Tantangan Yang Tersisa

Jika kita kalah kali ini, kita tlah kalah selamanya.

Tak ada tantangan lain, karena ini adalah tantangan yang terakhir dan tersisa.

***

Tantangan yang tersisa BlogBuku adalah jendela dunia, katanya. Huruf demi hurufnya, tlah menyeberangkan penikmatnya dari satu tempat ke tempat lain. Melintaskan pemujanya dari masa ke masa. Layaknya jendela, ia terbuka, terang segala dibuatnya.

Tapi itu dulu.

Dulu sekali, karena hari ini, dunia tak berbatas lagi. Teknologi tlah menyulap yang tak mungkin menjadi nyata. Tak butuh waktu berbulan, berminggu, berhari, karena tiap detik apa yang terjadi, tampil di depan muka. Melintas dalam dengar, mengisi akan ingatan, cukup klik sana sini. Dan dunia, tinggal sebatas jari jemari.

Tapi, sebagus bagusnya cerita, tetaplah tak sempurna.

Busuknya, pasti ada. Ya, dunia lewat kemajuan teknologi media juga, yang tlah membius, pemeluknya. Terbius untuk mengisi waktu dengan update status [galau], sibuk memilih photo selfie terbaik untuk dishare di sosmed, gossip gaya hidup artis idola, dan kalau bisa tak ketinggalan segala tren kekinian. Seiya sekata, lewat media pula, gaya hidup serba bebas dipandu baik dan tertata. Caci mencaci tampil dan dilegalisasi atas dasar seni, seni menghibur diri. Selingkuh, pacaran, zina, jadi sarapan pagi dari para selebriti. Konten pornografi, tersebar di sana sini.

But, that’s not my words.

Itu bukan deretan kata yang lahir dari pikiran saya sendiri. Itu kutipan dari penulis lain. Saya mengambilnya karena cukup untuk membuat saya pribadi berkata ‘Ya, ini benar, masuk akal’.

And this is my words. 

Saya belum menjadi seorang ibu, masih jadi seorang kakak untuk seorang adik perempuan, saya seorang bibi (uh yeah saya kurang sreg menyebut ‘tante’, haha) yang sudah punya keponakan kecil kecil empat orang. Di sekitar saya juga tak sedikit tubuh tubuh mungil berlarian atau menangis sana sini.

Tapi [sekedar berperan begitu saja] saya sudah merasakan tekanan besar. Kekhawatiran muncul saat melihat anak-anak kecil bergaya layaknya artis artis yang mereka tonton di tv, hapal lagu dangdut yang liriknya naudzubillah. Sedih, saat di jalan berpapasan dengan anak-anak SMP SMA, yang dandanannya warbiyasa, sekolah atau mau ke mana sih Dek? Kesal (tapi cuma elus elus kerudung) saat lihat gaya obrolan mahasiswa (yang katanya gaul), tak jauh jauh dari “Nj**r, anj*ng, ny*t”. Belum saja keluar kata “tik*s, belat*ng, sera*gga, kepom*ong”. Duuh. Penting gak sih bicara begitu? Dan usut punya usut, I know ada artis rupanya yang juga begitu. Begitu keseharian mereka, WAJAR!

Yang paling menyedihkan buat saya adalah, apakah adik adik kecil tadi, adik-adik SMP SMA tadi, atau para mahasiswa tadi, tau seperti apa diri mereka seharusnya berlaku? Atau lebih singkat lagi, apa sebenarnya jati diri mereka? Generasi mana mereka? 

Apakah mereka pernah berpikir, “Oh, aku kan generasi penerus negeri ini, maka semestinya aku begini begini”

Apakah mereka pernah berpikir, “Oh, aku kan calon dokter, calon peneliti, calon guru, maka semestinya aku begini begini”

Apakah mereka pernah berpikir, “Oh, aku kan anak muslim, penerus para pejuang Islam, maka pantaskah aku begini begini?”

***

Jangan tanya mereka. Mereka juga tidak akan tau siapa diri mereka dan mengapa mereka begitu. Bahkan jika mereka berkoar, I want to be my self! Jangan percaya, karena mereka bahkan tidak tau siapa sejatinya diri mereka.

Lalu persoalannya di mana?

Well, lalu izinkan saya bertanya, “Menurutmu itu semua bukan problem?”

***

…to be continued…

Advertisements

2 thoughts on “Tantangan Yang Tersisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s