Kakak Yang “Biasa”

Kak Dina, belakangan ini aktif di akun #cookpad miliknya dan sering mencoba menu menu yang dishare di sana. Katanya, sejauh ini menunya “terjangkau” untuk diwujudkan. Secara, tentu saja saya sendiri pernah baca resep, dimana nama bahannya saja bahkan saya tak bisa bayangkan haha. 

Nah, sore tadi, kak Dina membuat kue, yang katanya resep ciptaannya secara pribadi.

“Kue Cokelat Tanpa Telur”

Aku terpana mendengar namanya. 

.

.

.

Dan kemudian, aku terinspirasi untuk bercerita tentangnya (ah ya sedikit tentang kuenya).

Kak Dina, bukan seseorang yang suka ribet. Yang penting katanya, esensinya dapat. Misal, ku pikir, nama kue bisa dibuat lebih syantiek. Choco Cake Eggless (huwek). Semacam nama nama yang kini terpampang di menu menu kafe kekinian. Yang sejujurnya saat dilihat cuma… oh, ini to makanannya 😂

Atau saat malam ini ia memintaku memotretkan kuenya. Aku, yang secara kemampuan, tak terlalu pandai menangkap keindahan rupa, haha. Berusaha semampuku menyusun agar kue itu tampil cantik dan menarik. Tapi, karena memang bentuk awal kue itu biasa saja, duuh haha, ya tetep susah dicantikin juga. Kalau dikumpulkan, poinnya, (1) arini g bisa motret, (2) kamera hp arini biasa aja, semacam beautification seadanya, (3) motonya malam, saat lampu rumah temaram, (4) bentuk kue memang gak terlalu cantik. 

Menurutku, ini lumayan bagus karena ada angle angle gitu duuh, cuma kurang terang.
Kata kak Dina, ini lebih bagus karena nyata kuenya

Nah, untung bukan yang ini sih 😂😂😂. 

Kepencet blitzzz

Dalam banyak hal, saya tau begitulah Kak Dina. Simpel, dan ga banyak cincong. Tapi jadinya ga terbiasa menambahkan “rasa” pada sesuatu. Berbeda dengan saya yang selalu butuh dengan “embel embel” tambahan. Saya gak sreg kalo belum utak atik sana sini. 

Dampaknya, kak Dina jarang pusing dengan aktivitasnya. Biasa aja dia.

Dampaknya, saya sering “tertekan” sampai bisa menyelesaikan sesuatu dengan rasa tertentu, yang beda.

Apakah menjadi seperti kakak jelek? Apakah menjadi seperti saya jelek? Mungkin ya, kalau g paham dan g bisa menakar prosesnya. 

Kakak, memasak dan membuat kue untuk keluarganya. Di saat semua anak anaknya suka dan makan dengan heboh masakannya, mungkin itu rasa terindah baginya. Beres, selesai. Masalah cantik tampilan, bukan masalah.

Tapi, tentu beda kalau kakak menjual kue, tampil biasa meski rasanya enak, akan kalah telak dari dia yang bikin enak plus menawan. Tempatnya di mana, itu yang penting. (Tapi kukasih saran juga sih, lain kali kuenya bikin cantik kan lebih oke lagi). Cuma yang ngasih saran, malah belum bisa bikin kue 🙄  

Ya, malam ini saya belajar tentang rasa. Seperti kue yang manis, kadang enak kadang bikin enek. Tergantung, nanti dimakannya dengan siapa, eh maksudnya dengan apa 😂😊.

Ya, dari kakak yang “biasa” saja, aku mengerti sesuatu yang tak “biasa”. Jadi, siapa bilang dia “biasa”? 🤔

*kata aku dan saya berganti ganti digunakan, lagi riweuh edit edit* 😌😌

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s