Bukan Buah Simalakama

Tak semua kondisi bisa diibaratkan dengan mudah. Di zaman serba mungkin ini, berbagai hal nyatanya harus dirunut benar-benar agar tak tergeneralisir. Gampangnya, asal tuduh jadi tak bisa (dan memang tak boleh). Dan di lain sisi, sebuah peribahasa untuk mengibaratkan sesuatu pun, selalu punya batasan. Mana yang benar merupakan maknanya, mana yang bukan dan tak bisa dipaksa sama. Continue reading “Bukan Buah Simalakama”

Advertisements

Semburat Rindu di Malam Iedul Adha

Tak terasa pemilik blog ini akan memasuki tahun ketiga-nya bersama blog ini (tentu saja). Setelah sebelumnya malang (beruntung) melintang di dunia pencarian jati diri, eleh, alias gonta ganti blog, akhirnya kepincut disini. Efek ‘sudah lebih banyak yang ditulis‘ sepertinya berpengaruh. Ya iya, sayang saja kalau tiba tiba ditinggalin kan? 🙂 Tapi ya semoga ke depannya lebih banyak tulisan yang berbobot, hehe, (dengan kata lain mengaku bahwa) selama ini banyak yang gak jelas sih. Continue reading “Semburat Rindu di Malam Iedul Adha”

TERHENTI!

.bahkan segersang apapun, akan ada yang ditakdirkan untuk tumbuh disana.
.bahkan segersang apapun, akan ada yang ditakdirkan untuk tumbuh disana. bahkan sesulit apapun, pasti ada jalan keluarnya.

Jika kau seorang penulis mungkin kau pernah berujar, “Setelah bagian ini, lalu apa lagi seterusnya ya?”
Pun seorang jurnalis, mungkin pernah berjibaku dalam pikir, “Peristiwa yang lalu dan sekarang, apakah sama?”
Dan seorang peneliti mungkin tentu saja disibukkan dengan pertanyaan, “Mengapa diperoleh hasil begini? Apa yang mempengaruhinya?”

Ya, dan adalah sebuah kewajaran ketika muncul berbagai pertanyaan dalam kehidupan ini, tentang apa pun itu. Nah, yang menarik adalah bahwa terkadang tiba-tiba saja seluruh ‘jawaban atas pertanyaan tadi menghilang bagai ditelan bumi’, gak tau dimana, dan tak bisa ditemukan dimanapun. Pernah gak merasa begitu? Continue reading “TERHENTI!”

Sebesi Taklah Sepi

Setelah mencoba Mengenang Nenek Moyang, dan terbawa perasaan ke sana sini (baper kalo kata Sarah sama Mila, sang queens of fieldcourse), akhirnya merapatlah kapal yang kami tumpangi di Pulau Sebesi. Butuh waktu selama dua sampai tiga jam-an lah. Perjalanan dapat dinikmati sekitar 25 menit di awal dan 20 menit menjelang tiba. Ditengah tengah perjalanan, terlempar ke alam bawah sadar.

Pulau Sebesi dari kejauhan. Diselimuti awan, disandari buih lautan
Pulau Sebesi dari kejauhan. Diselimuti awan, disandari buih lautan

Membuncah rasa bahagia, mengalir rasa syukur, dan terbayar rasa lelah. Ah, permulaan yang indah. Tak menunggu lama, kami bergegas mengangkat barang bawaan masing-masing. Ujar dalam Melayu, ‘terhegeh hegeh’ juga lah diri ini memanggul carrier (Sponsored by Tri Susanti, anak Silvikultur 47 IPB, hehe. Btw sleeping bag juga pinjem dari anak ini). Bukan apa apa, masalahnya, ini pertama kali dah bawa bawa barang dengan carrier (Kagum berat sama Nisa yang kebiasa naik gunung dan bawa barang banyak). Continue reading “Sebesi Taklah Sepi”

Mengenang Nenek Moyang

Hai hari, katamu, nenek moyang kita seorang pelaut

Maka semestinya aku merindukan pantai

Pun sepatutnya kau tersenyum memandang deburan ombak

Lalu kita bersama meresapi kulikan elang

Dan membiarkan panasnya matahari merasa iri

DSCF0232

Dan, dan begitulah sepenggal puisi yang lahir di hari kedua perjalananku. Agustus lalu seperti kau tau, telah terisi dengan perjalanan terjauh sepanjang 2015 ini (sejauh ini :D). Aku menceritakan pengantar kisah ini di postingan sebelumnya Hi August!, sudah baca? 😀

Ya, berhubung terjadwal liburan semester yang cukup panjang, maka aku dan teman teman sekelas Entomologi merencanakan untuk bergabung di Field Course yang diadakan IPB dan University of Vienna (sekilas cerita resminya di sini, hehe). Nah, namun yang namanya manusia cuma bisa berencana, hanya aku dan Kak Anda yang benar benar mendaftar di acara ini dan Dika yang memang harus ikut karena menjadi panitia acara. Sementara Kak Juwi, Kak Eka ditodong segera memulai penelitian tesis mereka oleh pembimbing tercintah dan Kak Weni terjerembab di rumahnya alias tak mau kemana mana dulu sampai liburan benar benar habis, haduh. Continue reading “Mengenang Nenek Moyang”

1001 kata: Cerita tentang Abah

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau malah sedih. Ya, entah karena setting-an apanya, sound di leptopku tak menghasilkan suara normal layaknya leptop lain. Suara Opick saja, tak ada yang kenal saat kuputar nasyidnya di kajian muslimah beberapa waktu lalu, “Siapa yang nyanyi Rin, ini lagu Opick kan?”. Yah, singkat kata, semerdu apapun suara penyanyi yang lagunya ter-save di playlistku, kini akan terdengar mencicit, terjepit.

Lalu aku bersyukur untuk apa? Ya, aku bersyukur karena secara kebetulan kondisi ini menolongku. Menolongku untuk ‘terjaga’ dari keharubiruan yang mendalam (apa pula bahasa ku ini!) selama menulis cerita ini. Cerita tentang Abah. Continue reading “1001 kata: Cerita tentang Abah”