T.E.P.A.T

 

Tepat1

“Kita selalu berharap ada di tempat yang tepat. Bertemu seseorang yang tepat. Pada waktu yang tepat. Berharap sempurna, meski tentu tak mustahil adanya.”

Suatu sistem akan berjalan tatkala organ organ di dalamnya berfungsi, dan sistem milikku saat ini kehilangan organ vital penopangnya. Ya, keyboard leptop yang ‘terkadang’ tak berfungsi normal. Kusebut terkadang karena memang kadang-kadang, kadang berfungsi, lebih sering tidak. Hanya beberapa key yakni “L”, “M”, dan yang parah adalah “enter” serta “space”, selebihnya? Baik. Tapi yang ‘beberapa’ itu justru berhasil menyulap sekumpulan tugas jadi terlantar, ide menulis terbengkalai, dan_yang cukup positif_membuatku mendalami ilmu tentang per-keyboard-an. Cukup mengetikkan beberapa kata kunci di mesin pencari, membawaku pada kesimpulan: aku tak sendiri.

Timbang menimbang, kupikir agak repot (lebih tepatnya tak keren) jika kemana mana nenteng keyboard eksternal (cuma butuh beberapa menit, pikiranku berubah dan faktanya aku tetap meminjam keyboard eksternal untuk sementara waktu dari temanku, dan well, itu SANGAT membantu). Setelah tak berhasil dengan belajar otodidak dari internet, menyerah, akhirnya kubawa juga leptopku ke [tukang] servis leptop. Dan, dan cerita ini pun baru dimulai.

Dan, tak tepat. Aku bertemu dengan orang yang tak tepat. Pada waktu yang tak tepat. Dan tempat yang tak tepat.

Kugeser pintu itu dan tampaklah empat meja yang semuanya sedang dihadapi beberapa orang yang tampak sibuk. Ehm, aku mencoba lirak lirik sampai seorang laki-laki muda (mungkin seusiaku=aku masih muda), menyapa. “Ada yang bisa dibantu mba?”. Kujelaskan dan dia segera mafhum. Dimintanya aku menyalakan leptopku, dibukanya aplikasi notepad, dicobanya mengetik key yang tak berfungsi, dan tak butuh lima menit, ia berujar, “Ini mesti ganti keyboard mba.”

Tak ada pengantar, tak ada upaya untuk membuatku paham (dengan persoalan leptopku), ia memberiku solusi. Mental. Aku sedang dalam kondisi (sudah membaca) kemungkinan terburuk bahwa keyboardku memang harus diganti, dan aku sadar itu, tetapi aku ingin mendengar (dulu) penjelasan tentang apa yang sedang terjadi, why?

Kuucapkan terima kasih, dan aku keluar.

Second opinion, tak ragu kucari. Kusambangi tempat lain. Sama seperti yang pertama, kujelaskan dan kuhidupkan leptopku. Lebih (terlihat serius) dan sangat kuhargai itu, perlahan aku memberikan kepercayaan. Dibukanya ms office word, diketikkannya semua key di hadapanku. Satu persatu dan didapatilah semacam satu jalur key yang memang bermasalah.

“Apa pernah ketumpahan minum atau air gitu mba?”

“Ehm, enggak sih seingat saya.”

“Oh, iya, ini keyboardnya rusak mba. Kemungkinan ada kena air, atau mungkin debu.”

“Saya baru upgrade windowsnya, apa pengaruh mba?”

“Enggak, itu ga ada pengaruhnya mba.”

Perbincangan berlanjut, dan sampai pada kisaran harga keyboard baru. Kuucapkan terima kasih dan kukatakan akan kupertimbangkan untuk memesan di sana.

***

Saat aku mengetik cerita ini, aku sedang menggunakan keyboard baru yang usianya baru satu hari. Kupesan di lokasi ke tiga, di seorang teknisi yang kukenal dari kakakku, ia seorang bapak dua anak (darinya jugalah dulu aku membeli leptop ini). Lokasinya jauh dari kampus, aku sampai berpindah empat angkot dan bertemu dengan ‘orang stress’ yang terus menanyaiku (tentang ikan) di angkot. Waspada, kupikir dia tukang hipnotis, akupun turun sebelum sampai lokasi. Kupilih jalan kaki.

Di rumahnya, sambil menunggu ia mengganti keyboard, aku berbincang dengan istri, anak, dan teman anaknya. Tak lebih dari 30 menit, selesai dan ia menemuiku. “Ini, debunya banyak sekali ya, memang tipe keyboard seperti ini susah membersihkan debunya”. Malu malu (biasanya memalukan), aku manggut manggut. Kemungkinan terkena air tak sengaja juga dilontarkannya. Istrinya menimpali, bahwa di rumah mereka, tangan harus dipastikan bersih saat menggunakan leptop. Tak sedikit, pasien yang datang ke rumah mereka, bermasalah leptopnya karena ketumpahan minuman, bahkan gulai ikan kakap juga pernah, wew…

 Nasehat yang tepat, dari orang yang tepat, dan waktu yang tepat.

Aku tak tau, tetapi itu memberiku sebuah ilmu baru. Aku memang sangat ‘pembarangan’ sebelumnya. Saking tak ingin waktu percuma, aku makan sembari mengoperasikan leptop. Tak berpikir bahwa itu berbahaya. Setelah diskusi itu, aku mengubah mindset ku, aku harus lebih menjaga barang-barang sesuai dengan ketentuan seharusnya.

Ah, luar biasanya kata ‘tepat’. Aku mendatangi tiga tempat (plus dua orang yang kucekcoki via WA), semuanya memberi solusi yang sama: ganti keyboard. Tapi, saat penyampaian itu ‘tepat’, barulah solusi itu mengena dan mengubah sikap.

Jadi ingat, ada seseorang yang ‘gak jadi ngaji’ karena saat daftar ia pikir, ngaji itu ya ‘belajar baca al quran, belajar sholat’ dan itu memang ia inginkan. Tapi saat datang, eh bicaranya ‘kebangkitan, khilafah, berpikir, sama takbir takbir’, weleh weleh. Rupanya, meski sudah benar, harus tepat juga ya J, dan semoga aja kita segera dipertemukan pada waktu yang tepat dan orang yang tepat ya… #eh 😛

Advertisements

4 thoughts on “T.E.P.A.T

  1. Ha ha ha lucu mba Arini, kok ada scene ditanyain “Ikan” XD

    noted, saya pun masih sering beraktivitas yang mengancam keselamatan keyboard saya 😀

    padahal dengan orang kedua masih kurang lebih penjelasan kenapa keyboardnya rusak, tapi dibagian ketiga dibarengi dengan nasihat yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s