TERHENTI!

.bahkan segersang apapun, akan ada yang ditakdirkan untuk tumbuh disana.
.bahkan segersang apapun, akan ada yang ditakdirkan untuk tumbuh disana. bahkan sesulit apapun, pasti ada jalan keluarnya.

Jika kau seorang penulis mungkin kau pernah berujar, “Setelah bagian ini, lalu apa lagi seterusnya ya?”
Pun seorang jurnalis, mungkin pernah berjibaku dalam pikir, “Peristiwa yang lalu dan sekarang, apakah sama?”
Dan seorang peneliti mungkin tentu saja disibukkan dengan pertanyaan, “Mengapa diperoleh hasil begini? Apa yang mempengaruhinya?”

Ya, dan adalah sebuah kewajaran ketika muncul berbagai pertanyaan dalam kehidupan ini, tentang apa pun itu. Nah, yang menarik adalah bahwa terkadang tiba-tiba saja seluruh ‘jawaban atas pertanyaan tadi menghilang bagai ditelan bumi’, gak tau dimana, dan tak bisa ditemukan dimanapun. Pernah gak merasa begitu?

Dan aku pribadi menamainya MOMEN TERHENTI. Entahlah, kadang dalam menghadapi sesuatu (baik mengerjakan tugas bagi seorang mahasiswa, menyiapkan acara bagi seorang mahasiswa aktivis, menjalankan penelitian bagi mahasiswa tingkat akhir, ini mahasiswa MODE:ON) mendadak mati langkah. Ada sebuah kebingungan_yang untuk menggambarkan kebingungannya saja susah_apalagi menjawabnya, hehe.

Nah biasanya, pada titik ini seseorang itu akan mudah emosi, mudah tersinggung, sensitif. Kalau dia pendiam, ya paling dia memilih diam di kamar kosan, gak ngapa ngapain, nonton barangkali. Bagi yang lebih gaul sedikit, mungkin akan jalan jalan kemana, menghabiskan waktu (=lari dari kebingungan) dan berupaya melupakan segenap kebingungannya. Yang lebih parah, mungkin ada yang ‘kabur’ dari kuliah, ‘kabur’ dari organisasi, ‘kabur’ dari dosen pembimbing. Dan keparahan di atas itu, ada yang kabur dari dunia: bunuh diri (saking katanya jalan manapun sudah buntu). Naudzubillah.

Jadi tulisan ini mau dibawa kemana? 

Well, ceritanya suatu hari aku bertanya pada Abang, “Bang, pernah gak sih Abang merasa bingung dengan penyakit pasien yang Abang tangani? Misalnya, hari ini datang pasien berobat, terus Abang sebenarnya tau penjelasan tentang penyakitnya, tapi lupa nama penyakit itu apa? Bahkan lupa nama obatnya?”

“Ya, pernah.”

“Terus gimana? Itu kan nyangkut manusia lain. Kalo sakitnya parah gimana?”

“Ya memang. Tapi Abang sudah tau dimana Abang bisa menemukan jawabannya. Dimana bertanyanya. Jadi, kalaupun sampai bingung, Abang tahu dimana harus menyusuri jawaban kebingungan itu.”

Dan yup sampai disini, setidaknya itulah intinya. Bahwa, sejatinya manusia itu selalu punya tempat dimana dia akan mendapati jawaban atas pertanyaannya. Hanya, berjuang untuk mengalahkan keputusasaan itu yang sering ditakuti (atau lebih karena malas?). Kebuntuan kemudian dihakimi sebagai titik akhir. Bahkan bisa jadi jawaban itu sebentar lagi akan ditemui, tapi kitanya sudah terlanjur menyerah, terlanjur menyatakan kalah.

Padahal, mengapa kita tidak mencoba mendudukkan ‘kebuntuan’ itu sebagai sebuah tantangan? Setidaknya berpikir, “Kenapa ya aku belum bisa memecahkan masalah ini? Apa ya yang kurang kupahami? Apa ya yang belum kucoba? Wow, ternyata ada yang belum terungkap ya dalam persoalan ini!”

Maka dengan begini, kita pun dengan semangat (dan pemikiran terbuka) akan menata apa yang bisa kita usahakan. Siapa yang mengerti masalah kita, dimana kita bisa bertanya, siapa yang bisa kita temui, siapa yang bisa kita mintai tolong, dan lain sebagainya. Bukannya galau, lalu lari. Bukannya lari lalu sembunyi. Bukannya sembunyi, lalu menimbulkan masalah lain lagi. Bukan.

Atau mengapa tidak kita posisikan ‘kebuntuan’ itu sebagai ujian untuk naik kelas? Setidaknya berpikir, “Kenapa aku yang diuji begini? Kenapa bukan orang lain? Oh, mungkin karena aku yang layak.” Maka dengan begini, kita pun dengan penuh kesabaran (dan keihklasan) akan bertahan dan berupaya lagi.

Ya, dan kunci terakhir adalah kesadaran (iman) itu tentu saja. Bahwa Pencipta manusia tidaklah pernah memberikan sebuah ‘kesulitan’ tanpa dibarengi ‘kemudahan demi kemudahan’. Pertanyaannya, kita sudah meminta tolong padaNya atau belum? Kita sudah bertanya tentang jalan keluar padaNya atau belum?

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (Al Baqarah:45)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s