Kabur dari Rumah

“You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them”

(quote)

Ya, kita tak pernah bisa memilih siapa yang menjadi keluarga kita. Ibu, ayah, kakak, abang, adik, mereka semua adalah hadiah terindah yang diberikan untuk kita. Right?

Sejak kapan?

Sejak kapan akhirnya kau menyadari hal itu? Maksudku, pernahkah kau berada pada fase ah, coba saja aku terlahir sebagai anak orang… ah, andai aku adalah… ah, aku maunya…

Well, dulu sekali, saat masih kecil, aku pernah berpikir begitu. Tentu saja itu bukan ‘pikiran’, itu khayalan lebih tepatnya, hehe. Khayalan anak kecil yang terbuai oleh bacaan bacaan yang belum mampu dijangkaunya. Imaji yang tersandung oleh gambar gambar yang begitu memukau, menyilaukan. Asa yang membumbung ditiup kisah kisah indah, yang digores oleh tinta tinta pujangga.

Ah.

Dulu sekali, di kota seribu parit, Tembilahan, aku pernah berpikir untuk lari dari rumah. Entah berawal dari mana, dipengaruhi halusinasi apa, pokoknya mendadak berpikir apa aku kabur dari rumah ya?

Yang kuingat adalah, aku ME-RA-SA dibedakan, Dianak tirikan. Wkwkw, buah sinetron anak tiri agaknya ini. Dan fixlah akhirnya, ini rencanaku, dulu sekali. Kalau aku kabur, pasti mereka akan berbahagia tanpa diriku. 

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Tentu saja, sebelum benar-benar kabur, aku harus memikirkan banyak hal dalam memutuskan “Rencana Kabur” ini. Aku disudutkan oleh ragu, kemana aku kaburnya? Di Tembilahan ini mau lari ke mana? Kan kabupatennya kecil. Kalo ke pasar, luntang lantung, paling dikenali bapak-bapak yang di agen boat, kan aku sering ke sana sama Abah. Kalo pergi ke pinggiran kota ini, ya paling langsung diantar orang ke polisi, mereka pasti tau aku bukan anak di situ, kan satu kampung kenal semua mereka. Kalo pergi terlalu jauh, aku kan gak ada uang. 

“…aku ingin begini, aku ingin begitu…”

Dan theme song Doraemon pagi itu membuatku berani mengambil keputusan: aku tak akan bisa menonton kartun hari minggu kalau aku kabur.

.

.

.

Dan ya, belum paham.

Mungkin ini #tag yang tepat. Belum paham, kadang membuat kita salah menilai, terlalu cepat menghakimi, sedikit sedikit menyudutkan, membenci, bahkan menyakiti. I am not judging you, this is actually my self talk, untuk mengingatkan diriku sendiri, berpikir, pahamilah sebelum semuanya kau mulai.

 

Hidup di dunia yang sebatas goyangan jempol seperti hari ini, membutuhkan banget yang namanya memahami sesuatu dengan utuh dan benar. Yang paham saja bisa termakan amarah, apalagi yang kurang paham dan belum paham.

Temanku bilang, “Kalau belum tau mending diam aja, biar gak keliatan bodohnya”. Menurutku, dia benar. Bukan cuma agar aib tertutup, tapi juga agar menyelamatkan orang lain dari kebodohan kita. Tapi mungkin lebih tepat lagi kalau ketidaktahuan mendorong kita untuk mencari tahu, lalu bicara tentang kebenaran itu.

Masalahnya, lagi lagi hari ini, yang benar dan salah, samar diliatnya. Rujukan yang sana, beda sama yang sini, lah mau pilih yang mana? Yang sana terlalu ekstrim, katanya. Yang sini terlalu liberalis, ujarnya. Yang tengah ajalah, yang melankolis. Eh maksudnya oportunis. Eh, ituloh maksudnya ng-abu-abu. Biar punya banyak kawan.

Jadi gimana? Baiknya nanya sama siapa? Kiri kanan tengah?

Udah, nanya sama siapa aja, bakal dibilang, ah itukan golongan yang sama, ya wajar, sama opininya. Sama dalilnya.

Loh? Terus gimana ini?

Apa aku kabur aja?

Oalah, tunggu!

***

“Perumpamaan ulama’ di muka bumi ini ibarat bintang di langit, yang digunakan untuk mendapatkan petunjuk di tengah kegelapan darat dan lautan” (HR. Ahmad)

***

Dan saat ulama mulia kita pandang sebelah mata, mau kemana diri ini yang nyatanya tak paham apa-apa? Dan saat ulama kita anggap hina, apa kabar diri yang berlumur alpa?

***

Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (TQS az-Zumar [39]:9)

***

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s