[bagian]

“Sejak kapan kamu suka dengan serangga, Arini?”, demikian tanya wanita di hadapanku yang kuketahui berstatus sebagai seorang psikolog.

“Setelah saya mulai dapat materi kuliah Bu”, jawabku tersenyum.

“Jadi sebelum masuk kuliah, kamu belum tahu tentang jurusan ini?”

“Iya Bu, belum.”

“Kok bisa? Lalu gimana kamu memutuskan untuk kuliah di jurusan ini?”

“Saya disarankan kakak saya, katanya jurusan ini bagus dan nama jurusannya juga bagus,” antara bangga dan malu bercampur dalam kata-kataku.

Pernyataanku sepertinya membuka celah bagi wanita itu untuk mengulik tentang ayah dan ibu, “Jadi orang tua kamu tidak mengarahkan kamu?”

Aku diam sesaat.

Kutarik nafas seakan penuh pertimbangan, “Menurut saya, ayah ibu saya bukan tidak mengarahkan, Bu. Tetapi keterbatasanlah yang membuat ayah dan ibu saya tidak mampu mengakses banyak informasi tentang jurusan jurusan terkini. Meski mereka adalah guru, tetapi jauhnya desa kami, tak memungkinkan orang tua saya untuk mengetahui perkembangan terkini. Karena itu, mereka meminta saran dan masukan dari kakak kakak saya yang telah lebih dulu sekolah di luar daerah.”

Wanita itu, dan kini dua laki laki lain di sampingnya masih memandangku.

“Orang tua saya, memang tidak punya jurusan tertentu yang mereka harapkan saya masuki, tetapi mereka meminta tanggung jawab saya. Atas apapun yang saya pilih nantinya, saya harus bertanggung jawab dan menunjukkan keseriusan saya.”

Aku tercekat, wawancara ini membuatku terseret dalam arus keharuan atas banyak hal. Hingga 20 menit kemudian berlalu, aku akhirnya memunggungi mereka bertiga, “Semoga sukses Arini”, mereka tersenyum atas anggukanku.

 

***