Pemuda Yang Tak Sempurna

PemudaYa, belakangan ini aku kerap bertemu dengannya. Sekali dua, kulihat dia dikala pagi, berangkat seiring sang surya yang meninggi. Tak jarang pula, aku melihatnya menyela di antara pepohonan kampus yang menjadi demikian bersahabat karena menyaring sengatan matahari menjadi bulatan bulatan kecil di muka aspal. Lalu, jelang malam, jika ingatanku masih baik, ia juga pernah terpapas denganku, tak sengaja. 

Ya, pemuda yang tak sempurna itu. Aku ingin menceritakan padamu tentangnya. Secara tak sengaja, aku seperti telah jatuh hati. Melihatnya, seakan dulu pernah teramat lama bertemu. Dan mungkin, karena rasa penasaran yang memburu, entah bagaimana, kudapat jugalah sedikit rahasia dirinya. Meski belumlah hilang dahaga keingintahuanku akannya.

Ya, dari yang kudengar, konon di tempat tinggal pemuda itu, ada semacam keberuntungan yang akan disyukuri seluruh masyarakat di tempat itu. Bahwa roda kehidupan yang berputar telah mencatatkan sejarah bahwa tempat itu kini dihuni manusia seusia pemuda tadi. Itulah keberuntungan yang kusebut tadi. Rupanya, setiap manusia yang memasuki atau menjalani usia setaraf dengan itu, akan dianggap pahlawan. Mereka menjadi ukuran untuk majunya tempat tinggal mereka. Oh, begitukah?

Ya, dan aku mendadak bahagia. Aduh, betapa benar beruntung sekali ia. Tak banyak orang yang bisa menjadi ‘berguna’ bahkan hanya dengan begitu, punya usia muda. Ah, sungguh membuatku cemburu.

Ya, tapi tak lama, karena sejurus kemudian kebahagiaan ku sirna seketika. Kulihat tadi di televisi, ada segerombolan pemuda, yang terjerumus ke dunia narkoba. Duh, sesak nafasku. Mereka teman pemuda yang sedang kuceritakan inikah? Bagaimana bisa mereka berbuat begitu, tak banggakah mereka pada  titel yang tersemat di pundak mereka itu? Duh.

Ya, selalulah ada alasan untuk sebuah perbuatan. Alasan selalu ada, hanya yang paham, selalu tak semua. Seperti aku, yang tak mengerti tentang jawab mengapa. Menyeruduk sesaat pikirku, pemuda pemuda tadi, hidup semacam itu, main main bahkan membahayakan diri, mau masa depan macam mana? Di mana otak mereka? Duh, meradang radang syaraf di mana mana.

Ya, tapi cobalah kualihkan kembali pada cerita pemuda diawal tadi. Dari informasi yang kudapat, pemuda yang kuceritakan adalah pemuda yang baik. Dia tak lah pernah bersentuhan dengan narkoba dan barang haram lainnya, hhh, bersyukur banyak banyak hati ini. Malah yang kutahu, dia mencoba coba untuk serius mengisi usia mudanya. Dia memilih bergabung di organisasi rupanya.

Eh eh tapi, muncul pula kisruh di balik organisasi. Dari organisasi kakap tingkat dunia, hingga tingkat teri dipastikan ada ‘apa-apa’ di baliknya. Apalagi organisasi yang dimasuki pemuda, terlalu banyak memicu perbedaan, terlalu banyak kritik sana sini. Jangan coba coba masuk ke sana, cuma akan jadi manusia yang banyak wacana. Katanya. Ah, jadi bagaimana?

Eh eh, apa tak salah dengar aku? Pemuda tadi, akhirnya memilih diam di masjid. Terpaut di masjid hatinya. Tak menjual masa depan dengan barang haram, tak pula menjajakan diri jadi pewacana handal. Dia memilih Tuhan memutuskan. Alasan ‘Tuhan Maha Tahu, Tahu yang Terbaik’, jadi pamungkasnya. Aih, terperanjat hati ini. 

Eh eh tapi belum selesai terperanjatku, sudah muncul haluan lain. Hiruk pikuk orang berkata, ‘jadi pemuda yang benar lah, isi waktu dengan benar, belajar yang benar, biar berguna’. Bergegaslah kulihat pemuda tadi. Menurut pula rupanya dia. Kuulang phrase tadi, dia tak menjual masa depan dengan barang haram, tak pula menjajakan diri jadi pewacana handal, tak usah kritik sana sini, dan tak usah kubur diri dalam kakunya tiang tiang agama. Ia menjadi pembelajar di kelasnya. Apakah ini jalan hidup pemuda ini?

Oh, tapi ternyata tidak juga. Sekedar menjadi pembelajar di atas kertas, membuatnya baik terlihat. Tapi dunia nyata, keras memperlakukannya. Di kehidupan setelah dunia bernama kampus, dia menemukan sebenarnya arti hidup. Bisakah dia bertahan hanya dengan melahap puluhan buku buku? Kena salah lagi dia. Makanya, dulu belajar lah bangun relasi, makanya dulu banyak banyaklah ikut kegiatan ini itu, makanya makanya.

***

Dan dia, pemuda itu masih selalu disalahkan.

Jika dia diam, dianggap padam. Mana panasmu. 

Jika dia bicara, dianggap cuma wacana. Percuma, aksi dong yang nyata. 

Terlalu aktif ngaji, dianggap calon teroris yang lagi antri. Pasti sudah kena cuci otak, pengaruh ini, itu.

Dan dia, pemuda itu, bingung.

***

Mungkin yang paling enak adalah bertanya: Hei, siapa yang sesungguhnya sudah membuat kutub kutub hidup, yang membuat bingung semacam itu? Kenapa juga, pemuda pemuda itu harus terkutub kutub begitu? Sebenarnya, bisa jadi, mereka tak ingin berada pada kutub mereka? Yang pemakai narkoba, bisa jadi sebenarnya tak ingin, tapi tak bisa menolak. Iya kan?

Ah, tapi jalan pintas masih ada, dan yang paling enak adalah berharap saja ada kolaborasi yang baik: pemuda yang baik jalan hidupnya, baik hubungan dengan sesama, buah berorganisasi, bangun mampu diri, relasi sana sini, mapan kariernya, baik imannya. Dunia dapat, akhirat dapat. Perfecto, 100. Waw.

Ya, itu yang paling enak. Tapi pertanyaannya, seberapa banyak yang bisa mencapai jenjang itu? Bisakah mereka? Mungkin bisa. Seberapa banyak yang bisa? Jawabnya, tak tahu, yang pasti tak banyak. Karena mereka, pemuda yang tak sempurna.

Dan ya, aku hanya ingin berempati padanya. Pada pemuda yang tak sempurna itu. Bahkan di hari yang menjadi harinya ini. Hari ia bersumpah. Dia masih tak sempurna.

Oh, aku malu.

nb. di tempat tinggal pemuda tadi, bahkan menuliskan tentang ‘bingungnya’ para pemuda tadi pun, dianggap tak berguna.

nb. aku berharap pemuda tadi membaca.

nb. tapi tak dengan penduduk di negerinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s