1001 kata: Cerita tentang Abah

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau malah sedih. Ya, entah karena setting-an apanya, sound di leptopku tak menghasilkan suara normal layaknya leptop lain. Suara Opick saja, tak ada yang kenal saat kuputar nasyidnya di kajian muslimah beberapa waktu lalu, “Siapa yang nyanyi Rin, ini lagu Opick kan?”. Yah, singkat kata, semerdu apapun suara penyanyi yang lagunya ter-save di playlistku, kini akan terdengar mencicit, terjepit.

Lalu aku bersyukur untuk apa? Ya, aku bersyukur karena secara kebetulan kondisi ini menolongku. Menolongku untuk ‘terjaga’ dari keharubiruan yang mendalam (apa pula bahasa ku ini!) selama menulis cerita ini. Cerita tentang Abah.

Yap, tepat beberapa hari lalu (06 September), Abah berulang tahun. Yeay, via grup whatsapp keluarga, kami anak anaknya, saling kirim kirim doa ke Abah. Kami semua, memang terpisah oleh jarak. Sebelumnya, mungkin aku pernah cerita, bahwa Abah dan Mamakku tinggal di Tg.Raya, desa kecil tempat mereka mengajar. Adekku, berada di Pekanbaru, Abang Aulia di Papua, sementara aku dan Kak Dina di Bogor. Jadi, kalau tidak bertelpon-an, kami akan saling ngobrol lewat pesan seperti ini. Ya, benar kata orang orang, barulah terasa teramat cinta, saat mata terhalang pandang, aih.

Aku yakin setiap orang memiliki cerita unik tentang kebersamaan mereka dengan keluarganya. Siapapun itu. Termasuk aku dengan Abahku. Aku kecil dibesarkan dengan Abahku yang sangat tegas, dulu sekali, aku menggolongkkan Abah sebagai seorang pemarah. Pemarah sekali. Bahkan teman teman SD-ku, jarang yang mau bermain bersamaku di rumah kalau ada Abah. “Eh eh, balek yok, bapak guru datang”. Mungkin karena begitulah mindset ‘guru’ masa itu, kalau tak pemarah, apa murid akan menurut?

Seiring bertambahnya usia, aku tau Abah marah untuk apa dan karena apa. Abah marah kalau aku tak hapal nama ibukota kecamatan, kalau aku tak pandai baca al quran, kalau aku berkelahi dengan adek, kalau aku berkelahi dengan temanku, kalau aku tak pandai berenang, kalau aku malas sikat gigi sebelum tidur, kalau aku malas makan. Abah akan marah kalau aku berbuat demikian.

Tapi, tak usah tunggu 1 jam, 30 menit, karena bahkan kurang dari itu, kau tak akan lihat apa apa kecuali rasa sayang yang besar. Setelah Abah marah, ia akan melupakan semuanya kembali. Sirna dan hilang begitu saja. Ia akan kembali bercerita padaku, ia akan kembali bermain denganku, ia akan kembali melakukan banyak hal denganku.

Saat aku harus melanjutkan sekolah menengah, aku pindah ke Tembilahan. Imbasnya, aku berpisah dengan Abah dan Mamak. Mereka akan mengunjungiku satu bulan sekali, kecuali jika ada sesuatu kepentingan, mereka akan lebih sering datang.

Maka setiap aku pulang sekolah, lalu bertemu Abah, aku akan menjadi anak kecil selamanya. Abah akan terkekeh mendengar cerita, cerita yang padahal selalu sama setiap aku pulang. Aku bercerita tentang temanku yang terlambat ke sekolah, temanku yang dapat nilai jelek dan dimarahi guru, temanku yang kentut di kelas. Aku akan cerita apa yang kulihat di jalan, lewat mana kukayuh sepedaku, jajan apa di sekolah, apa yang digosipkan guru perempuan, apa yang ditertawakan ibu kantin, apapun. Aku bahkan menceritakan semua hal dari aku berangkat hingga aku pulang dan bertemu Abah. Dan Abah akan selalu sama setiap hari, mendengarkanku, memberi komentar, bertanya, memberi saran, menertawai, bahkan akan bertanya tentang satu topik jika aku belum bercerita tentang itu, “Terus kalau hari ini, si ini gimana? Dia masih suka kentut? Yang suka main ini, dia gimana hari ini?”,bla bla bla, lalu aku akan mulai bercerita lagi.

Adakalanya aku dan Abah akan mendadak bertarung silat di rumah. Abah selalu menjadi pemenang dengan berbuat curang dan menjepit tanganku di keteknya pada akhir sesi. Maka aku akan berteriak minta lepaskan dan Abah akan tertawa sejadi jadinya. Adakalanya Abah mengerjai dengan mengentutiku (well ini sangat jorok mungkin bagi banyak orang, tapi entah kenapa kami akan tertawa bersama dalam momen begini). Bahkan pernah pula, Abah menugasiku mencabut bulu ketek Abah dan Abah membayarku dengan uang (Well lagi lagi agak aneh, tapi kami akan tertawa bersama setelahnya).

Lalu adakalanya, Abah yang menjadi pengisi cerita. Maka aku akan menjadi pendengar yang baik. Abah akan bercerita tentang masa kecil Abah, masa Abah sekolah, masa Abah bertemu Mamak, masa Abah dengan guru-guru dan teman temannya, semua, semuanya. Sampai mungkin aku hapal dengan alur dan tokoh di dalamnya. Maka aku akan berkomentar, bertanya, dan menertawai hingga kami terpingkal pingkal bersama.

Pernah suatu sore, Abah memintaku memegang ujung hidungnya. Aku pikir ada apa, ternyata hidung Abah memiliki bentuk yang unik, ada belahan di bagian ujungnya. Lalu kupegang hidungku, dan hualaa, hidungku juga sama. Ya, sesederhana itu bahasa Abah. Sesederhana itu untuk membuatku rindu kembali.

Cerita tentang Abah yang tak mungkin kulupa lainnya adalah tentang berurai air mata. Kau tau, meski Abahku tegas, Abah mudah sekali tersentuh dan menangis. Jika bercerita tentang masa kecilnya yang sulit, Abah akan menangis dan aku pun menangis. Jika melihat orang kesusahan dan berita sedih di tv, Abah akan menangis dan aku pun akan menangis. Bahkan kau mungkin tak pernah bayangkan, saat menonton sinetron di rumah, kami semua pernah menangis bersama. Kami menggelari keluarga kami sebagai, ‘keluarga intel bebene banyu mata’, siapa-pun yang menangis terlebih dahulu dalam momen bersama, tak ayal akan menjadi pembuka momen nangis bersama.

Dari Abah lah aku belajar bangun sholat Subuh. Sebelum berangkat ke masjid, Abah akan mengumandangkan ‘ashsholatu khairumminannauum’ di sampingku. Meski tak langsung mengubahku, aku masih merasakan didikan itu. Dari Abah lah aku belajar keras membela kebenaran dan tak ‘berkecil hati’ jika berbeda asal kita benar. Dari Abah lah aku dapat tempaan untuk berani dan percaya diri dengan kemampuanku. Dari Abah lah aku belajar untuk terus berjuang.

Saat akan meninggalkanku di Bogor, Abah menepuk pundakku sebelum memelukku, “Ni, sekarang Abah dan Mamak sudah jauh. Kau harus kuat. Tak ada yang bisa menolong selain Allah.”

Maka, maka setelah kini berpuluh tahun aku hidup dan dibesarkan olehnya, gelar ‘pemarah’, tak pernah lagi terbersit dalam benakku. Aku hanya belum tau kala itu.

Aku pernah dapatkan quote dari sebuah tulisan, “Jika seorang anak ingin menjadi seperti orang tuanya, maka orang tua itu adalah orang tua yang sukses”. Aku tau orang tuaku tak sempurna, tetapi mereka telah menjadi contoh yang baik bagiku. Maka, andai ribuan terima kasih dapat kujalin, belumlah akan membayar apa apa. Andai pundi pundi uang kupersembahkan, tak jua sebanding harganya. Karena mereka telah meng-hidup-kan aku yang dititipkan oleh Allah pada mereka. Maka, apa yang bisa dibayar jika hidup adalah penukarnya?

Maka, selamat ulang tahun Abah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan berkahnya selalu untuk Abah. Terima kasih karena telah memberikan segenap cinta. Terima kasih karena telah mengenalkan Allah yang membuatku kian cinta. Terima kasih telah mengajariku iman dan Islam. Terima kasih telah menjadi Ayah terbaik bagiku. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Anakmu,

Arini

*Tips menulis: Jika kau menulis dengan iringan music, terkadang membantu, kecuali jika musiknya dari leptopku. Kesan sendu, bahagia, romantic, hanya akan terdengar lucu.

*Tapi selucu apapun terdengarnya, aku tetap saja akan menangis jika memang ide ceritanya bersedih. Jadi secara utuh, aku telah menangis hingga mataku sembap dan ingusan selama menuliskan cerita ini.

*Ya mau bagaimana lagi? Kalau tak (gampang) menangis, ya bukan Arini namanya 😀 (bukan anak Abah namanya)

*Tapi nangis bukan cengeng loh ya! (Apa sih ini?)

*Tunggu cerita tentang Mamak ya. You know, di balik Abah yang hebat, ada Mamak yang hebat. Yeay!

IMG_0480
Abah :’)
WP_20131130_038
Abah dan Mamak 🙂
WP_20131202_046
Abah dan Mamak
DSC02074
Maafkan ekspresi saya 😦
Camera360_2013_11_29_033532
Abah dan Mamak di IPB 😀
Advertisements

One thought on “1001 kata: Cerita tentang Abah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s