Pesan Yang Terlambat

pesan yang terlambat

Angin meliukkan dedaunan dengan malasnya. Seadanya saja berhembus sebelum nanti petang menjelang. Petang saat awan telah menggumpal menyembunyikan matahari hingga malam terasa menghampiri cepat, maka angin tak punya jeda istirahat. Ia harus menabuh setiap dinding yang membisu untuk mengimbangi gemuruh dari atap bumi. Sutradara hujan, menelusupkan sejuk pada akhir-akhir hari umat manusia di musim ini.

Memang sudah skenarionya musim hujan kali ini bertepatan dengan musim ujian. Rasa malas mudah saja menghampiri tanpa permisi. Kalau bukan ujian, tak kuhampiri barangkali, mungkin begitu motto mereka. Kampus ramai kala jam-jam menegangkan itu saja dan sepi setelahnya. Meninggalkan segelintir anak manusia yang tertahan pada rutinitas pencilan: masih tersisa jadwal kuliah dan praktikum [dan menyusul untuk ujian tentu saja].

Maka siang itu, aku dan teman-temanku  kembali ‘meramaikan’ laboratorium untuk praktikum. Sepi nyatanya tak selalu meninggalkan luka, ia-nya bisa jadi bahan baku introspeksi diri: introspeksi tentang jadwal praktikum yang lebih baik agar nggak molor dan praktikum di kala jadwalnya ujian, bah!

Dan materi pengantar praktikum hari itu-lah juara dari segalanya. Dosen kami, Bu Nina, menampilkan beberapa gambar larva serangga. Mengalir saja cerita dari mulut beliau, bahwa larva yang sedang kami lihat itu adalah larva dari serangga pembuat puru pada cabe. Dan, dan nilai sesungguhnya adalah betapa sudah sekian lama Ibu mencari larva tersebut. Berhari hari, berminggu minggu, hingga berbulan bulan, di berbagai tempat yang jarak satu dan lainnya berjauhan, memperkirakan berbagai kemungkinan dan kemungkinan, mengaitkan faktor A hingga Z untuk menakar dimana cabe yang terserang hama ini. Hanya berlandaskan bahwa berpuluh tahun lalu, hama ini pernah ditemukan, Ibu meyakini ia pasti ada hanya ‘belum ditemukan’.

Dan Ibu tidak menyerah begitu saja. Dicoba lagi dan lagi. Hingga akhirnya pada hari praktikum itu, ibu memperlihatkan pada kami. Di siang yang sepi itu, aku mencoba menangkap setiap ucapnya. Dari balik bibirnya mengalir sebuah kunci kehidupan, “Sikap gigih dalam berjuang itu yang sering tidak saya temukan pada mahasiswa. Sekali gagal dalam penelitian, langsung goyah, langsung mau ganti judul penelitian. Bukan, bukan begitu.”

Dan, dan aku tlah terhempas rasanya. Terhempas hingga aku tersadar. Aku baru akan memulai penelitianku, tapi kadang ketakutan akan hasil yang kutemui, memburu tanpa jeda. Membuatku tersengal dan tersenyum pahit.

Ya, jika tiba masaku berhenti, itu karena memang di sanalah pemberhentiannya. Bukan karena aku menyerah.

Ah, ibu. Terima kasih, terima kasih karena telah memberi arti di hari yang sepi ini. Ah, semoga pesan ini tak terlambat untuk membuatmu semangat lagi.

Untukmu yang tlah merasa teramat lelah, bukankah pertolongan Allah itu dekat? :’)

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Pesan Yang Terlambat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s