Merindu di Ujung Minggu

Sehabis insiden terbaliknya merah putih di buku panduan pesta olahraga Asia Tenggara 2017 ini, disusul walkout-nya tim sepak takraw putri, lalu drama kehabisan makanan bagi atlet Indonesia, dan rentetan fakta kecurangan lain, rasanya kian menempatkan Malaysia sebagai tetangga yang tak dirindukan. “Lah, siapapun pasti kecewa-lah sama Malaysia”, sampai ungkapan “Sebel banget gue sama Malaysia” ringan , keluar dalam perbicangan teman-temanku beberapa hari ini. Upayaku untuk mencairkan suasana ‘hati’ mereka justru berbuah gelar, “Ah, loe gak nasionalis banget nih!”.

Dicap ‘gak nasionalis’ sebenarnya tak terlalu menyakitkan ketimbang menyadari betapa semunya cinta mereka yang mengatasnamakan nasionalisme ini. Tulisan lawas Shabir Ahmed & Abid Karim dalam buku Akar Nasionalisme di Dunia Islam begitu gamblang rasanya. Nasionalisme dalam (berbagai) sejarah telah membawa pemujanya pada pembelaan mati-matian tanpa peduli sesuatu yang dibela itu benar atau salah. Lebih dari itu, nasionalisme adalah buah naluri mempertahankan diri saat diintervensi: muncul saat tertekan, menguap kala ‘dirasa’ menang. Tak beda dengan binatang. Ya sederhananya, selagi SEA GAMES, meradang, dibilang Indonesia dihinakan, tapi selepas SEA GAMES?

Singkat cerita, kebanggaan atas warna warni bendera telah menciptakan amnesia bahwa sejatinya sesama muslim itu bersaudara. Bahwa dulu umat Islam pernah tak ada sekat, menyatu dalam ikatan yang kuat. Mereka tak melukai hanya karena beda tanah dan negeri, tapi saling mencintai, hidup berdampingan dengan Islam sebagai ideologi. Sampai misionaris masuk dan nasionalisme merasuk. Umat yang dulu satu, kini berseteru. Tak lagi tau kawan, tak lagi kenal lawan.

Maka kutanyakan, “Kita begini mau sampai kapan? Sebenarnya, apa yang patut kita rindukan?”

***
Tulisan singkat di atas adalah #TulisannyaArini yang ke #1 setelah bergabung di sebuah komunitas membaca dan menulis. Nulis singkat, berisi, dan ngena itu butuh latihan yang luar biasa ya. Rutin membaca, memahami, butuh keseriusan banget. Tapi semua itu bisa dilakuin kalau benar-benar menyeriusi. Jadi, sebagai awalan, tulisan akhir minggu lalu diposting di awal minggu pas lagi dapat wifi.
Btw, semoga tulisan ini gak bikin kesalahpahaman (apalagi kebencian) tentang ‘gak nasionalis’ atau ‘nasionalis’. I love Indonesia. Aku mencintai negeri ini. Aku merindu rakyatnya yang sejahtera, merasakan keadilan, menikmati kedamaian. Aku menanam harapan akan alam indahnya yang terus terjaga, lestari. Aku menaruh mimpi yang tinggi bahwa kekayaan buminya akan diresapi hingga anak cucu selamanya. Aku menyimpan semua harap itu dalam, dalam sekali.
Tapi, semua orang bisa berkata yang sama. Jadi, kata-kata tadi mungkin tak punya banyak arti, buatmu. Begitulah. Mungkin kita hanya harus memberi bukti lebih banyak. Tapi lagi lagi tapi, bukan untuk dibenarkan dan diakui, oleh manusia. Apalagi hanya sekedar untuk dipilih buat yang suka nyalon nyalon. Bukan.
Hanya untuk meyakinkan Allah, Rabb yang menciptakan manusia, yang meletakkan amanah khalifah fii al ardhi. Itu saja.

 

 

 

Advertisements

Kerudungan sih, tapi kok…

Menjadi ‘seseorang yang lebih baik’, menurutku bukan sebuah tujuan akhir dalam kehidupan ini. Ibarat jalan di sebuah tebing yang curam, kesempatan ‘menjadi lebih baik’ serupa dengan tembok pembatas di pinggirannya. Ia berperan menjaga si penempuh jalur itu untuk tetap berjalan pada alur yang benar dan tak sampai terjatuh ke jurang. Hingga ia bisa sampai ke tujuan: istiqomah dalam perjalanan itu hingga Allah ridho padanya. 

Aku pernah dicurhati teman, tentang seorang perempuan yang tetap pacaran padahal dia sudah berhijab. “Kan gak cocok Rin, masa jilbab-an (baca: kerudung) pacaran, apa kata orang. Nasehatin gih.” Kau tahu, teman yang memintaku menegur ini, padahal seorang aktivis pacaran juga, tapi kok bisa dia meminta begitu? Continue reading “Kerudungan sih, tapi kok…”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”