Masih Jauh!

Dan, dan seperti biasa, kalau saya berhasil menelorkan ‘sesuatu’ di blog ini, maka artinya saya telah terinspirasi dari seseorang atau sesuatu yang saya temui. Dan yup, bagi saya, berbicara dengan orang lain, memperhatikan mimiknya, menatap daun kering di depan kantin, mendengar deru bising kenderaan, mengintip awan berarak dari jendela yang berdebu, menyanyikan lagu dengan nada sumbang, menerima sms operator yang setia, menyaksikan ritme kasir supermarket, menertawakan sesuatu yang (tidak) lucu dan beraneka aktivitas lainnya, adalah sumber inspirasi. INSSSPIRASSSI.

Masalahnya, tak semua hal tersebut bisa serta merta dijelmakan menjadi sebuah tulisan. Ada yang momennya hilang karena ditelan kesibukan (eleh sok sibuk). Ada yang momennya hilang karena…ketiduran pas nulis. Ada yang momennya hilang karena…sudah bangun dari tidur, terus…ketiduran lagi #plak #dasartukangtidur.Ups, oke cukup! Pada dasarnya, jika saya tidak menulis, maka itu hanya karena satu alasan: MALAS! (Astaghfirullah, istighfar banyak banyak Rin… -_- )

Ohiya, hari ini adalah ulang tahun abang saya. Begitu membahagiakan saat tahu, abang sudah besar. Heiks. Eheh, maksud saya, sudah berapa lama sejak saya masih Mts dan abang di Smu. Waktu itu, abang lah pengganti mamak dan abah karena kami tinggal terpisah dengan mereka. Kami harus sekolah di kota karena di desa abah dan mamak bertugas, tidak ada sekolah lanjutan.

Ya, banyak hal yang dilalui dan betapa mungkin saya banyak sekali merepotkan Abang. Semua kasih sayang, pelajaran hidup, nasehat, telah menjadi bagian penting yang mewujudkan saya menjadi seperti hari ini. Abang tiadalah pernah sempurna, tapi adalah kebahagiaan yang tidak mampu saya ucapkan saat menyadari Abang adalah bagian dari rencana yang Allah sisipkan dalam hidup saya. Kini, Abang telah bahagia bersama Kak Putri dan Athifa (yang bayi tapi ga kecil lagi). Semoga Abang selalu sehat dan menjadi laki-laki terbaik. (Terharu mode:ON). Ohiya, hobi saya menulis pun terinspirasi karena Abang. Tulisannya selalu menyenangkan untuk dibaca. Silakan yang mau berkunjung ke blognya di sini.

Nah, masih terkait dengan waktu. Di masa lalu, kita mungkin belum terbayangkan bagaimana kondisi kita 10, 20 tahun ke depan. Saya kala itu, masih belum terbayang kehidupan saya sekarang, dimana saya mungkin hanya berjumpa dengan Abang (contohnya masih Abang, karena Abang lagi ulang tahun, haha) minimal 1 tahun sekali. Waktu itu, belum terpikir atau memang tidak terpikir apa-apa, anggapannya kala itu ya, “Ya, itu masih jauh”. Tapi kenyataannya? Kenyataannya waktu berjalan tanpa kita sadari. Iya kan?

Nah, ini nih bagian akhir tapi justru kisah utama tulisan ini (jadi dari tadi pembukaan ya 😀 ). Waktu, kadang diibaratkan dengan dengan jarak tempuh. Ukurannya adalah jauh atau dekat. Tapi dalam hal ini, kita ini bukan mau bahas makna. Ini ‘cuma’ mau bahas tentang pemaknaan ‘jauh dan dekat’ itu saja.

Oke, gini deh, orang itu kebanyakan suka nge-les pas ditanya, “Menurut kamu aturan Islam itu layak gak dijadikan aturan buat kehidupan manusia?”

“Ya iya, layaklah. Kan dari Allah. Gile aje lu, gue gini gini kan muslim.”

“Kalau gitu, harusnya kita hidup dalam aturan Allah dong ya? Aturan Islam.”

“Ehm, iya sih.”

“Kalau gitu, harusnya aturan kita di negeri ini, dan di negeri muslim lainnya semestinya Islam dong?!”

“Ehm, iya sih. Gue yakin. Cuma, kalo ngeliat kondisi sekarang, ngubah diri sendiri aja susah. Apalagi ngubah banyak orang, sampe ngerubah sistem.”

“Hem…”
“Jadi, iya Islam itu semestinya bakal diterapkan. Gue yakin suatu saat. Tapi ga sekarang. Masih jauhlah.”

MA-SI-H JA-UH. Catet. Sering ga denger orang bilang begitu? Oke, singkatnya gini ajah. Saya sendiri kadang pas di’beginiin’ sama orang, saya millih diem. Tapi berhubung kemaren dapet jawaban yang menurut saya ‘cukup’ dapat diterima, saya akan ubah strategi. Jawabannya begini,

Jauh atau dekat, pada akhirnya relatif. Sesuatu itu akan selalu jauh jika tak pernah dimulai. Tapi sesuatu yang ‘jauh’ pun pasti akan dekat jika dijalani dan dimulai. Titik mulai ini yang menjadi kunci.

Islam akan tegak suatu saat. Mungkin memang masih jauh (wallahu a’lamu), mungkin sudah dekat. Itu rahasia Allah. Pertanyaannya, jika memang masih jauh, apakah dia akan dekat dengan diamnya kita? Atau jika dia sudah dekat, akankah dia segera terwujud dengan diamnya kita? No. Semua terserah Allah. Jauh atau dekat, bukan urusan kita (dalam hal ini). Urusan kita adalah, seberapa yakin kita dengan janji Allah dan Rasulullah? Dan lebih dari itu, seberapa sumbangsih kita dalam mewujudkannya sebagai bukti cinta pada Allah dan Rasulullah? Toh, perjuangan mewujudkan kemenangan Islam, bukan masalah Allah butuh kita kan? Tapi kita butuh Allah.

Karena itu, kita yang pro aktif biar Allah ridho. Kalau Allah mau, Ia jadikan kita umat yang 1. Tapi Ia jadikan kita berbeda, untuk tau, siapakah yang paling baik amalnya.

“… Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (Al Maidah:48).

*edisi buat Abang, jadi photo photonya punya Abang*

Abah dan Abang bertahun tahun lalu :')
Abah dan Abang bertahun tahun lalu :’)
Abang di suatu hari (saya lupa dapat photo ini dari mana -_- )
Abang di suatu hari (saya lupa dapat photo ini dari mana -_- )
Abang nikahan :)
Abang nikahan 🙂
Abang idul fitri tahun pertama bareng Kak Putri :)
Abang idul fitri tahun pertama bareng Kak Putri 🙂
Setelah Athifa lahir :')
Setelah Athifa lahir :’)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s