Tulisan Pertama di 2017

Dan 2017 pun memasuki harinya yang ke-6. Mestinya semangat, tapi kok hawa liburan lebih kenceng ya

Kalau gini, mau gak mau harus nguat nguatin diri sendiri. Semua akan ada masanya. Ya gak?

Seperti masa seminar magister yang akhirnya tiba th 7

Dan beberapa orang bilang, ‘Tenang Rin, aku juga dulu gugupnya berminggu minggu kok’. Mungkin mereka melihat semacam perubahan mengerikan dari diriku, haha, jadi berusaha menenangkan. Padahal…padahal…iya aku memang gugup, . Eh tapi gak berminggu minggu kok. Bahkan lebih tepatnya ya sejak subuh di hari menakjubkan itu.

Kamis, 29 Desember 2016

05.00 WIB

Sejak subuh, kerongkonganku tercekat melulu. Ngomong dikit, kering. Nelan ludah, langsung kering lagi. Perutku agak kram, tapi kupaksa makan. Gak lucu kalo mendadak pingsan waktu presentasi kan.

07.00 WIB

Suatu hal yang gak biasa, aku berangkat ke kampus. Hehe, takut Cibanteng macet. Pfft. Nyampe lab, belum ada orang, cuman ada Bang Ucok (Bang Ucok bukan orang?). Ku charge laptop, buka slide, presentasi sendiri. Baru setengah jalan, capek, brenti, buka hape, liat IG. Ya Allah.

08.30 WIB

Sudah pada rame lab, Kak Rizky juga sudah datang. Ke rektorat yuk kak? Aku langsung diketawain. Ya kali Rin, ini yan jadwal presentasi pertama juga baru mulai kali. Ngapain buru buru. Ehm, iya jadwal ku jam 10.30 WIB, jadi memang masih dua jam lagi, hehe…

09.30 WIB

Akhirnya aku berangkat juga. Menemui Abah dan Mamak yang menunggu di rektorat. Yeay, bocorannya, Abah dan Mamak habis liburan ke Malang, ngunjungin Abang, pas balik, mampir ke Bogor, dan…dan ya akhirnya bisa hadir di hari seminarku.

Senang? Pasti.

th 151

Gugup? Pastiiiiiiiii.

th 158

Maksudku, aku senang Abah dan Mamak hadir di hari itu. Tapi sungguh itu membuatku lebih tertekan. Aku takut mengecewakan mereka di hadapan mereka. Aku takut gagal. Aku takut seminarnya kurang lancar. Aku takut tak membanggakan mereka.

‘Bah, Mak, maafkan rini ya nanti kalau di seminar, ternyata gak terlalu bagus. Maaf kalo ga bisa jawab pertanyaan nanti’

Akhirnya kuucapkan itu, kira-kira 10 langkah sebelum kami memasuki ruangan.

.

.

.

‘Kenapa bilang begitu? Bagi Abah, (kau) sudah sampai di sini saja sudah membanggakan Abah Mamak. (Kau) dari desa kecil, dapat sekolah tinggi, bagus, itu sudah luar biasa’

.

.

.

Hatiku gerimis, ah bukan, tepatnya hujan. Bulir bulir dingin menuruni relung terdalam di dalam diriku. Bertanya tentang banyak hal. Mengapa tak banyak yang kau syukuri, Rin? Jelang siang itu, aku malu. Malu sekali.

.

.

.

Hari itu berjalan dengan menakjubkan. Lancar. Tak ada kendala.

p_20161229_115455
Abah dan Mamak sehabis dari seminarku. Photo photo di taman yang…banyak nyamuk 😀 | Ah I love you :*

.

.

.

Tapi aku tlah menggusarkan hari ini. Jauh di atas keyakinanku atas pertolongan Allah. Maka hatiku kian basah. Malu.

.

.

.

Maka biarkan (pengalaman) ku mencoba memberi pelajaran. Usah risaukan yang belum pasti. Tapi pastikan syukuri apa yang tlah terjadi.

.

.

.

 Ya gak?

20161229_112320-01
Ini diphotoin mamak. Pas mau makan sehabis seminar. Hehe :*

*Tentu saja, semua ini tak lepas dari bantuan tak terhingga dari pasukan di lab. Pasukan sidang jalanan, yang bikin dada panas terkoyak (lebay), atas segala kritik dan koreksianth 143

Pasukan yang bikin kertas putih dipenuhi tinta merah (tinta hitam ding) coretan kesalahan. Hehe. Tapi, seperti kata pepatah, luka mampu menguatkan rasa (emang ada pepatah yang bilang gini?) 😀 | Menyadari kesalahan dan memperbaikinya hingga batas kemampuan, adalah sikap seorang muslim. Alhamdulillah. Aku terharuuuuu

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s