Monolog Kongres Ibu Nusantara

Latepost banget ini, hehe…

Desember 2016 yang lalu, saya dapat kesempatan bergabung dalam kegiatan rutin tahunan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Kongres Ibu Nusantara ini, diadakan di berbagai kota di Indonesia. Saya berkesempatan menulis monolog yang akan dibacakan dalam kegiatan ini. Dan alhamdulillah untuk pelaksanaan di Jakarta, saya membacakannya sendiri.

Duh, memang masih jauh dari yang namanya hebat, keren. Tapi sungguh, gelapnya Balai Sudirman hari itu, senyapnya ribuan kepala, menjadi pemicu bagi diri saya. Saya hanya ingin berkontribusi atas apa yang saya mampu. jika ini baik, semoga Allah memberi kebaikan pada diri saya.

Btw, saya mengenakan kerudung hitam, jilbab (gamis) hitam, dan saya senang dengan momen yang tercipta, wkwkw…

Lebih kurang lima menitan. Monolognya tercipta dalam momen yang beragam: mau tidur, pas jalan, naik angkot, nanya sana sini, wkwkw… Musik, pencocokan juga dicari di hari hari terakhir jelang acara. Tergesa memang, tapi alhamdulillah untuk segalanya ya Allah.

potongan MP3 di sini: mp3 disini

(ga bisa posting audio T_T)

======

Dan adalah gelisah yang merantai
Mengunci dalam ribuan bisik
Mengurung dalam waktu yang terasa bergegas
Mungkin sekarang timbul jutaan tanda tanya
Rasa apa ini
Yang mendorong diri tetap tegar
Padahal sedang gusar
Yang membuat tegar meski air mata menggenang
Yang menghatar bertemu jalan padahal gunung masalah nyata tinggi menjulang
Waktu berputar usia kian petang
Seberapa lagi akan terinsafi
Seberapa lagi diri ini meyadari
Mungkin jiwa ini terlalu hampa
Maka panggilan iman biasa saja
Padahal apa yang kita punya
Jadi mungkin inilah saatnya
Mengaku bahwa kita butuh Tuhan, kita butuh Rabb kita
Bahwa kita rindu tersungkur, rindu meratap, rindu ampunan Rabb
Dan Muhammad Rasullulah
Tersuruk namanya jauh tak pernah disebut
Ingatkah kita kala tumitnya berdarah dilempari penduduk Thaif
Ingatkah lirih katanya saat ia jelang wafat: ummati ummati ummati
Kitab yang kita akui kebenarannya sampai mana ia kita bela kala ia dihina
Abu Bakar menahan tangis saat kakinya dipatuk ular wujud cintanya pada Rasul
Umat mengangkat pedang, marah, kala Rasul dinyatakan wafat wujud cintanya pada Rasul
Bilal muadzin Rasul tercekat tak pernah lagi bisa adzan ba’da Rasul wafat
Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Dan sakinah mawaddah warahmah
Sebatas menjadi utaian kata semata, tak berwujud tak beryawa
Ketenangan yg diharap, tercabik cabik oleh kesulitan ekonomi yag menganga di depan muka
Kebahagiaan yag dimimpi tergadai oleh pecapaian materi demi materi yang tak pernah berujung untuk dicari
Kasih sayang yg diharap mengalir bahkan tak menetes atas dalil keegoisan diri
Atas dalil, ini yang aku cari
Aku sekolah tinggi, cuma sampai disini?
Mau apa?
Maka duhai muslimah, duhai bunda
Kemana visi keluarga kita bawa?
Mungkinkah bahtera kan melaju kalau kita bahkan tak tau arah yang kita tuju

(keybard errr getikya susah)

(keyboard error ngetiknya susah)

teks monolog dikit lagi, kalau butuh buka file mp3, wkwk…

Thak yu fr readig

Bye.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s