Demam di Perjalanan

Mindset kalo perjalanan itu harus segera diselesaikan, tertanam sejak kecil kayaknya di kepalaku. Secara, memang keluarga kita tidak pernah pergi ‘liburan’ ke mana mana kecuali rumah nenek (sebelah ayah maupun ibu). Itu juga cuma memakan waktu 1-2 jam paling lama. Ya akhirnya, dalam momen perjalanan apapun, kita hanya memikirkan segera sampai tujuan. Paling di pelabuhan, beli buah, kerupuk TARO, atau oleh oleh lain. Ga memungkinkan juga untuk momen bekal bekalan, haha. Yang ada, sebisa mungkin ga ribet ga repot. Dan semua itu, tetap ku ‘pertahankan’ meski sudah sekolah jauh, gak bareng ayah ibu lagi.
Sampai suatu hari, aku ketemu dengan Nisa, hei kamu neng! Sosok yang justru menjadi penikmat perjalanan. Ia penjelajah, dan ia membuatku sedikit mencecap rasanya. Setelah beberapa waktu, aku seperti anak kecil yang girang. Kucoba terapkan, well itu membantu saat aku bersama dengan ‘petualang’ lainnya, dan kukeluarkan jurus lama jika memang harus bersegera. Aku jadi merasa mampu mengolah rasa, ya rasa di perjalanan.

Sampai, sampai suatu hari aku demam di perjalanan. Dan aku merasa tak mampu apa apa.
Ya, minggu lalu aku mengikuti suatu tes beasiswa di Jakarta. Aku merasa sakit tenggorokan sejak bangun tidur, tapi kurasa biasa saja. Berangkat naik angkot, lanjut commuterline tujuan Jakarta. Masih fit, bahkan bertelepon ria dengan ayah dan ibu. 

Aku tiba di lokasi wawancara setelah menempuh 3 jam perjalanan. Terasa lemas, ditambah udara Jakarta yang panas, membuatku segera membeli roti dan minuman. Aku ragu untuk membeli makan (nasi) di sana karena hanya ketemu warung warung kecil. Salahku, aku tak sempat membawa bekal tadi pagi.

Karena giliranku masih lama, aku menunggu bersama puluhan peserta lain. Jadi dalam hitungan waktu, sejak pukul 13.30 itu aku merasa badanku panas. Bukan cuma panas, aku menggigil dan ah salahku lagi, aku tak membawa jaket. Di lokasi tidak tersedia tempat sholat yang memadai, hanya ruangan kecil bergabung ikhwan akhwat dan itu bau dan lembab 😫😫. Alhasil, aku tak bisa mengistirahatkan diri dan cuma duduk di ruang tunggu dengan muka memerah dan batuk batuk. Oh, ya sekarang tenggorokanku terasa panas sekali.

Syukur aku bertemu dengan beberapa teman dari IPB juga yang membantuku. Aku memilih duduk di bangku belakang untuk tidur bersender, dan meminta mereka membangunkanku kalau jadwal ku tiba. Itu sedikit melegakan. Mereka menenangkanku bahwa beberapa jadwal akan dimajukan, jadi giliranku bisa lebih cepat dan segera pulang.

Entah harus bersyukur atau gimana, giliranku dipanggil ternyata pukul 17.35, dijadwal semestinya 17.40 wib. Ya, dimajukan, LIMA menit lebih awal. Dengan sisa energi kuselesaikan proses verifikasi. Dan…dan kurang dari 5 menit, semua selesai. Ya, selesai. Dan aku bisa pulang. Wawancaraku dijadwalkan esok hari, dan aku harus kembali lagi. (Ini sudah kuketahui, cuma aku tak tau bahwa verifikasi secepat itu). Empat jam dengan tubuh demam, demi kurang dari lima menit verifikasi. 

Mengingat waktu Maghrib tiba, kami sholat dulu. Selepas itu, aku makan nasi yang sebelumnya dibelikan oleh teman-teman yang tadi kuceritakan. Kami khawatir tiba di Bogor kemalaman, jadi bersegera pulang.

Untung sih bisa pesan taksi online, kami bisa lebih mudah karena tak harus mencari angkutan umum lagi. Setelah itu, kami minta diantar ke stasiun terdekat. Sepanjang jalan, bahkan aku sudah tak bisa berkata kata lagi, cuma merem sama batuk batuk, halah. 

Sampai di stasiun, kami menuju ke st Tanah Abang untuk transit dulu. Sesampainya di Tanah Abang, karena diburu dengan penumpang lain, kami masuk kereta tanpa tanya tanya. Dan walhasil, itu kereta cuma sampai st Manggarai. Jadi kami harus transit lagi nanti. Buruknya, kami tak dapat tempat duduk karena penumpang berjubel. Kursi prioritas tentu saja tak bisa kuminta meski sedang demam tinggi dan gemetaran, siapa yang terima? Akhirnya ya sudahlah, berpegangan sekuat semampuku, sampai juga di Manggarai. 

Dan dan kereta menuju Bogor kami lewatkan begitu saja karena padat yang tiada terkira isinya. Untuk masuk saja susah. Sampai pukul 19.00 kami khawatir lebih malam lagi di jalan, jadi kami putuskan untuk masuk di kereta ke tiga. Dan ya, seperti diperkirakan, kami harus berdiri kembali. Tak dapat tempat duduk.

Saat itu, benar benar cuma laa haula wa laa quwwata deh, aku sudah tak merasa apa apa saat itu kecuali ngilu. Ngilu di semua sendi. Kepala sakit dan badan panas, aah ya Allah…

Singkat cerita yang benar benar kusingkat, aku tiba di rumah pukul 10.15 wib. Terkapar. 😷🤒

Photo dalam kereta, kuambil dalam perjalanan esok harinya.

Cerita ini kutulis dengan kondisi suara parau parau nan indah. Demam, ngilu dan sakit kepala sudah pergi, alhamdulillah. 

Bukan iklan sih. Cuma beli ini yang untuk berdahak, karena kemaren kerasa berdahak. Eh tapi sekarang kok g ada dahak sama sekali. Malah batuk kering doang.

Maapkeun nulis ini buruburu via hape. Mumpung ingat. Itu momen saat aku merasa, ah Allah betapa lemah diriku ini tanpaMu. Tak berdaya bahkan tak mampu apa apa.

Still, alhamdulillah ‘ala kulli hal, semoga sakit ini menjadi penggugur dosa. Aamiin… Oiya, doakan semoga beasiswa keterima ya…

 

hujan seharian

Hujan sebenarnya belum turun. Ia masih sekedar titik titik kecil menyentuh pelan di bahu. Dihembus angin, dibuai redupnya mentari. Beberapa lubang di jalan tetap saja membuat aku berjingkat, basah. Meninggi, tapi awan setia mengitari. Cahaya siang kian temaram. 

Hujan akhirnya turun. Berlapis gumpalan hitam di atap bumi. Udara terpompa meniup helai dahan dan asa. Tanah menguap lebih nyata. Kepala tertunduk di bawah atap, menyelinap di balik lengan. Malam tiba di awal waktu. 

Hujan masih turun. Sejumput kenangan memuara dalam diam. Ada doa yang mengalir lewat bisik. Esok, jadikan kebaikan. 

#randomstory