.gelar.

Sepulang dari kampus, di tengah kemacetan yang menggelayut manja, senyumku merekah sendiri. Bukan apa-apa, entah sejak kapan mulainya, aku cenderung mudah (dan tanpa sadar) bisa tersenyum (mendekati) tertawa sendiri jika mengenang sesuatu yang lucu. Dan itu terjadi bisa saat orang ramai ataupun sepi. Kadang sampai khawatir dicap OGB alias orang gila baru gegara kebiasaan ini.
Dan jadinya, tadi tiba-tiba terbayang kelakuan (beberapa) orang teman di lab. Entah siapa yang mulai, mendadak beberapa orang di lab memperoleh gelar baru, di luar gelar akademik. 

1. Ucil: Utan Cilok ? Utan (lulusan sekolah kejuruan analisis kimia, yang jatuh cinta sama serangga, yang lagi magang di Museum Serangga), setiap selesai Jumatan selalu beli cilok dari masjid. Terus dibagi bagi sama anak-anak yang lain. Sejak itu, namanya jadi UCIL.

2. Herry Tongkol ? Bujang asal Bangka ini sebenarnya pendiam, serius, dan jadi andalan karena tergolong cerdas dan tau banyak hal. Dia mendapat gelar ‘tongkol’ karena setiap beli (nitip beli) makan selalu (terlihat) berpikir tentang menu makanan yang mau dibeli, padahal ujung-ujungnya selalu beli tongkol. Katanya pengaruh makanan di Bangka biasanya ikan segar dan well, itu sangat sulit di dapat di kampus.

3. Ubay ? Yang ini sih baru dengar tadi, gelar buat Bang Ucok. Ucok Lebay. Kalau kupikir pikir, memang sih, orangnya memang lebay 😀

Nah, jadi lucu karena sebenarnya hidup dan menua dalam gelar gelar begini, sangat kental di kampungku. Saking melekatnya gelar, bisa jadi orang tak tau nama aslinya. Sebut saja, Nek Anjang, waktu muda disebut Mak Anjang. Aku tak tau siapa nama asli nenek ini, tapi sejak dulu dipanggil begini. Usut punya usut, Anjang berasal dari kata ‘Panjang’ karena tubuhnya yang jangkung. Aku punya teman masa kecil, namanya ‘Ondong”. Jujur aku lupa siapa nama aslinya. Bahkan saking parahnya, Abahku pernah harus membuatkan nama seorang anak yang mau masuk SD, karena kala itu si anak belum punya nama, yang ada cuma gelar, bayangin 😀

Lalu ada Utoh Kadei, nama aslinya jelas bukan ini. Utoh adalah panggilan anak laki laki dalam bahasa Banjar, dan Kadei adalah bahasa banjarnya ‘pasar’. Jadi Utoh Kadei adalah seseorang laki-laki yang tinggal di pasar. Dan uniknya, nama Utoh bisa dinisbatkan pada ujung yang berbeda, Utoh eweu, Utoh ganal, Utoh parit 10, Utoh tambok, dan aneka Utoh yang lain. Entahlah, yang jelas, antar Utoh tak akan saling tertukar.

Bahkan sebenarnya, aku, kakak, abang, dan adikku sendiri juga memanggil nenek kami dengan gelar. Nenek Es (dulu pernah berdagang es), Nenek Iyo (Iyo adalah nama pamanku paling kecil), (alm) Nenek Balai (Nenek pernah lama tinggal di Tanjung Balai Karimun), (almh) Nenek Atai (Nenek suka memanggil kami cucunya dengan panggilan “atai”, atai adalah panggilan kesayangan untuk cucu dalam bahasa Banjar Amuntai).

Jadi kembali ke atas, sejujurnya aku merasa lucu karena tiba-tiba teringat suasana di kampung. Bahkan, meski belasan tahun lalu, masih saja bisa termuarakan ingatku. Tentu saja, ini bukan sekedar tentang kebiasaan menggelari. Aku tau, gelar gelar yang buruk tak semestinya tersemat, karena panggilan dan nama seseorang haruslah menjadi doa kebaikan bagi sang empunya. 

Cuma, ini mengingatkan dan membuatku berpikir ulang tentang, apa sejatinya gelar yang layak bagi kita? Bukankah selain gelar tadi, juga banyak gelar gelar lain hari ini? Gelar akademik, gelar kehormatan karena darah, gelar karena kekuasaan, dan gelar-gelar lainnya. Jika kita punya itu, lantas apa? Apakah memuliakan kita? Apakah menjadikan kita sosok yang bermanfaat bagi orang lain? Apakah menjadikan kita lebih beriman?

Jika kita punya itu, lantas apa? Apakah memuliakan kita? Apakah menjadikan kita sosok yang bermanfaat bagi orang lain? Apakah menjadikan kita lebih beriman?

Ataukah gelar cuma sekedar tambahan panggilan? Yang menunjukkan bahwa kita lebih tinggi dari orang lain? Lebih pintar dan kaya dibanding yang lain? Lebih mampu mendatangkan uang yang banyak? Lebih layak dihormati? 

Ah padahal, sebaik-baiknya gelar, mungkin adalah sesuatu yang bisa dibawa mati. Gelarnya diberi karena imannya terbukti dengan amal ibadah yang tak henti. Pemberi gelarnya adalah Tuhan, Rabb yang tak perlu meletakkan toga, tapi membukakan surga karena penerimanya taqwa. Ah, semoga saja. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s