backspace

Backspace

Sesekali kadang ku biarkan tombol backspace tersudut sepi, sendiri sesaat. Lalu bebas kupandangi huruf huruf yang beradu, menyatukan arti. Aku ingin mendewasakan diri. Bahwa tak selamanya sesuatu itu bisa mudah dihapus. Adakalanya, ia harus ditatap lama. Nanar, terasakan. Tapi kau dapat belajar setelahnya.

Di dunia ini, ada kata ‘maaf, menyesal, berhenti, cukup, masa lalu, tak sengaja, dulu’ atau padanan abjad lain yang dapat kau utarakan tepat di mukaku. Sejak merona merah sang mentari di ufuk timur, hingga malu malu merapat ke selimut barat, apa yang berubah? Tak ada. Masih itu itu saja ulahan manusia. Ulahanku, lirik lirik lakumu.

Aku pernah mengingat ingat dosa kala ku kecil. Hari itu, aku menangis di sudut kelambu. Bangun pagi sambil terseguk seguk, ingat telah berbohong pada ibu. Entah apa yang kubohongkan masa itu, aku pun tak ingat. Yang jelas, aku terbangun dan menangis, karena bermimpi ‘masuk neraka’ gara gara berdusta. Benar benar mimpi neraka? Ya, jangan ditanya, karena manalah tau aku ini. Yang cuma tersisa diingatanku, aku mimpi berada di dalam ruangan gelap, sendirian, dan itu semua adalah hukuman karena aku berbohong pada Ibuku. Bayangkan, di umur semacam itu (masih sampai sekarang), aku yang takut gelap, menginterpretasikan tentang di kuburan nanti akan sendiri gelap gelapan, pisah sama mamak dan abah. Blas. Menakutkan, menghentikan.

Tapi itu aku kecil, kita kecil, anak kecil. Andai pun ada gunungan salah, pena Raqid Atid terangkat, kertasnya masih putih, bersih. Tak masalah. Belum perlu backspace, soalan belumlah tertulis.

Tapi pasca beralih gelar anak anak menjadi baligh, mulailah hitung menghitung. Pahala dicatat, dosa disalin, untuk nanti dikalkulasi. Kita semua menjadi takut, atau sebagian kita mulai tersadar, bahkan sebagian kecil kian waspada.

Semacam takut kalau kalau belumlah sempat tombol ‘backspace’ itu tertekan, telah habis baterai komputer. Lalu tersimpanlah segala cerita yang tertuang. Terpendam kekal, kaku. Komputer itu sejatinya dapat di-recharge. Berkebalikan dengan usia yang berjalan pada qodhonya.

Maka, sesempat untuk membaca ulang, ulanglah baca. Barangkali tersalah kata, mungkin terselip bangga, siapa tau tertukar makna. Biar jika sempat, backspace masih bisa difungsikan. Lalu huruf huruf akan berirama menjadi kata lain, hingga terungkap paragraf kehidupan lain.

Itu, jika sempat.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah terlebih baik bagi orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

[Al-An’am: 32]

*Photo diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s