Menang!

Kejadian bertahun tahun lalu itu kini menjadi jelas kembali. Aku yang duduk di deretan bangku paling belakang, berusaha keras memperhatikan Bu Zainab. Memang Bu Zainab terbiasa bicara serius, jarang bercanda, tapi biasanya selalu mengena. Mengena apalagi untuk menyadarkan kami muridnya. Ini hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang Ramadhan.

“Apa yang kalian dapatkan setelah Ramadhan ini? Satu bulan puasa, menahan lapar dahaga. Sholat tarawih, tadarus bersama. Mengaji, sedekah, hingga bayar zakat semua. Apa tanda kita semua menjadi orang bertaqwa?”

Masih saja ada bisik di kanan kiri. Gerombolan tukang rumpi di kelas kala itu tak kenal perempuan laki laki. Shhh, aku berusaha mendesah_yang lebih mirip mencicit_biar mereka diam.

“Wajah orang muslim yang menang itu akan bercahaya di hadapan Allah. Jiwanya tenang, ia menang.”

***

Ya, entah kenapa kata-kata guru madrasahku itu kembali terngiang. Mungkin karena sekarang juga memasuki bulan Ramadhan, hingga kepingan-kepingan kenangan itu memuara kembali, mungkin. Tapi lepas dari berbagai kemungkinan kenapa aku mengingat itu, aku meyakini Allah merancang semuanya. Karena pertanyaan “Akankah Ramadhan ini menjadikanku hamba Allah yang bertaqwa?”, semestinya juga (bahkan lebih) harus kupikirkan (dan kuwujudkan) saat ini. Dulu, itu adalah pertanyaan ‘besar’ yang ditanyakan pada ‘anak kecil’ sepertiku dan teman-temanku. Kini, semua itu harus kujawab justru karena aku tak ‘kecil’ lagi.

Kedewasaan berjalan beriringan dengan waktu. Dulu aku mengejar tarawih karena saat itu menjadi asik untuk bergurai dengan teman-teman, cekikikan saat sujud, menyengaja terlambat takbiratul ihram (imam mau ruku baru buru-buru Allahu akbar). Ya, meski dimarahi setelahnya oleh ibuku, tapi begitu lagi seterusnya.

Lebih dewasa sedikit, aku mengejar tarawih untuk mengisi agenda Ramadhan. Buku itu akan dikumpul usai Ramadhan dan menjadi ‘kebanggaan’ jika full amal ibadahnya. Malu kalau ada yang bolong, bahkan beberapa teman perempuan yang pertama kali haid juga malu ada bolong puasanya, padahal itu kan alamiah.

Ya, proses. Dari yang disuruh, diiming-imingi hadiah, dikasih tau lebih keras lagi, ditegur, dihukum, dijelaskan, hingga sadar sendiri, adalah proses. Pertanyaannya, apakah prosesku meningkat? Apakah kadar keimananku meningkat seiring waktu berjalan? Seiring lamanya proses yang dilalui? Sementara proses ini berjalan, bukankah batas akhir kian dekat? Dan disini aku terhenyak.

Semestinya Ramadhan menempa diri kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Semestinya. Dan yang mengetahui seberapa sukses kita, hanyalah Allah dan diri kita sendiri. Secara jujur, aku menyadari betapa masih jauhnya aku dari gelar ‘orang yang menang’ itu. Aku menyadari betapa masih banyak kelalaian, debu sombong dan niat yang tidak ikhlas, serta seabreg pengotor pengotor lainnya. Hingga aku menyadari, aku memang belum menang. Dan sungguh memilukan rasanya jika aku harus kalah lagi. Sementara, aku bukanlah anak yang kecil itu lagi. Bahkan aku tak pernah tahu apakah aku akan sempat menemui waktu ‘perlombaan’ ini ke depannya. Ramadhan ini hingga akhir, ramadhan berikutnya, atau berikutnya. Astaghfirullah, ampuni hambaMu ini ya Allah.

Namun, kala direnungkan lagi, rupanya tiadalah cukup kemenangan seorang diri saja. Toh ternyata, tiadalah ada bahagia di sana. Karena Ramadhan adalah bulan kemenangan bersama. Kemenangan kaum muslimin. Nyata menang melawan hawa nafsu nan kotor, nyata menang menjadi umat terbaik di muka bumi.

Memilukan jika bicara tentang umat ini. Sedih rasanya mengingat kondisi muslim Rohingya yang terusir, muslim di Palestina, di Suriah, di China, di belahan manapun di bumi ini yang masih disiksa. Apatah maknanya menang diri ini jika jutaan saudara di luar sana menderita? Yang susah makannya, yang sakit badannya, yang ditinggal sanak keluarganya? Yang tak punya rumah untuk berteduh, tak ada pakaian untuk berganti.

Layakkah untuk kita berkata menang?

Belumlah lagi hukum Allah yang dihinakan serta sosok Rasulullah mulia yang didustakan. Ayat Allah jadi mainan, hukum buatan manusia jadi sandaran. Yang halal disebut haram, yang haram terbiasa halal.

Layakkah untuk kita berkata menang? Layakkah kita mencukupkan diri kita sampai disini?

Sungguh, proses lah yang membawa kita meningkatkan eskalasi keimanan. Dari kemenangan individu kepada kemenangan umat Islam semuanya. Bahwa perjuangan untuk menang secara individu adalah hal yang harus diupayakan. Namun, kemenangan bersama tak boleh kita lupakan. Ramadhan harus menjadi bulan perjuangan. Perjuangan untuk menjadikan negeri ini bertaqwa pada penciptaNya. Perjuangan melawan kekufuran, perjuangan menyampaikan kebenaran.

Hingga kita menemui akhir Ramadhan dengan kelapangan hati, bahwa kita telah melakukan proses terbaik. Kita mengupayakan yang terbaik. Hingga kita bertemu dengan Allah kelak dengan sebaik baiknya wajah yang bercahaya, bangga karena Ia ridho dengan amalan kita.

InsyaaAllah kita akan menang dan selamat datang Ramadhan :’)

blog2

_________________


اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِي فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ، وَقِيَامِي فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ، وَنَبِّهْنِي فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ، وَهَبْ لِي جُرْمِي فِيْهِ يَا اِلَهَ الْعَالَمِيْنَ، وَاعْفُ عَنِّي يَا عَافِياً عَنْ الْمُجْرِمِيْنَ

Ya Allah, jadikan puasaku di bulan ini sebagai puasa orang-orang yang berpuasa sebenarnya, shalat malamku di dalamnya sebagai orang yang shalat malam sebenarnya, bangunkan daku di dalamnya dari tidurnya orang-orang yang lalai. Bebaskan aku dari dosa-dosaku wahai Tuhan semesta alam. Maafkan aku wahai Yang Memberi ampunan kepada orang-orang yang berbuat dosa.

___________________

Advertisements

4 thoughts on “Menang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s