Berbekal Satu Ayat

blogApakah kamu seorang ustadz? Apakah kamu seorang ustadzah? Kalimat tanya yang kerap menjadi pemisah antara ‘yang berhak menasehati’ dan ‘yang berhak dinasehati’  itu kini tak lagi berarti. Pasalnya, sudah beberapa minggu ini kami merutinkan kegiatan pengajian di laboratorium, wadah setiap insan yang dirundung rindu, rindu akan lepasnya segala belenggu, halah!

Yup, dan Jumat pagi pun dilantik sebagai hari penuh berkah, dimana ayat suci dilantunkan dan nasehat kebaikan diutarakan.

Tentu saja, tiada yang lebih sempurna, antara yang bicara dan yang dijejali kata kata. Semua sama, semua didaulat untuk ambil jatah tiap minggunya. Al hasil, mau tidak mau, ikhlas atau tetap ikhlas (hehe), semua menunggu gilirannya.

Meski berbekal satu ayat. Ya, meski cuma mencuplik satu ayat Al Quran, yang itu pun sudah sering didengar. Meski cuma membaca hadits pendek yang anak SD pun tahu. Meski, meski sembari memegang kertas penuh catatan, kutipan artikel lewat handphone, tak jadi masalah. Karena nafas utamanya adalah belajar, belajar menyampaikan kebaikan.

“Setidaknya, kalian baca Quran satu kali dalam seminggu tiap kajian, kalau gak ngaji, jangan jangan gak pernah baca Quran”, seloroh dosen kami.

Bercanda ringan tentu saja maksud beliau, but who knows?  Bisa jadi ya, meski mungkin juga tidak. Cuma satu hal yang benar benar membekas dalam pikir saya adalah, kalau demi kebaikan kenapa kita seringkali tidak mau ‘memaksa’ diri kita sedemikian rupa? Bukankah sudah jelas itu baik? Sementara yang belum tentu baik saja, kita mokso mokso mengerjakannya. Iya gak?

Sudah tau semestinya Al Quran itu dibaca, ya ‘paksa’ lah diri kita untuk membaca. Membacanya harus dengan tartil, tajwid yang benar, ya ‘paksa’ lah diri kita untuk memperbaiki bacaan, belajar panjang pendek, belajar tajwid. Al Quran itu ya gak cuma dibaca, tapi juga dipahami dan diamalkan, ya ‘paksa’ lah diri kita untuk memahami, ‘paksa’ lah untuk mengamalkan. Sekali lagi, toh sudah jelas jelas baik?

Well, tentu saja ‘paksaan’ ini tak murni paksaan. Toh Allah gak pernah memaksa seseorang, Allah hanya telah titahkan dua jalan. Jalan kebaikan dan jalan kegelapan. Kita yang memilih, kita yang putuskan.

“..dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan…”

(Al Balad: 10)

Dan kalau telah memilih satu jalan kebaikan, sayang kan kalau tidak dipertahankan. Dan okey, biar tak terkesan keras, bahasakanlah menjadi ‘pembiasaan’. Pembiasaan kebaikan. Toh bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sendiri. Islam telah sempurna dengan atau tanpa kita. Tapi diri kita tanpa Islam, oh apa jadinya? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s