Imam [Yang Masih Belajar]

Hawa yang panas lekat dengan suasana Ramadhan di Riau tahun ini. Kalimatku tadi buru-buru disanggah oleh adikku Ainul, katanya justru tahun lalu lebih panas. Aku coba-coba mengingat. Entahlah yang mana yang lebih panas, yang jelas aku bersyukur masih dipertemukan Allah dengan Ramadhan, dengan keluarga, dengan rumah. Dan yeay, tentu saja menjadi kian berkesan karena insyaaAllah akan bertemu dengan Athifa untuk pertama kalinya. Ya, Bang Aulia dan Kak Putri pulang ke Riau, Ramadhan dan Idul fitri tahun ini. Sayangnya Kak Dina dan Bang Baihaqi, serta kedua putri mereka Asma dan Azka pulang ke Pekalongan. Yah, namanya sudah berkeluarga, begitulah konsekuensinya. Harus saling berbagi :’)

Lalu ada cerita apa hari ini? Well, ini sebenarnya cerita yang telat banget diceritainnya. Sudah berminggu minggu lalu peristiwanya, tapi tetap masih kepikiran. Jadi…jadi diceritain juga 😀

Oke, jadi cerita ini berawal ketika saya sholat di mushalla sebuah rumah makan di Bogor. Saat itu saya dan ketiga teman saya_Mb Indah, Kak Anda, dan Kak Juwita_baru selesai berbuka puasa. Selesai makan, kami berbarengan menuju mushalla-nya dan ternyata ruangan untuk sholat yang tersedia itu cukup kecil, bahkan tidak ada sekat untuk ikhwan dan akhwat.

Dan saat itu, hanya ada satu laki laki di mushalla tersebut. Kelihatan dari perawakan dan gayanya sih, dia mahasiswa. Dia tampak bersiap siap untuk sholat. Nah, disinilah bermula kisah yang sesungguhnya.

Awalnya kami berpikir untuk sholat berjamaah dengan sesama perempuan saja. Namun karena ada laki laki tadi, kami pun berinisiatif untuk berjamaah dengan dia saja. Toh, ada laki laki. Begitu pikir kami. Akhirnya Mb Indah pun ngomong, “Mas, imaman ya sholatnya.”

Laki-laki tadi menoleh, menyadari bahwa dia-lah yang dimaksud, dia berujar, “Hah? Saya imam?”, laki laki tadi tampak agak terkejut mendengar permintaan kami. Dengan wajah mesem mesem dia garuk kepalanya, berharap sebaiknya hal itu tidak dilakukan.

“He eh iya”, kami menegaskan dengan segera merapikan shaf kami.

Laki laki tadi masih mesem mesem, lunglai dia berkata, “Oh, ya udah.”

Dan sholat pun dilaksanakan. Laki laki tadi akhirnya menjadi imam, membaca surah al fathihah, surah-surah pendek, dan seterusnya hingga salam. Sholat selesai, tapi disinilah aku mendapat pelajaran berharga, dan aku berharap ini juga menjadi pelajaran penting untuk teman teman, terutama kaum Adam.

***

Kuperhatikan saat selesai sholat dan kami kembali ke meja makan, ternyata laki laki tadi duduk tak jauh dari kami. Ia dan sekitar sepuluh orang temannya ngobrol dengan sangat riuh, dan hampir semuanya menjempit rokok di jarinya. Asap rokok sudah barang tentu hilir mudik di wajah mereka. Dari pakaiannya, mereka ini tergolong anak anak gaul masa kini menurutku. Dengan jaket yang agak belel, topi menghadap belakang, dan tulisan serta corak abstrak di kaos yang mereka kenakan, salah seorang diantara mereka juga mengenakan anting. Yah, cukup jauh dari pemandangan yang biasa ku saksikan di kampus ku sendiri.

Lalu sontak sekarang aku bisa mengerti, kenapa laki laki yang kami temui tadi, menunjukkan keterkejutannya di awal tadi. Mungkin ia merasa tidak nyaman untuk menjadi imam. Bisa jadi dia merasa ‘dia tidak layak’ atau karena merasa ‘dia belum bisa’, entahlah, itu dugaanku saja. Yang jelas, setelah aku melihat ia dan teman-temannya tadi, aku dapat lebih mengerti. Mungkin selama ini, dengan teman-teman yang ‘seperti tadi’, dia tidak pernah diminta untuk menjadi imam sholat. Jadi ya santai saja, mereka sholat ya sholat sendiri. Bacaannya bener atau enggak, kan cuma diri sendiri yang tahu, orang tak bisa menilai. Yah, dapat dipahami jika akhirnya ia terkejut saat dipercaya oleh kami untuk menjadi imam sholat. Mungkin selama ini pikirnya, ‘siapa sih yang bakalan minta dia jadi imam? Anak muda dengan model pakaian dan gaya ala ala gini?’, gak mungkin lah diminta jadi imam.

Tapi siapa sangka, Maghrib itu Allah menakdirkan ia bertemu dengan kami. Sekelompok perempuan yang tidak berpikir apa apa kecuali: laki laki itu imam. Dan saat itu, ia adalah satu satunya laki laki di mushalla itu.Jadi tidak ada pilihan lain.

Lalu entah kenapa, aku berharap dan berdoa kepada Allah semoga peristiwa di Maghrib itu menjadi sesuatu yang menyadarkan dan terus dipikirkannya. Bahwa jika pun saat itu ia tidak bertemu dengan kami, suatu saat ia tetap saja akan menjadi seorang imam. Imam bagi dirinya tentu saja dan imam untuk istrinya, anak-anaknya, untuk keluarganya. Tidak ada alasan lain, hanya karena satu hal saja: dia adalah laki laki.

Sehingga semestinya ia harus terus belajar. Sehingga ia harus meningkatkan kapasitas dirinya. Sehingga ia harus berubah. Bagaimana pengetahuannya tentang sholat, bacaan al qurannya, hapalannya, dan berbagai ilmu Islam lainnya yang semestinya diketahui seorang laki laki sebagai bekal perjalanan hidupnya. Baik untuk menjalankan perannya sebagai hamba Allah, dan termasuk sebagai bekal untuk menjadi imam yang terbaik kelak.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyimpulkan bahwa semua pemuda dengan ‘gaya seperti disebutkan di atas’ pasti gak bagus agamanya, oh tidak sama sekali. Bahkan bisa jadi mereka lebih baik dari seseorang yang sedang menceritakan kisah ini, Allah yang lebih tahu. Atau, tidak pula menyatakan bahwa yang semestinya memperbaiki diri adalah laki laki saja, karena mereka akan menjadi imam, sementara perempuan tidak. Oh, ini salah besar. Seorang wanita diberikan Allah tugas mulia untuk menjadi pendidik dan manajer rumah tangganya, maka apatah mungkin dengan tugas seberat ini akan mampu diemban oleh perempuan yang ‘biasa biasa’ saja? Tentu tidak. Perempuan dan laki laki sama sama wajib memperbaiki diri. Tidak ada pembeda, toh di hadapan Allah yang menjadikan seseorang lebih baik, kan ketaqwaannya saja.

Jadi, jadi semoga Allah mengabulkan doaku untuk imam [yang masih belajar] itu. Itu saja doaku di hari itu.

loading2“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s