Dihakimi!

Jauh lebih nyaman melakukan kontemplasi, berkaca pada diri. Lalu mengurainya dalam bait kata ‘beginilah aku, begitulah diriku’. Dibanding mengetukkan palu atas polah laku orang lain. Sederhananya, manusia memang tak mudah menerima penghakiman.

Tapi, manusia mudah menghakimi. Ya, oke, mungkin gak sampe sama persis seperti dalam sinetron sinetron_dimana tokoh utama akan berlinangan air mata, tersudut, dan cuma bisa diam waktu dipelototin, dituding tuding, didorong dorong sama tokoh antagonis.Tapi jauh lebih ringan dari itu, saya beranikan diri untuk menyimpulkan: siapapun pasti pernah merasa tersudut, terhakimi. Cuma kadarnya saja yang berbeda.

Lalu apa persoalannya? Oke, sebelum lebih jauh, biar ga turut menghakimi :), saya tanya dulu deh, “Kamu pernah merasa dihakimi? Di-judge atas sesuatu yang itu sepertinya ‘bukan dirimu’ atau ‘perbuatanmu’? 

“Kamu itu sok dewasa”, “Kamu itu sok alim”, “Kamu itu sok care”, “Kamu itu sok kecakepan”, “Kamu itu sok cute”, “Kamu itu sok pinter”, ada yang pernah bilang gini ke kamu? 🙂

“Sori, tapi kadang kamu kekanak-kanakan”, “Sori, kayaknya kamu kadang suka telmi”, “Maaf, tapi kamu kalau ngomong suka nyakitin”, kalau ini? 🙂

Drama queen
Kamu bilang apa tadi??????

Well, silakan jawab masing-masing. Tapi diantara keduanya, sebenarnya mungkin kita pernah berada pada posisi dituduh juga menuduh. Iya gak? Cuma, karena menuduh itu pekerjaan yang ‘ringan’, kita seringkali lupa. Dan dituduh itu rasanya ‘menyakitkan’, kita menyimpannya lekat lekat dalam memory.

Ya, disinilah, egoisme kadang melenakan. Bahkan tak jarang kita butuh waktu yang lama untuk berbesar hati. Dimana kita semestinya belajar mengambil kritikan itu, mendengar sesuatu yang seringnya justru membangun diri kita. Tapi sangat tidak mudah dan awalnya selalu muncul kontra sana sini di dalam benak. Beberapa orang bahkan butuh berhari hari untuk manyun dan ngambek.

Tapi waktu pandai meluluhkan emosi, kita akan menyadari sisi sisi diri kita yang tak luput dari alpa. Mungkin kala sendiri, tiba tiba terpikir. Mungkin terbaca suatu kisah, lalu tersadar. Dan di sanalah, kita mengerti kita butuh orang lain.

Hanya, kita manusia tak terlalu lihai memainkan kata. Lidah mudah mengucap pedas, tapi telinga tak pernah siap mendengar sakit.

Kalau begitu dalam konteks ini, bukankah yang lebih baik adalah mengukur? “Ah, andai itu diucapkan untuk diriku, apakah aku menerimanya?”, “Ah, andai aku diperlakukan begitu, bagaimana?”

***

Nah, tapi kadang, ada suatu hal yang memang harus diutarakan, harus. Meski sulit terucap, meski sulit dibuat. Meski kadang tak diterima orang, meski kadang setelahnya jadi dibenci. Karena sesuatu itu memang wajib diungkap. Ya, kalau urusannya sudah berkaitan dengan wajib, “sami’na wa atho’na”, bahkan dihina, dicemooh, dijauhi, dijeruji, dihukum mati, tak pernah sebanding lagi. Di sana, dimana kebenaran Islam, hanya belum terpahamkan. Di sana, dimana ajakan cinta, masih dipandang sebelah mata.

Ketika ia diseru untuk menutup aurat, ia merasa dirinya sedang dihujat. Diminta untuk berhenti pacaran, dianggap cari perhatian. Waktu diajak untuk taubat, dibilang ‘memang sendirinya sudah pernah ke akhirat?’ Dikasih tau hukum manusia salah dan hukum terbaik adalah milik Allah, malah ngeyel bilang ‘mana dalilnya, itu mah bid’ah’.

Maka, bukan, bukanlah berarti kebenaran itu perlu diubah. Biar enak dan diterima semua pihak, kurangilah yang wajib jadi sunnah, yang sunnah jadi mubah. Biar dipandang toleran, biar dibilang anti kekerasan, biar dibilang tak ‘mendjuge’ sembarang orang. Bukan, bukanlah demikian.

Kebenaran Islam semestinya sampai lewat kata kata yang ahsan. Lembut dan menyentuh keimanan. Bukankah Umar ra itu pembenci Islam awalnya? Tapi ia menerima pada akhirnya.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. An Nahl:125).

Kebenaran Islam semestinya sampai lewat perilaku yang mencontohkan. Oleh diri pribadi, oleh keluarga, oleh masyarakat, hingga oleh negara. Rasulullah adalah laki laki yang baik pada istri, penyayang pada anak dan cucu. Ia adalah contoh di tengah masyarakat dalam kejujuran, kedermawanan. Ia pun adalah seorang kepala negara yang handal, tegas pada siapapun penghina kemuliaan umat, sayang pada rakyat.

Dan, kebenaran Islam, tentu hanya sampai pada hati yang bersih. Yang menjauhkan kesombongan dari dirinya. Yang rela untuk ‘di-judge’ oleh Sang Pemilik Pengetahuan. Karena sejatinya, Allah Maha Tahu akan hambaNya. Maka, jika manusia telah jauhkan sombong dari hatinya, siapa yang mampu menolak hidayah Allah atas dirinya?

***

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (TQS. Adz Zariyat:55)

blog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s