Pelajaran dari Mikroskop

“Kok ukurannya kecil? Bener gak nih?”

Sesingkat itu kalimat yang membuat Sabtu Minggu seorang Arini kelabu.



Bagiku, menulis layaknya menuangkan luapan percabangan yang ada di kepala. Cabang-cabang itu kadang melilit sedemikian rupa, yang aku lupa di mana awal dan belum ketemu ujungnya. Tak sedikit di antara cabang itu mengantarkan pada rasa lelah, resah. Tapi tak terhitung juga, alur-alur yang membuat senyum tawa memuara.

Tapi kuputuskan_aku lupa tepatnya sejak kapan_bahwa aku hanya ingin berbagi semangat dan pelajaran lewat tulisanku (kalau ada yang bisa memetik hikmahnya haha). Maka dari itu, kadang ada kisah menyakitkan (eleh) yang terjadi, tapi kubiarkan ia menyepi. Sembunyi di sudut hati. Sampai suatu waktu, jika aku telah berhasil melewati (memaknai, red), barulah kurasa tepat untuk berbagi. Aku tak mau sekedar berbagi kesedihan, karena dunia sudah terlalu menyedihkan untuk diamati dan sudah terlalu banyak menyakiti (bagi mereka yang tak mengerti).

Termasuk kisah ini. Kisah yang memberiku pelajaran kehidupan.

***

“Kok ukurannya kecil? Bener gak nih?”

Sesingkat itu kalimat yang membuat Sabtu Minggu seorang Arini kelabu.

Ya, siapa yang menyangka bahwa Jumat sore itu, akan ada seorang bapak-bapak (seorang, tapi bapak-bapak? Bahasa Indonesia macam apa ini?) yang bertanya tentang mikroskop yang kugunakan. Bagi yang belum mafhum, mikroskop yang kugunakan ini jenis teranyar (dan tercanggih) yang bahkan aku juga baru melihatnya saat masuk lab Biosistematika Serangga, di IPB. Tak ada masalah sampai sini, yang bisa kujawab kujawab tentu saja. Yang tak paham, kuakui aku belum tahu.

“Ukuran nyamuk ini lebih besar apa lebih kecil dari nyamuk biasa?”, pertanyaan berlanjut lebih dalam.

“Lebih besar nyamuk ganjur ini, Pak”, jawabku yakin.

“Berapa memang ukurannya?”, tanyanya lagi. Karena tak membawa catatan data, kucoba membuka file photo yang ada di layar di depanku. Dan terpampanglah angka 2.8 mm.

“Ini salah satunya Pak, 2.8 mm panjang tubuh imago”, jawabku lagi

“Kok kecil? Bener gak nih?”

“Hah?”

“Ya iya, 2.8 mm itu kecil kan Mbak? Masa sih nyamuk segitu? Ini mikroskopnya bener?”

Entah ketiupan angin dari mana, aku mendadak gelagapan. Langsung kutimbang timbang, iya juga sih, 2.8 mm itu kan kecil sekali. Nyamukku tak sekecil itu kok. Ini mikroskopnya sudah benar?

Singkat cerita, ku sampaikan terima kasih pada Bapak itu, kukatakan akan kupastikan proses kalibrasi atau perbesarannya, dan skala mikroskop itu. Setelahnya, bergegas kutemui Kak Herry. Sebut saja, dia ini sumber yang dapat dipercaya jika kau bertanya sesuatu. Tipe dosen: dengarkan, dan akan kujelaskan (asal kosongkan gelasmu). Kuceritakan ihwal tadi dan langsung ditindaklanjuti olehnya. Semacam pengaduan publik.

Dibukanya tesisnya untuk memastikan ukuran yang pernah dia gunakan. Dan lagi lagi entah angin dari mana, kalimat ini yang keluar, “Eh iya, masa sih ukurannya segini. Parasitoidku ukurannya besar loh. Ini kecil banget”.

😱😱😱

Glek!

APA INI ARTINYA SELURUH MAHASISWA YANG TELAH MENGGUNAKAN MIKROSKOP TADI TELAH SALAH? APPAAAAAAH? DUNIAKU TERASA TERBALIK. PUNGGUNGKU LEMAS. KAKIKU LUNGLAI. PERUTKU KERONCONGAN.

Oke fiks, aku lapar.

😖😖😖

Kucoba bertanya pada Kak Ciptadi. Sebut saja, dia ini sumber utama jika kau butuh informasi tentang teknologi, dia ini tipe: kau belum bertanya, dia sudah tau jawabannya. Tapi tidak dengan sore itu.

“Aku emang belum pernah kalibrasi mikroskop itu, Rin”, santai Kak Cip nyahut.

😨😨😨

Oh. Selesai sudah. Terbayang olehku akan mengulang pengukuran sampel sampel ku. Ah, perutku mendadak mengeras. Aku makin kelaparan dan haus. Leherku tercekat.

“Aku ke Bandung besok, paling Senin baru balik”, lanjut Kak Ciptadi.

Secepat kilat di kepalaku tersusun agenda. Senin, pasca kepulangan Kak Cip, semua harus kupastikan. Harus. Ini tak boleh kubiarkan. Ini adalah kesalahan yang terjadi turun temurun. Cukup, aku muak! (Sinetronisasi tanpa batas, oh Arini)

***
Sabtu, Minggu, benar-benar menjadi kelabu. Aku menjalani hari dengan sesuatu yang bertubrukan. Langkah, mulutku kemana, pikiranku kemana. Dua hari. Ya, dua hari, dan itu cukup untuk membuatku mengaitkan berbagai perkiraan, perkalian, pembagian, hingga analogi di kepalaku. Kutakar takar, timbang sana sini, nihil. Aargg, aku ingin segera Senin, sekaligus takut. Meski yang akan kuhadapi adalah mundur berlangkah langkah ke belakang, tapi setidaknya aku tahu. Ya, pelajaran pertama yang cukup menguatkanku adalah kesadaran bahwa jika itu kebenaran, terlambat mengetahuinya jauh lebih baik dibanding kau terus melaju, tanpa tahu bahwa jalanmu telah salah. 

Tapi, seinspiratif-inspiratifnya kata kata mutiara, Mario Teguh terkapar juga. Aku tercekat juga untuk waktu yang lama. 😲😲😲

Sejujurnya, dua hari itu membuatku juga banyak beristighfar. Mohon ampun, jika banyak hal yang aku lalaikan. Mungkin ada banyak hal yang kulakukan salah, lalu Allah mencoba menegurku. Pelajaran kedua, hei Arini, duniamu tak sebatas nyamuk dan lab, ada hak Allah, ada hak lain yang belum kau penuhi. Coba, coba benahi lagi.

Dan pelajaran ketiga terjadi Subuh Senin. Aku bangun dengan kepala masih terbayang mikroskop dan angka 2.8 mm. Selesai semua, hingga aku mengambil nasi untuk sarapan. Mendadak saja, entah bisikan dari mana, tiba tiba muncul suara (horor banget haha). Rin, lemah banget sih. Segitu aja, langsung merasa dunia berakhir. Padahal itukan biasa aja. Ya udah sih, kalo salah ulang lagi. Toh masih bisa diulang. 

Deg, well jujur, aku mengunyah nasi sambil merasa malu. Iya, bener juga, kok aku lemah banget ya. Baru diuji Allah sama kesalahan penggunaan mikroskop (kalau itu beneran salah loh ya), belum yang lebih berat lagi. Gimana mau jadi perempuan hebat, kalo dikit aja langsung down tekedown kedown. Ih, malu maluin Arini.

Bukankah, fa innama’al usriyusra, inna ma’al usriyusra, setelah kesulitan pasti Allah kasih kemudahan yang banyak. Hei, kamu beriman kan sama Allah? Ya Allah segitunya Rin. Malu atuh, masa sudah ngaji Islam, masih kayak gitu sih.

Aku tertampar, pasca terkapar.

😔😔😔

***

Senin pagi Kak Cip belum menampakkan batang hidungnya di lab. Jadilah aku dibantu kak Rizky (aku panggil Kak Ki). Sosok perempuan, yang akan tertawa dahulu baru menanggapi ceritamu. Yang pernah ngisi seminar dan bikin quote, “Life is choice”, dan udah mau sidkom awal Oktober nanti (ini perkenalan apasih). Kak Ki turut tau kisah menggemparkan ini setelah diberi tau Kak Herry.

Kami selayaknya dua wanita yang tak tau apa-apa, mengandalkan Youtube, ehehe. Tinggal ketik keywords, liat tutorial. Dan, ya meski tak mudah, 30 menit berjalan sampai kami dapat kesimpulan: GAK ADA YANG SALAH. SEMUANYA SUDAH BENAR.

Yang salah adalah keraguanku. Yang langsung mudah terpengaruh. Pagi itu, kami coba beberapa sampel, bahkan menjadikan penggaris sebagai sampel, dan ukurannya tepat bin tepat bin pas. Kuukur ulang nyamukku, ya benar. Ah ya, tentu saja karena setiap spesimen punya perbedaan, dan itu bisa jadi kisaran, dan karena itu kita butuh rata-rata to. Aaaah, Allah…

Oke sedikit penjelasan, lalu kenapa aku sebegitu percaya dengan Bapak-Bapak penanya di hari Jumat? Ada beberapa alasan: (1) Aku merasa ‘tertekan’ sedari awal, karena kupikir ia berasal dari instansi pertanian, di mana secara pengalaman, aku kalah telak. (2) Aku belum memegang data lengkap penelitianku, (3) Aku hanya ‘merasa’ mikroskop ini telah digunakan bertahun tahun, dan kebenarannya kupikir sudah teruji. Bukan karena aku memang paham mikroskopnya. Gak kuat banget buat ngotot kan?

Intinya, aku secara pribadi merasa goyah waktu dikoreksi, karena ada keraguan di kepalaku (belum pegang data lengkap dll). Di sini, aku belajar banget, jadi ke depannya, dalam hal apapun ga boleh ada keraguan sedikitpun. Kalau ada, harus langsung diclearkan. Sama halnya kayak beriman tapi ragu. Yang begini, bisa jadi kala dipertanyakan sesuatu tentang keimanannya, bisa langsung down. Sirna keimanannya.

Naudzubillah. Jadi ngerasa penting banget untuk mencapai sesuatu dengan pemahaman utuh.

Di penghujung cerita ini, kusampaikan pula rasa maafku yang tulus mendalam karena telah membuat heboh dan gugup teman-teman yang juga sedang penelitian dan menggunakan mikroskop tersebut. Mereka semua dirundung kegugupan yang sama karena sikapku. Maafkan saya teman-teman.

Tapi, tentu saja sebagai muslim yang baik, memetik ibrah menjadi kekayaan yang tak ternilai. Kita sedang belajar, terutama diriku. Aku sedang diajari langsung oleh Allah tentang qadha, keyakinan, kesabaran, doa dan pengharapan, dan tentu saja keikhlasan.

Dunia, seperti kataku di awal, kadang sering menyakitkan (bagi mereka yang tak paham), tapi dunia mampu mendewasakan (bagi mereka yang mengambil pelajaran).

Salam,
Arini

Kakak Yang “Biasa”

Kak Dina, belakangan ini aktif di akun #cookpad miliknya dan sering mencoba menu menu yang dishare di sana. Katanya, sejauh ini menunya “terjangkau” untuk diwujudkan. Secara, tentu saja saya sendiri pernah baca resep, dimana nama bahannya saja bahkan saya tak bisa bayangkan haha. 

Nah, sore tadi, kak Dina membuat kue, yang katanya resep ciptaannya secara pribadi.

“Kue Cokelat Tanpa Telur”

Aku terpana mendengar namanya. 

.

.

.

Dan kemudian, aku terinspirasi untuk bercerita tentangnya (ah ya sedikit tentang kuenya).

Kak Dina, bukan seseorang yang suka ribet. Yang penting katanya, esensinya dapat. Misal, ku pikir, nama kue bisa dibuat lebih syantiek. Choco Cake Eggless (huwek). Semacam nama nama yang kini terpampang di menu menu kafe kekinian. Yang sejujurnya saat dilihat cuma… oh, ini to makanannya 😂

Atau saat malam ini ia memintaku memotretkan kuenya. Aku, yang secara kemampuan, tak terlalu pandai menangkap keindahan rupa, haha. Berusaha semampuku menyusun agar kue itu tampil cantik dan menarik. Tapi, karena memang bentuk awal kue itu biasa saja, duuh haha, ya tetep susah dicantikin juga. Kalau dikumpulkan, poinnya, (1) arini g bisa motret, (2) kamera hp arini biasa aja, semacam beautification seadanya, (3) motonya malam, saat lampu rumah temaram, (4) bentuk kue memang gak terlalu cantik. 

Menurutku, ini lumayan bagus karena ada angle angle gitu duuh, cuma kurang terang.
Kata kak Dina, ini lebih bagus karena nyata kuenya

Nah, untung bukan yang ini sih 😂😂😂. 

Kepencet blitzzz

Dalam banyak hal, saya tau begitulah Kak Dina. Simpel, dan ga banyak cincong. Tapi jadinya ga terbiasa menambahkan “rasa” pada sesuatu. Berbeda dengan saya yang selalu butuh dengan “embel embel” tambahan. Saya gak sreg kalo belum utak atik sana sini. 

Dampaknya, kak Dina jarang pusing dengan aktivitasnya. Biasa aja dia.

Dampaknya, saya sering “tertekan” sampai bisa menyelesaikan sesuatu dengan rasa tertentu, yang beda.

Apakah menjadi seperti kakak jelek? Apakah menjadi seperti saya jelek? Mungkin ya, kalau g paham dan g bisa menakar prosesnya. 

Kakak, memasak dan membuat kue untuk keluarganya. Di saat semua anak anaknya suka dan makan dengan heboh masakannya, mungkin itu rasa terindah baginya. Beres, selesai. Masalah cantik tampilan, bukan masalah.

Tapi, tentu beda kalau kakak menjual kue, tampil biasa meski rasanya enak, akan kalah telak dari dia yang bikin enak plus menawan. Tempatnya di mana, itu yang penting. (Tapi kukasih saran juga sih, lain kali kuenya bikin cantik kan lebih oke lagi). Cuma yang ngasih saran, malah belum bisa bikin kue 🙄  

Ya, malam ini saya belajar tentang rasa. Seperti kue yang manis, kadang enak kadang bikin enek. Tergantung, nanti dimakannya dengan siapa, eh maksudnya dengan apa 😂😊.

Ya, dari kakak yang “biasa” saja, aku mengerti sesuatu yang tak “biasa”. Jadi, siapa bilang dia “biasa”? 🤔

*kata aku dan saya berganti ganti digunakan, lagi riweuh edit edit* 😌😌