He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain.

Mudah? Tidak. Saya berkali kali menelan ludah hanya demi menahan agar tak terlalu cepat merespon perkataan orang lain. Agar saya tak berkata ‘he eh’ sekehendak saya lagi.

Sejujurnya, ini menjadi pelajaran penting untuk saya. Bahwa kita harus (terus) belajar ataupun belajar kembali. Ngomong, siapa saja bisa ngomong. Tapi tentu tak semua orang belajar ngomong yang ‘benar’, kecuali dia kerja di bidang public speaking, trainer, bagian pemasaran, dan lain lain lah yang berhubungan dengan ngomong. Ini menunjukkan, ngomong itu butuh ilmu. Padahal, kita tau, semua manusia yang Allah ciptakan sempurna, pasti bisa bicara, bisa ngomong.

Saya sering terinspirasi dengan sebuah cerita, penulisnya pasti telah mahir memainkan kata. Saya bisa menambah cita-cita baru, kala mendengar kisah dari para guru, mereka jelas menyusun deretan kata lewat tahun yang berlalu tanpa tanya. Saya bisa terenyuh sedih, terbakar rasa malu, terbawa marah, waktu dikisahkan tentang perang Badar, minggu lalu, dalam sebuah halaqah. Padahal kisah ini, saya khatamkan sebelum saya tamat SD. Diulang, dibaca, sampai bukunya kini terbelah tak tentu arah. Tapi, lewat omongan yang berbeda, semua tak lagi sama.Ya, ada nyawa. Ada nyawa yang mampu tersalurkan.

Ngomong (yang benar dan baik) itu butuh belajar dan berlatih. Ngomong yang benar dan baik, sekaligus memengaruhi orang lain pada kebaikan, apalagi. Mutlak! Ngomong yang buruk, akan dihisab sama Allah. Balasan yang buruk, jelas buruk pula. Kita imani itu. Ngomong yang baik, pasti dihisab juga sama Allah. Balasan yang baik, insyaaAllah baik juga. Kita yakini dan kita harapkan dalam hati. Kalau begitu, apa yang kita siapkan untuk hari esok?

Sekedar bicara, lalu semua terbuang percuma dan berbuah pahit di neraka? Ataukah mengelola rasa, memadukan bahasa, hingga mengantarkan orang lain pada kebaikan yang sama? Lalu kita menuai lipatan pahala yang tiada tandingannya.

Ah, indahnya.

InsyaaAllah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Yuk, jaga lisan kita.  Dan ya, jadi, jadi saya akan mulai berlatih untuk mengelola (rasa semangat) saya dalam berbicara, hehe…pe er peribadi ieu tah…

 

Semungudh eaaa kakakz…

Gawl ngetz dah

salam,

 

Arini

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s