Kopi Pertama

Quote indah di bawah foto segelas kopi

Lengkap diberi gambar hati

Alangkah lucu orang masa kini

Ramai berkumpul tapi asik sendiri

Eaaa.

Well, kita ini sekarang hidup di zaman modern. Tren ngumpul bareng teman di kafe atau tempat-tempat yang instagramable, lokasi lokasi yang ngehits, sejalan sama berkembangnya sosial media. Dan ya, tentu saja, setiap foto yang dipost, butuh caption. Maka, sebutlah ini era quote. Setiap orang jadi mahir bermain kata. Pepatah lama jadi kembali memuara dan generasi putus cinta makin lihai menempatkan peribahasa. 

Tak terkecuali kopi yang berhias sepotong hati.

Jadi, ini tentang kapan kau mengenal kopi.

Bagiku secangkir kopi lekat dengan sosok ayah yang terbiasa menyeruput kopi sembari membaca koran di serambi rumah. Ditemani dua potong roti. Tentu saja, gambaran ini kubaca dari sebuah buku, karena di rumahku sendiri ayah hanya minum teh dan tiap pagi ibu memasak nasi goreng, tak ada roti.

Bagiku lagi, kopi dekat dengan pergerakan mahasiswa dan pemuda. Beberapa kali saat kuliah, aku terkagum dan terjerat rasa penasaran yang dalam. Ngopi, membuat pemuda terjaga untuk membicarakan asa. Aku rasa, dulu para pemecah kediktatoran penguasa, berbincang dalam hingga dini hari diselimuti bau kopi dan tentu saja aroma kejujuran.

Dan, kopi pertama ku, sebenarnya terekam dalam kisah yang lebih awal. Adikku terkena step.

Aku masih bisa memutar kenangan di hari hari adikku demam tinggi. Belum genap kelas tiga sekolah dasar, aku terjaga berkali kali saat ibu memeluk erat tubuh kejang adikku. Setiap kali adikku kembali tertidur, aku takut membayangkan ia kembali terjaga, karena saat itulah ia akan kembali kejang-kejang. Sendok berlapis kapas selalu buru-buru dipasang menahan lidahnya agar tak tergigit.

Dan ya, ia diminumkan kopi saat itu. Entah untuk apa.

Dan itu adalah kopi pertama yang terekam dengan memori pahit di benak kecilku. Ibu berkali kali bilang, sangat trauma melihat bayi yang demam tinggi, karena itu mengingatkan ibu pada adikku dan juga… diriku. Ya, karena ternyata aku pun mengalami step saat aku balita.

Jadi sebenarnya aku tidak begitu familiar dengan kopi. Seperti yang kubilang sebelumnya, ibu terbiasa meyediakan teh di pagi hari. Tapi, meski begitu, aku senang mengamati (filosofi) para penikmat kopi. Sebagian menurutku, mungkin tercebur pada tren kekinian saja. Bagus untuk dipost, dan bagus untuk dibuat check in lokasi kafenya. Dan sebagian lagi mungkin memang benar-benar penikmat kopi sejati. Mereka belajar dan menggali berbagai informasi tentang perkopian (termasuk hama kopi, wkwkw, anak proteksi tanaman dong).

Lalu, sebagian yang lain lagi, mungkin pencecap segala rasa, pas lagi enak ngopi akan ngopi, pas mau ngeteh akan ngeteh.

Ya, kayak aku ini.

Wes, sudah mau dzuhur, segini aja. Yang jelas, tentu saja bukan sekedar tentang apa yang kita minum, makan atau seberapa kekiniannya hal tersebut. Tapi bagaimana kita merekatkan kenangan terbaik di dalamnya. Kalau kopi nan pahit saja bisa dikasih hati dan quote keren, semestinya hidup kita juga kan. Yuk, jadi pembelajar.

Salam hari minggu,

Arini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s