Hidupmu, Digenggam oleh Allah

Kemaren benar-benar menjadi Minggu siang yang menakjubkan. Siapa sangka, diakhir libur yang panjang ini, ada momen yang menjadi sebuah titik balik. Titik balik yang selama ini dicari. Ibarat kamu seperti terombang ambing, dan sekarang arah yang benar telah jelas lagi. Ya, setidaknya untuk menghadapi hari ini, mungkin esok, lusa, dan insyaaAllah seterusnya, telah ada semacam panduan sekaligus ‘pelecut’ hebat. Lecutan yang tak menyakitkan tentunya. 

Ya, pertemuan dengan ibu paruh baya itu, memang bukan pertama kalinya bagi saya. Ibu dengan senyum lebarnya, lengkap dengan tulang pipi yang kentara, ia manis saat diam, ia manis saat bicara. Hehe, ini malah membahas kecantikannya ibu nya. Oke, fokus pada pesan apa yang ia sampaikan hingga saya benar benar terpukau. (btw, saya sebenarnya mudah terpukau sama orang, cuma tingkatannya beda-beda. Kalau terpukau yang ini tingkat 1).

  • Seseorang itu berbuat dengan optimal, hanya jika ia memahami kenapa ia harus berbuat demikian. Apa yang terjadi jika seseorang, melakukan sesuatu karena terpaksa? Apa yang terjadi jika sebenarnya ia tak pernah tahu, sehingga tak pernah mau, sehingga tak pernah suka, dipaksa untuk melakukan sesuatu itu? Ya jelas, ia akan menolak, atau mungkin ia lakukan tapi dengan konsekuensi tidak optimal (tidak pas seperti yang diharapkan). Oke, sederhananya apa yang terjadi jika seorang dokter memberikan dosis yang tidak tepat (kurang atau lebih) bagi pasiennya? Tentu saja bukan sembuh, bisa jadi malah muncul penyakit lain kan? Kalau dalam hama, bisa jadi dosis yang tidak tepat dapat menimbulkan resistensi hama. Hama bukannya terkendali, justru menjadi lebih berbahaya. Begitulah ‘hasil yang tidak optimal’. Bahkan dalam keimanan, yakin yang cuma 99% menjadi tidak berbeda dengan 1% kan? Karena iman itu 100% dan tidak ada angka lain. Jadi? Jadi betapa pentingnya memahami, kenapa kita melakukan A, agar A itu optimal. Atau kenapa tidak B, agar B itu tidak terlaksana secara optimal pula.
  • Standar yang berbeda antara dua orang, akan membedakan apa yang mereka perbuat. Hasil sapu-an seorang ibu, biasanya berbeda dengan sapu-an anak perempuannya 🙂 (tersenyum sendiri karena dulu sering dibilang begini sama Mamak). Ibu yang menyapu, standarnya adalah bersih. Sampai sapunya benar benar tak menemui lagi debu, bawah karpet pun dicari cari, itu makna menyapu. Tapi bagi anak perempuan itu? Standarnya adalah melaksanakan perintah Ibu. Jadi, yang penting ‘nyapu’, bersih atau enggak itu bukan standar. Yeah, meski tak semua akan begitu. Ini hanya untuk menggambarkan bahwa standar berbuat bagi anak dan ibu ini berbeda, meski yang dikerjakan sama. Hasilnya? Hasilnya berbeda tentu saja. Lalu korelasinya dengan hidup ini? Standar hidup seorang muslim adalah keridhoan Allah semata. Tapi tak sedikit pula materi menjadi tujuan hidup. Maka jadilah ada muslim ktp. Ada yang berkerudung tapi tak peduli, kerudungnya sudah memenuhi syarat atau belum. Ada yang sudah haji, tapi setelah nya tak berdampak pada perbuatan. Mengapa begitu? Karena standar ia melakukan ibadah tadi, bukan ‘Allah’.
  • Jika seseorang itu telah sadar alasannya berbuat, kemudian ia paham standar yang ia gunakan, maka ia menjadi orang yang serius. Orang yang serius itu berbeda. Ia sungguh sungguh melakukan bagian yang bisa ia lakukan. Ia yang serius, tidak akan menggampangkan atau menyepelekan semua proses. Ia sadar apa yang ia harus lakukan, ia tahu dimana ia akan mendapat bantuan jika butuh, ia tahu dimana ia harus berhenti. Ada kaidah yang ia pakai. Bukan sembarang.
  • Hidupmu milik Allah. Lalu seberapa sering kamu menyerahkan semuanya pada Sang Pemilik Hidup? Ini yang paling menohok diantara semuanya. Kadang, kita lupa bahwa mata ini pinjeman dari Allah. Kadang, kita lupa bahwa waktu pun punya Allah. Bahwa usia, uang, materi, teman, anak, suami, ilmu, adalah titipan Allah. Semua milik Allah. Sehingga saat kita sedang berupaya, kita berupaya sekuat mungkin, lupa untuk meminta ‘izin dan keridhoan’ dari si Empunya. Lupa untuk minta kuatkan, lupa minta dimudahkan. Padahal, itu semua milik Allah. “Ya Allah, kaki ini milikMu, kuatkan ia melangkah dalam majelis ilmumu”, “Ya Allah, mata ini milikMu, tetapkan Ia terjaga saat kuliah dengan dosen ini ya Allah”. Apa yang sulit bagi Allah? :’)

Jadi, apa yang tidak membuat saya terpana kemaren itu? Saya terpana dan saya sadar, saya telah jauh lupa. Saya lupa, bahwa saya punya Allah. Allah, aku ingin dekat. Maka dekatkan aku padaMU :’)

Brebes, 2012 "Mentari adalah milik Allah, maka pagi adalah milikNya"
“Mentari adalah milik Allah, maka pagi adalah milikNya pula” | Brebes 2012
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s