Mengenang Nenek Moyang

Hai hari, katamu, nenek moyang kita seorang pelaut

Maka semestinya aku merindukan pantai

Pun sepatutnya kau tersenyum memandang deburan ombak

Lalu kita bersama meresapi kulikan elang

Dan membiarkan panasnya matahari merasa iri

DSCF0232

Dan, dan begitulah sepenggal puisi yang lahir di hari kedua perjalananku. Agustus lalu seperti kau tau, telah terisi dengan perjalanan terjauh sepanjang 2015 ini (sejauh ini :D). Aku menceritakan pengantar kisah ini di postingan sebelumnya Hi August!, sudah baca? πŸ˜€

Ya, berhubung terjadwal liburan semester yang cukup panjang, maka aku dan teman teman sekelas Entomologi merencanakan untuk bergabung di Field Course yang diadakan IPB dan University of Vienna (sekilas cerita resminya di sini, hehe). Nah, namun yang namanya manusia cuma bisa berencana, hanya aku dan Kak Anda yang benar benar mendaftar di acara ini dan Dika yang memang harus ikut karena menjadi panitia acara. Sementara Kak Juwi, Kak Eka ditodong segera memulai penelitian tesis mereka oleh pembimbing tercintah dan Kak Weni terjerembab di rumahnya alias tak mau kemana mana dulu sampai liburan benar benar habis, haduh.

Oke, akhirnya aku dan teman-teman peserta lainnya berangkat pada Jumat malam dengan menggunakan bis dari Terminal Baranangsiang, Bogor. Karena perjalanan ini malam hari, tak ada yang bisa kuceritakan karena aku tertidur saja di bus, hehe. Singkat kisahnya, aku sadar sadar bus mengantri masuk ke kapal untuk menyeberang. Hampir satu hingga dua jam rasanya baru bus kami benar benar masuk di kapal dan kami pun turun untuk masuk ke kapal.

Dan yeay, ini pertama kalinya aku naik ke kapal penyeberangan sebesar ini. Hehe, agak agak norak dan memalukan ya. Mohon maklum, sebelumnya memang belum pernah pergi pergi dengan kapal. Meski tinggal di pesisir, ya pernah naik speadboat dan kapal tanggung berisi manusia saja.

Jadilah, kami menyeberang menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung malam itu. Alhamdulillah aku tak mabuk, meski awalnya ya khawatir juga. Carolina, salah seorang mahasiswi dari Vienna, sepertinya menjadi satu satunya peserta yang tersiksa malam itu. Aku menyadari ia telah mabuk sejak di bus,saat itu ku tawarkan ia untuk menggunakan fresh care, tapi ia menolak. Katanya ia cuma butuh tidur, tapi apa daya, perjalanan yang masih panjang dan butuh energi fit, tak mampu dikesampingkan. Ia benar benar terlihat menderita di kapal kala itu. Untunglah tak lama kami mendapatkan ruang VIP (yeay, bahkan bisa menonton film segala) dan menikmati perjalanan (dengan tidur lagi).

Menjelang subuh, aku terbangun dan mencoba mengintip kapal yang memecah lautan. Tapi masih terlalu gelap, yang ada hanya kelap kelip lampu dari kapal lain. Akhirnya, setelah waktu Sholat Subuh masuk, Aku dan Kak Anda beserta peserta muslim lainnya beranjak ke mushalla yang tersedia. Aku sholat dengan segenap perasaan bahagia, terutama karena ini pengalaman pertama bersujud pada Allah di atas kapal besar dan di tengah lautan.

Selepas sholat, kami mencoba mengelilingi kapal. Dan masyaAllah indah sekali bumi Allah pagi ini. Aku melihat buih kecil yang tertinggal di belakang. Semburat merah tampak mulai jelas, menyingsing. Ah, aku tak tau bagaimana rupaku dengan segala ke-excited-an pagi itu. Mungkin bagi orang lain, semua itu biasa saja. Hehe, sekali lagi maklum, mohon maklum karena ini kali pertama bagiku.

DSCF0205

Tak ada yang bisa kulafalkan dalam pikiranku kala itu selain syukur dan pujian pada Allah. Betapa hebat dan indah lukisanNya. Betapa tinggi ilmuNya. Dan betapa kecilnya manusia di tengah keMahabesaran Allah.

Tak pernah senyaman ini tersenyum

Tak pernah senyaman ini menatap

Tak pernah senyaman ini

Mungkin karena aku tlah jatuh cinta, padaMu

DSCF0220
Dan setelah kapal merapat, kami kembali menempuh perjalanan menggunakan bus menuju Desa Canti sebelum berangkat ke Pulau Sebesi. Wangi kampung nenek moyang (yang seorang pelaut), mulai tercium. Deburan ombak mulai mengirama di tengah aktivitas masyarakat pelabuhan. Aku dan teman-teman merapikan barang barang setelah itu.

DSCF0263

Yeah, perjalanan memang baru dimulai. Tapi aku telah menemukan gunungan pelajaran kehidupan. Aku melihat kesenjangan ekonomi di tengah kayanya alam. Aku melihat buruknya infrastruktur di tengah indahnya negeri. Aku melihat mata kecil terpana, di tengah majunya dunia. Ah.

DSCF0252 DSCF0246

(masih bersambung)

Advertisements

One thought on “Mengenang Nenek Moyang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s