Laporan Entomolo-Guys 2014

LAPORAN PENELITIAN

 INFORMASI TENTANG PARA PENELITI HEBAT DI MASA MENDATANG

2014 – 2015

Sori, editannya jelek >.<   

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berbekal rasa yang mendalam untuk mengekalkan mereka dalam ingat, ku ‘abadikan’ mereka dalam ruang ini. Satu dua hari bersama, satu dua terasa ada yang sama, satu dua pula nyata kita tetap-lah berbeda. Salah kata, mungkin jadi biasa. Terungkap rahasia, alamiah pula rasanya. Tapi mereka tetaplah mereka dengan segenap kehebatannya. Cuma, manusia belajar memakna. Kenapa kita bersua? Kenapa kita bersama?

Perjalanan, mengajarkan banyak kisah. Tahun depan, seterusnya, entah kita akan bertemu siapa. Entah siapa yang ada di samping kita. Entah berada dimana kita. Kepastian tiada empunya, selain Dia. Manusia cuma menakar harapan, akan ada masa masa bahagia, bersama mereka yang senantiasa disayang.

Sekelumit kata disini tak akan pernah cukup untukku meluapkan ceritera. Dan kisah bersama mereka-pun belumlah menjumpai akhirnya. Ianya masih bersisian dengan perjuangan yang menuju puncaknya. Menggeliat dalam sinar mentari yang meninggi. Berjibaku menuju akhir bahagia.

Tujuan

Ingin mengabadikan senyum mereka semua 🙂

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Institut Pertanian Bogor, Departemen Proteksi Tanaman, Program Entomologi, di ruang ruang mana yang biasa digunakan untuk kuliah praktikum makan

Alat dan Bahan

Mata, buku tulis, pulpen (beberapa dari pinjeman), kamera Bu Nina.

Metode

Bertanya langsung pada narasumber. Saat ditolak, maka rumus kepo bisa digunakan. Cukup search nama mereka di gugel, kita akan mendapatkan seabreg informasi tentang mereka.

Hipotesis

H0: Mereka semua tidak bahagia

H1: Mereka kelak akan bahagia

HASIL DAN PEMBAHASAN (masih dalam penulisan)

PENUTUP (masih dalam penulisan)

Catatan selama penelitian (log book) :

Berhubung masih banyak informasi yang belum lengkap, saya akan melengkapi-nya kembali. Tapi mencari informasinya rada susah. Mereka gak mau ngasih -_- Tapi seorang peneliti (baca:kepo-ers) sejati tak akan pernah menyerah mencapai data yang ia butuhkan. Fiuh.

* * *

LAMPIRAN

 Sunaryo Syam (Aryo) Efrin Firmansyah (Efrin) Rizky Nazarreta (Rizky) Eka Wahyuningsih (Eka)  Melly Fitriani (Kak Melly) Arini (Arini) Mahardika Gama Pradana (Dika) Wawan (Pak Wawan) Sri Ita Tarigan (Sri) Febrina Herawani

Hymne IPB

Institut pertanian

Pengabdi nusa bangsa

Menempa tunas muda

Cendekia pencipta jaya

Bergema suara cita

Amalkan ilmu tuk nusa

Dengan semangat bergelora

Jayalah IPB kita…

Tunas bakti civitasnya

Laksanakan selalu

Tri Dharma nan mulia

IPB terus maju…

Institut Pertanian

Pengemban cita suci

Institut Pertanian Bogor

Almamater kami…

ketika kamu ingin menulis lebih banyak tapi tertunda karena sesuatu hal, maka tulislah hymne kampusmu 🙂

Dihakimi!

Jauh lebih nyaman melakukan kontemplasi, berkaca pada diri. Lalu mengurainya dalam bait kata ‘beginilah aku, begitulah diriku’. Dibanding mengetukkan palu atas polah laku orang lain. Sederhananya, manusia memang tak mudah menerima penghakiman.

Tapi, manusia mudah menghakimi. Ya, oke, mungkin gak sampe sama persis seperti dalam sinetron sinetron_dimana tokoh utama akan berlinangan air mata, tersudut, dan cuma bisa diam waktu dipelototin, dituding tuding, didorong dorong sama tokoh antagonis.Tapi jauh lebih ringan dari itu, saya beranikan diri untuk menyimpulkan: siapapun pasti pernah merasa tersudut, terhakimi. Cuma kadarnya saja yang berbeda.

Lalu apa persoalannya? Oke, sebelum lebih jauh, biar ga turut menghakimi :), saya tanya dulu deh, “Kamu pernah merasa dihakimi? Di-judge atas sesuatu yang itu sepertinya ‘bukan dirimu’ atau ‘perbuatanmu’? 

“Kamu itu sok dewasa”, “Kamu itu sok alim”, “Kamu itu sok care”, “Kamu itu sok kecakepan”, “Kamu itu sok cute”, “Kamu itu sok pinter”, ada yang pernah bilang gini ke kamu? 🙂 Continue reading “Dihakimi!”

Curhat 1

Saya bertemu dengan orang yang…menyebalkan. Sejauh ini dari persentase 0-100 maka hampir 80% pertemuan saya dengan dirinya selalu membuat saya menghela nafas sedangkan 20% sisa-nya saya diam.

Dia individualis. Beberapa kali saya dapati berbuat tidak jujur.

Saya akan pikirkan apa yang bisa saya lakukan untuk menghadapi cobaan ini.

Rimba!

Hidung Rimba memerah. Aku bisa melihat ia habis menangis.

“Kau laki-laki Rimba, jangan menangis.”

Seringan itu mengucapkannya dihadapan Rimba, Rimba kecil. Yang berdirinya cuma sebahuku.

***

Aku bertemu kembali dengan Rimba. Setelah hampir 10 tahun ia meninggalkan rumah ‘angker’_aku menggelari begitu_ yang cuma ia tinggali dengan ayahnya.

Rimba berdiri, dan aku cuma sebahunya.

Canggung menyelimuti. Ada baiknya aku tak lagi sekelam dulu, rambut merah dan kusut milikku kini tak lagi tampak. Berbalut kerudung bermotif bunga dipinggirannya, aku menjelma jadi sesosok tak dikenal.

“Aku masih mengenalmu.”

***

“Apakah kau pernah menangis lagi?”, kutanya pada Rimba sore itu.

“Kau tau, aku Rimba, rumah bagi sang raja.”

***

sudah terlalu malam

sudah terlalu malam.

tapi menepi adalah keharusan.

seperti muara yang dilalui arus pasang.

lewatnya, surut kembali jua.

kutunggu kau dalam petikan kata.

mengiramakan makna yang kubaca terbata.

menebak, mungkin ada atau tiada benarnya.

aku hanya mencoba.

salahnya, disana lagi.