Bukan Buah Simalakama

Tak semua kondisi bisa diibaratkan dengan mudah. Di zaman serba mungkin ini, berbagai hal nyatanya harus dirunut benar-benar agar tak tergeneralisir. Gampangnya, asal tuduh jadi tak bisa (dan memang tak boleh). Dan di lain sisi, sebuah peribahasa untuk mengibaratkan sesuatu pun, selalu punya batasan. Mana yang benar merupakan maknanya, mana yang bukan dan tak bisa dipaksa sama.

Aih, dalem 🙂

Perpustakaan IPB
‘menyepi sendiri di sini’

Ya, setelah beberapa hari meredam keinginan menuangkan tulisan ini segera, akhirnya hari ini terluapkan sudah. Well kadang, ada banyak hal yang kita rencanakan, tapi berbagai pilihan akan kita temui. Dan untuk beberapa hari lalu (dan mungkin bulan bulan ke depan), mengisi blog ini masih harus menjadi prioritas kesekian mengingat rentetan amanah lain yang harus didahulukan. Nah, mumpung sekarang Allah kasih keluangan, ayooo kita nulis 😀

Well, jadi paragraf pembuka di atas itu sekarang benar-benar menggambarkan perasaan saya sekarang. Perasaan saya saat menemukan beraneka ragam kejadian terkait pelecehan terhadap perempuan. Yang beberapa waktu lalu, terjadi di depan mata saya, di sekeliling saya. Yah, pada faktanya memang, yang saya temui mungkin bukanlah sebuah bentuk pelecehan yang amat sangat membelalakkan mata. Atau  bukan pula tindak pemer*osaan dan semacam itu memang. Tapi bukankah pelecehan pun tak semata tentang itu?

Dan berawal dari fakta yang saya temui, saya berpendapat bahwa perempuan hari ini sangat rentan berhadapan dengan pelecehan. Di mana saja, saat menaiki kenderaan umum, di kampus atau sekolah, dan tentunya di dunia kerja, atau dimana saja saat terjadi interaksi laki laki dan perempuan.

Saya bertemu dengan seorang teteh pedagang di sebuah tempat makan. Pada awalnya saya yang datang hanya ingin makan, ya tidak berpikir apa apa. Sampai saya melihat bagaimana teteh itu diperlakukan (dilecehkan menurut saya) oleh pedagang lain yang laki laki sehabis mengantarkan makanan saya. Well, teteh itu dipegang (salah satu bagian) tubuhnya dengan gampangnya oleh seorang laki laki yang juga berdagang di sana. Saya melihat teteh itu marah dan pergi menjauh. Tapi saya juga menyadari bahwa kondisi dan kejadian seperti itu segera dianggap sebagai lelucon (?) oleh sebagian di antara mereka.

Jujur saja, saya kehabisan selera apapun kala itu kecuali rasa marah dan ingin menangis. Tapi entahlah apa ada maknanya atau tidak. Hei, coba bayangkan saja diri kita yang dibegitukan? Coba bayangkan, sampai kapan teteh itu akan menghadapi lelucon (?) semacam itu? Sampai kapan? Kalau bekerja disana adalah satu satunya pilihan baginya, dia bisa apa? Marah di tengah tertawa para laki laki kurang a*ar itu? Apa ada gunanya?

Dan, dan memang pilihan harus bekerja kadang memaksa perempuan untuk ‘diam’, meski diperlakukan tak senonoh oleh kaum adam. Mereka seakan membiarkan dirinya menelan rasa pahit demi menghidupi diri ataupun keluarga mereka. Ya, ibarat memakan buah Simalakama, tak bekerja, habis keluarga, didiamkan dan diterima, lenyap kehormatan dirinya. Bisa pilih yang mana?

Saya tau, jika saya membahas tentang ‘kehormatan’ kaum hawa, gampang saja dibalikkan. Hei Arini, hari ini nemuin perempuan yang menjajakan kehormatan dirinya juga banyak kok. Yang ridho dan bangga (?) dirinya dicuitin sama laki laki hidung belang, atau dipuji cantik, dibelai rambutnya, dan seterusnya juga banyak kok. Bahkan kadang karena pakaian yang serba kurang bahan itu loh yang bikin laki laki jadi muncul niat menggoda. Inget inget dong pesan Bang Napi, kejahatan itu terjadi bukan cuma karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan. Kalo ga ada yang ngasih, ga diladenin kali. Well, mungkin begitu balasan atas ketidakadilan pembahasan ini.

gelap
Gelap lihatku, kapan akan berganti?

Well, disinilah saya mencoba meraba persoalan sesungguhnya. Ya, di satu sisi, bahwa ada perempuan yang tidak menghargai kehormatan dirinya (dengan berbagai tindakan melanggar syariah Allah), memang benar adanya. Pun bahwa ada laki laki yang tidak takut melecehkan wanita (yang padahal seumpama ibu dan saudari perempuannya), itu ada.

Di sisi lain, yang juga sangat berperan (menurut saya) adalah konsep perempuan bekerja. Hari ini, di tengah guncangan ekonomi dan belitan kesusahan hidup, menuntut para perempuan untuk menyelamatkan kehidupan keluarga. Bekerja di tempat yang baik, ya mungkin masih oke. Tapi yang harus bekerja di tempat yang tak layak bagaimana? Ya, mau gak mau mereka harus masuk di sana dan memperlebar kemungkinan mereka berhadapan dengan ganasnya dunia. Mereka harus rela pergi pagi pulang malam. Harus rela memangkas sebagian besar waktu mereka untuk anak anak. Harus rela menukar kewajiban mereka sebagai ummu wa rabbatun bayt dengan sepenggal niat: demi keluarga.

Baiklah, bagi saya, sisi pertama menjadikan alasan kuat, itulah kenapa keimanan bersama di antara masyarakat itu mutlak diperlukan. Bahwa keimanan itu harus diupayakan bersama. Karena buktinya, kalau ada yang tidak beriman, dia mengganggu kehidupan orang lain kan? Dan andai laki laki itu beriman, ia akan menjaga pandangan dan sikapnya terhadap perempuan. Ia akan melindungi bahkan berada di garda terdepan untuk membela saudarinya jika dihinakan. Dan andai perempuan itu beriman, ia akan menjaga dirinya dengan menerapkan syariah Allah atasnya, menutup auratnya, menjaga sikap dan lisannya, menghindarkan saudaranya dari fitnah dunia.

Dan sisi kedua, menjadikan alasan kuat bahwa peran negara itu sangat penting. Bahwa menyediakan lapangan pekerjaan serta memberikan kemampuan bagi para laki laki untuk berdaya, adalah keharusan. Karena laki laki adalah kepala keluarga yang wajib menafkahi keluarganya. Yang andai tak ada lagi, kewajiban itu jatuh pada tetangganya, lalu pada negara. Karena sejatinya, taklah pernah tercatat kewajiban perempuan untuk mencari nafkah keluarga. Namun, jikapun seorang perempuan memilih bekerja dan berkarya, negara harus menjamin kehormatan diri perempuan itu terjaga dan peran utamanya sebagai pencetak generasi dan manager rumah tangga, tetap terlaksana. Ah, indahnya.

Biarkan mentari bersinar
Aku tak ingin meminta, tapi kau memberi, ah
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s