Rimba!

Hidung Rimba memerah. Aku bisa melihat ia habis menangis.

“Kau laki-laki Rimba, jangan menangis.”

Seringan itu mengucapkannya dihadapan Rimba, Rimba kecil. Yang berdirinya cuma sebahuku.

***

Aku bertemu kembali dengan Rimba. Setelah hampir 10 tahun ia meninggalkan rumah ‘angker’_aku menggelari begitu_ yang cuma ia tinggali dengan ayahnya.

Rimba berdiri, dan aku cuma sebahunya.

Canggung menyelimuti. Ada baiknya aku tak lagi sekelam dulu, rambut merah dan kusut milikku kini tak lagi tampak. Berbalut kerudung bermotif bunga dipinggirannya, aku menjelma jadi sesosok tak dikenal.

“Aku masih mengenalmu.”

***

“Apakah kau pernah¬†menangis lagi?”, kutanya pada Rimba sore itu.

“Kau tau, aku Rimba, rumah bagi sang raja.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s