Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya.

Lihat saja tulisan ‘kritis’ Afi Nihaya yang menjadi buah bibir karena membahas tentang keberagaman dan Islam warisan di laman FB nya. Tulisan itu diangkat di berbagai media seakan itu adalah jawaban kebenaran atas segala perselisihan berbau agama yang belakangan ramai terjadi. Afi ramai seakan Afi benar.

Afi dan tulisannya, sedikit banyak telah membuat topik pembahasan ‘memilih Islam’ kembali memuara, kenapa kita menjadi muslim? salahkah mereka yang ditakdirkan lahir dari keluarga non muslim? dan berbagai pertanyaan spiritual lainnya tentu saja. Aku ingin mencuplik beberapa postingan yang banyak dishare oleh teman-temanku, di sini dan di sini.

Tapi, entah bagaimana, aku merasa ada yang janggal dengan ‘rasa’ yang ditampilkan Afi dalam tulisannya. Jika memang Islam adalah sebuah warisan (peninggalan) orang tua kita, bukankah itu sebuah kesyukuran yang besar? Bukankah telah dilahirkan sebagai muslim, dididik sejak kecil dalam keluarga muslim, adalah kebahagiaan? Dan sampai pada suatu titik, aku bertanya, apakah Afi bersyukur dilahirkan sebagai seorang muslim? Maka jika Afi (dan Afi Afi lain) tidak menyadari kedudukan Islam, kemuliaan Islam, sudah sewajarnyalah ia ‘biasa’ saja dengan ‘menjadi muslim atau pun tidak’.   

Suatu hari aku yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar, malas melaksanakan sholat. Mamak berkata padaku hari itu, “Ni, nanti ingat ingat, kalau Mamak sudah pernah ngasih tau, sudah pernah ngajarkan Arini sembahyang, sudah Mamak kasih tau semuanya”. Dan tentang membaca Al Quran, Mamak selalu mengulang, “Di akhirat nanti Al Quran itu jadi syafaat untuk orang yang selalu membacanya”, dan aku bertanya pada Mamakku kala itu, “Apakah Quran itu menjadi perahu yang membawaku berlayar dan tak terkena api neraka?”, Mamakku bilang, “Iya”. Dan aku masih ingat bagaimana air mataku pernah bercucuran menangis karena takut dimarahi Abah kalau masih salah membaca Quran sehabis Maghrib. Abah akan marah kalau aku lupa nama ibukota kabupaten, tapi lebih marah lagi kalau aku tak pandai dan lancar membaca Al Quran.

Maka, lancar membaca Quran dengan tajwidnya, puasa full di bulan Ramadhan, hapal nama 25 nabi dan rasul, hapal rukun Islam rukun iman, tamat berulang kali siroh Rasulullah Muhammad, semuanya terjadi sebelum aku menamatkan sekolah dasar. Dan sejujurnya, orang tuaku tak pernah mengajarkan secara lugas tentang menjadi muslim yang baik, tak pernah sebenar-benarnya mengatakan. Tapi, mereka membuatku (dan tentu saja kakak abang adikku) teramat dekat dengan Islam. Seakan (dan memang) inilah satu-satunya jalan yang seharusnya kami jalani. Tak ada jalan yang lain.

Maka semua yang ditanam itulah yang mungkin telah mendarah daging. Setelah masuk sekolah menengah, atas, bahkan kuliah, aku seperti menumbuhkan benih yang pernah mereka tanam. Aku menemukan pelajaran tentang menjadi pribadi yang baik, anak sholihah harus mengupayakan surga bagi kedua orang tuanya. Aku menemukan pelajaran tentang menjadi manusia yang baik, teman yang mengingatkan akan kebaikan dan kesabaran. Maka dakwah, syariah, khilafah, misalnya, menjadi sesuatu yang tidak asing lagi, meski baru kutahu.

Sampai pada suatu sore, di ujung telepon, suara Abah terdengar. Abah bercerita tentang kesuksesan seorang teman lamanya.

“Teman Abah ini Ni, sangat berhasil, dia membangun sekolah penerbangan yang besar, berhasil sekali dia Ni, padahal dulu sama sekolahnya kayak Abah.”

Diam sesaat, tercekat kuucapkan kala itu, “Abah kan juga berhasil. Abah sudah membesarkan kami, mendidik kami, mengajarkan kami, bahkan menyekolahkan kami sampai sekarang seperti ini.”

Kudengar Abahku tertawa, tapi kurasakan suaranya bahagia, Abah berujar, “Iya Ni.”


Aku pernah mendengar bahwa iman tak bisa diwariskan. Orangtua yang beriman, tak menjamin anak yang beriman pula. Tapi, jika Islam di diriku adalah ‘warisan’ orang tuaku, kukatakan aku bersyukur telah lahir sebagai muslim dan diwariskan sebuah keimanan. Apalagi yang layak kuminta jika iman adalah kunci seluruh asa? 


Jika seorang manusia (Anak Adam) meninggal maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholih yang mendoakannya.
(HR Muslim).

Jika anak sholih adalah kunci, maka bukankah sebaik baik ‘warisan’ adalah keimanan?   

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s