buruk. Ah aku… (lebay mode:ON) <— abaikan.

negatif
Kamu tuh negatif banget auranya Rin <– Dibilang begini ini tuh bikin nangis kejer T_T Huaaaaa….

***

Teman, benar sekali. Aku telah mencoba mengisi pagiku dengan membaca kisah-kisah inspiratif seorang ayah, menonton film tentang perjuangan seorang pasien untuk sembuh, kisah guru di pedalaman juga ku sambangi, hingga keberhasilan anak-anak ‘kurang mampu’ dalam mencapai cita-citanya, semua kucoba untuk diresapi. Dan hasilnya, aku merasa sebagai manusia kita memang harus berusaha. Dan semua itu terjadi karena mereka tidak mencerca dan menyalahkan keadaan. Mereka bangkit dengan penuh kesabaran.

Dan benar sekali, jika kubaca dan kudengar berita tentang kerusuhan massa, pembegalan di mana mana, penculikan bayi, tkw yang dipulangkan dalam keadaan babak belur, hutang luar negeri menggunung, listrik naik, macet, harga cabe tinggi, kepalaku sakit. Cukuplah untuk membuatku tak tersenyum sepagian itu.

Lalu pertanyaanku, apakah karena ‘positif’ itu, maka kita hanya harus mendengar berita yang baik tadi? Lalu melupakan dan meninggalkan kisah buruk tadi? Begitukah sikap ‘positif’ yang harus dikemukakan agar negeri ini maju? Hingga terformatkan rumusnya:

Positif jika menyebarkan berita tentang: Seorang petani berhasil menciptakan bahan bakar dari kotoran ternak.

Negatif jika menyebarkan berita tentang: Pemerintah gagal karena perusahaan asing berhasil menguasai sektor migas dalam negeri hingga 90%.

Begitukah?

***

Well, teman, apakah menyuarakan bahwa kemiskinan, tingginya angka putus sekolah, pelecehan pada perempuan, kekerasan pada anak, merupakan persoalan sistemik yang tidak bisa diselesaikan pada satu sisi saja, adalah salah? Lalu apakah diam dan nrimo dengan berbagai kebijakan dzalim penguasa adalah benar? Bahwa itu sabar?

Ya, pertanyaan pertanyaan ini semestinya dijawab dengan kejujuran. Jika dibilang lelah, sejujurnya diri ini pun lelah dengan semua persoalan yang mendera kehidupan kita. Tapi apakah karena kelelahan, lalu kita mendiamkannya? Justru disinilah letak ‘bahaya’ nya kata-kata ‘positif’ yang disebar tadi. Setidaknya dengan pembacaan saya yang tak seberapa ini. Positif itu memang terkesan baik di mukanya, tapi sungguh dapat menyeret seseorang pada sikap apatis dan akhirnya lupa dengan persoalan yang sangat banyak terjadi.

Hingga akhirnya, bisa saja terjadi seseorang yang justru semakin jauh dari perubahan sejati. Yang ada mungkin perbaikan sepihak, sedikit, sebagian kecil, tapi itu tidak akan menghentikan kedzaliman besar.

***

Dan sebagai penutup (memang semestinya ada ulasan dan tulisan yang lebih tajam tentang pandangan ini), ada sekelompok orang yang sebenarnya bukanlah para pencela yang kerjaannya mencela (pemerintah-red) saja. Diri ini pun begitu ingin berterima kasih dengan setiap orang baik (salah satunya Bu Tri Rismaharini) yang secara ikhlas membantu rakyatnya, pengusaha pengusaha yang rela berbagi, menteri yang ikhlas bekerja, organisasi sosial yang rela berlelah tanpa bayaran, dan semacamnya.

Tapi, ada sesuatu yang harus disadari oleh setiap orang. Yaitu, bahwa persoalan yang terjadi hari ini bukan semata-mata karena ada individu malas. Bukan semata-mata tentang individu yang individualis. Bukan. Ini bukan persoalan individu, atau satu dua orang di negeri ini. Tapi ini persoalan sistemik. Sistemik itu, jika terkait dengan tanaman sakit, maka sudah tidak bisa disembuhkan dengan menghilangkan satu bagian saja. Penyakitnya sudah ada di bagian manapun dari tanaman itu. Apakah obatnya bisa hanya untuk akar? Apakah obatnya bisa untuk daun saja? Tidak.

Karena sistemik inilah, perbaikan sisi sisi tertentu saja, tidak akan pernah cukup. Harus ada perubahan sistemik pula. Apa itu? Kita bahas lain kali 🙂

Namun, sebagai penutup (lagi lagi bilangnya penutup), apakah kemudian kita tidak boleh memperbaiki dan berbuat semampu kita? Kita kan cuma bisa ngajar-in anak kurang mampu di sekolah alam, kita kan cuma bisa buang sampah di sekitar kita, kita kan cuma bisa mengurangi penggunaan plastik, dan lain lain. Maka hal ini tidaklah salah. Berbuatlah yang terbaik sebagai individu, apalagi jika kamu muslim.

Tapi yang harus diingat, hal ini tidak akan melepaskan penyakit sistemik tadi. Karenanya, jangan mencukupkan diri. Itu saja. Jadi, sepanjang tulisan ini, poinnya adalah,

Aku bukan seorang pencaci yang membangun kebencian. Sederhananya bagiku, semua ada posisi dan porsi masing-masing. Ada yang harus diperbaiki sebagai individu, ada yang harus diperbaiki oleh masyarakat, tapi ada pula yang harus diperbaiki oleh penguasa dengan kapasitas sebagai sebuah negara. Kerja sistem.

Ya, itu saja.

***

*Oh iya, setelah kubaca ulang, baru tersadar, judul tulisan ini ‘bermakna ganda’ banget yah. Haha, you know-lah what I mean. Tapi orisinalitas khayalan judul harus ku hargai. Tak ada bayangan ke ‘arah sana’ pada awalnya, jadi biarlah tetap begitu*

#mengklarifikasisendiri #seakanadayangberpikirkearahsana #sudahituaja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s