[Bukan] Trauma

IMG-20121021-01546
Percayalah, photo ini tidak ada kaitannya dengan cerita yang tertulis 😀

Sebenarnya, aku merasa kata trauma terlalu berlebihan. Toh cuma sekedar tak punya nyali (lagi) membawa sepeda motor ke jalan raya. Tak berani (lagi) karena dulu kala pernah mengalami tabrakan.

Jelang pukul 16.00 WIB hari itu, aku pulang ke rumah. Jalanan lurus yang biasanya ramai, kini sepi. Cuma sempat terpapas dua dan tiga motor, mungkin juga sepeda. Tak ada suara bising. Tak lama, aku akan tiba di gang menuju rumah. Tapi untuk masuk ke gang, aku harus belok ke kanan, so sontak ku tatap cermin kecil di stang kanan. Wah, kosong banget jalanan. Dan segeralah aku menikung.

Blas!

Aku cuma ingat tentang aspal yang berputar di depan mukaku. Entah selang beberapa detik, aku sudah berada di tengah jalan raya dan motorku tidak ada. Dan entah selang berapa detik juga, sudah banyak yang berkerubung di sekelilingku, tidak tau dari mana datangnya mereka. Segera silih berganti rasanya mereka bertanya tentang kondisiku_yang aku pun tak tau_sembari berusaha mengangkatku berdiri.

“Motor saya tadi ada dimana ya?”

Blas!

Aku cuma mendengar mereka kisruh, kesal mungkin, aku yang terdampar di jalanan ini tak menyadari diri sendiri, tapi malah bertanya tentang motor. “Itu disana dibawa ke pinggir”, tegas seorang bapak, “Kamu luka tidak?”, sambungnya.

Hah, sontak aku ingat diriku. Sekarang aku sadar betapa tanganku, bahuku, bibirku, bergetar. Lututku lemas, dan aku hanya melihat rembesan merah di ujung kaki. Oh.

Singkat cerita, aku tau aku telah bertabrakan dengan seorang laki laki yang ternyata seorang tentara, yang mengendari motor gede (aku sih biasanya menyebut itu, motor rx king, entah apa maksudnya). Kata tentara itu, dia sendiri merasa kaget melihat aku menikung tanpa memberi aba aba dan langsung menyeberang, padahal saat itu dia membunyikan klakson. Aku ya juga bingung, ku bilang, aku menyadari jalanan itu sepi dan memastikan tidak ada siapa siapa di belakang. Dan sepersekian detik, tiba tiba saja sudah terjadi semuanya.

Bapak tentara itu bingung, lah akunya juga bingung, tapi dia langsung berinisiatif membawaku ke dokter. Tapi berhubung kaki ini sudah bisa berdiri dengan pincang, aku yakin bahwa tidak ada luka serius semacam patah, mungkin cuma shock. Dia setuju dan mengantarku pulang ke rumah.

Di rumah Abah menyambutku dengan kaget. Dibuka sedikit kisah pengantar pelan pelan, ya Abah mafhum, namanya musibah. Aku tetap berobat tapi diantar oleh Abah, pak tentara pulang dengan memastikan bahwa dia akan bertanggungjawab untuk pengobatan dan perbaikan motor. Abah menolak dan mengatakan terima kasih tapi tidak perlu karena beliaupun tentu tidak menginginkan ini, anggaplah musibah saja.

Dan cukuplah beberapa hari itu aku merasakan ngilu sana sini, memar yang memberi cap, dan semacam kulit terkoyak. Tergopoh gopoh jika mau ruku dan sujud, sakit semua.

Ya, alhamdulillah hanya itu dan kemudian aku sembuh. Tapi aku tak pernah lagi berani mengendarai motor pasca kejadian itu. Pernah sesekali ku coba, selalu rasanya terbayang gaduh di sekelilingku, lalu aku melihat aspal begitu dekat dan, sudah, aku berhenti sampai disana.

Sampai hari ini. Sampai hari ini setelah bertahun tahun lamanya.

Setiap kali orang berkata, “Belajar gih Rin sana naik motor, biar gampang kemana mana”, selalu kujawab, “Rini bisa, tapi gak mau saja, mungkin nanti suatu saat.”

Setiap kali orang berkata, “Ah penakut amat sih, yang namanya naik motor ya begitu. Aku juga pernah jatuh, tabrakan, tapi ya berani lagi”, aku senyumi saja, karena mungkin memang benar aku penakut.

Aku tau aku terlalu penakut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s