Konsultasi Ala

konsul

Dan, dan insiden hilangnya dua potong ayam (belum dapat dipastikan apakah telah digoreng atau belum) milik ayah teman saya menjadi perbincangan menarik pagi ini. Dua potong ayam yang semestinya nikmat disantap, telah dicuri oleh keluarga kucing (maaf ralat: hanya ibu kucing) yang datang dengan kerelaan sendiri ke rumah teman saya tersebut. Kondisi kian buruk karena kehadiran keluarga kucing itu sebenarnya mendapat penolakan sejak awal, kini ditambah kasus pencurian, eksistensi mereka kian terancam. Bukti bahwa kasus ini memanas adalah ayah teman saya tidak bisa ditelpon oleh teman saya, dan teman saya diminta untuk segera pulang ke rumah.

Waw.

Oke, kisah pembuka di atas sejatinya adalah kisah nyata. Bukan mengada ada. Lalu kaitannya dengan inti tulisan adalah? Oke, gini deh. Kisah tadi, konyol mungkin untuk diperbincangkan dalam sebuah keluarga (umumnya). Tapi, nyatanya ada keluarga keluarga unik yang kedekatan di antara mereka sulit dirangkai dengan kata kata. Mereka memahami dalam makna yang lebih dalam, mengungkapkan peduli dalam laku yang tak dapat dinalar. Tentang ayam goreng dan kucing garong (maaf).

Dan ternyata, komunikasi dalam keluarga (yang tiap keluarga punya cirikhas), sekasus juga dengan komunikasi dengan dosen di kampus (yang tiap dosen juga punya cirikhas). Dan inilah poin utamanya. Ayam goreng dan kucing hanya pengantar pada kisah konsultasi kepada dosen ala ala mahasiswa. Fiuh.

Sebagai seorang mahasiswa (yang tentunya juga berkomunikasi dengan dosen), dari sanubari terdalam (cieh), saya merasa pembahasan tentang konsultasi ini sangat penting. Karena terkadang, ada banyak kegalauan mahasiswa lahir ‘hanya’ karena komunikasi. Khususnya komunikasi tak langsung alias via hp atau email, atau sosmed lainnya. Bahkan banyak loh tulisan yang lahir berkenaan dengan polemik ini.

Mungkin setiap satu skripsi/tesis berkorelasi positif dengan satu tulisan tentang dosen mereka.

Tiap mahasiswa unik, dan tiap dosen juga unik. Ada mahasiswa yang kesehariannya santai, sampai sms atau menghubungi dosen juga santai. Oke pas dosennya gak masalah, tapi pas dosennya rada serius, ya biasa akan dapat 3 sks kuliah moral kan jadinya 😀

Siswa besar: Assalam. Bu, ada di kampus? Saya ingin minta ttd ibu. — selow banget bro

Siswa besar lain: Assalam. Pak, maaf apakah sedang di kampus? Maaf Pak, jika boleh, bla bla bla. Maaf sebelumnya Pak, terima kasih. — sangat khawatir salah.

Siswa besar lain lagi: Assalam. Pak, seumpama mimpi yang melambung tinggi, adakah kiranya bapak menanti diri saya  —- euh puitisasi mode on 😀

Dosen: Waalaikumsalam, Saya ada di kampus pukul 10.

Dosen: Www. Ya, bisa.

Dosen: Pindah jurusan kamu 😛 (*maaf bercanda :D)

***

Konsultasi menjadi momok, kadang lebih karena belum adanya rasa saling memahami. Mahasiswa belum paham benar, apa dan bagaimana karakter dosennya. Dan dosen, [kadang], juga sulit dipahami karena memiliki sifat yang sedemikian khusus.

Di luar dari itu, saya pikir dosen tetaplah pengganti orang tua saya kala saya berada di kampus, jauh dari rumah. Saya mengupayakan untuk mendudukkan mereka sebagai seseorang yang memiliki ilmu lebih, pengalaman lebih. Sehingga, upaya yang wajar saya lakukan adalah menghormati dan memuliakan mereka. Sungguh, jika Allah telah memuliakan orang orang yang berilmu, maka sudah sepatutnya pula saya memuliakan mereka.

Bahasa, semestinya menjadikan kita lebih memahami. Bukan menyulitkan dan menjauhkan. Dan semua itu, saya kembalikan pada bagaimana berbahasa pada orang lebih tua, di dalam Islam. Dan, kunci ‘sederhana’ ini, teramat sangat membantu.  Bahwa ada adab bicara, adab mengungkapkan maksud, adab bersikap. Memahami kondisi lawan bicara, waktu bertanya, dan lain lain. Bukan masanya kan meng-sms- tengah malam, even kamu nya masih melek. Bukan pula saatnya saat beliau terburu buru berjalan, kamu mintain tandatangan. Kan? 🙂

Nah, terakhir ya belajar dari pengalaman. Kita bisa bertanya tentang karakter dosen dari kakak kelas atau orang orang yang banyak berinteraksi dengan beliau. Tapi ingat, bertanyalah pada mereka yang objektif dalam menilai. Bukan yang woro wiri gosip ya, hhehehe. Dan bertanyanya, ya dalam rangka memudahkan komunikasi, bukan ngomongin dosen. Nah, itu.

Berbagai kondisi yang dialami selama konsultasi dan sejenisnya, jadikan pelajaran saja sob. Yang penting, jangan menyerah dan malah kabur ya. Menyerah hanya akan menambah deretan masalah 😀

 

Semangat penelitian! 

===================================

Photo dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s