Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti…

Cerita ini sudah kuceritakan dalam tulisan beberapa waktu lalu.

Tapi masih ku ingat dan jika boleh terus kukenang, aku terdiam. Hatiku terasa sakit sekaligus hangat. Kekuatanku terpompa memang, tapi ketakutanku belum sirna. Dan alhamdulillah, seminar hari itu berlangsung lancar. Ibuku merekam dengan memori handphonenya yang tak seberapa. Selepas hari itu, Ibu masih memutar rekaman itu sementara aku mual mendengar suaraku sendiri. 

Proses-proses selanjutnya berjalan sebagaimana mestinya. Melewati sidang komisi sekali lagi, mengurus proses submit jurnal, menyelesaikan penulisan tesis, mempersiapkan sidang akhir, dan… menghadapi kebosanan tentu saja. Jelang libur Ramadhan, hanya berkas-berkas administrasi yang harus kuselesaikan. Setidaknya aku tak berkutat lagi dengan angka-angka, gambar, dan tulisan yang sama. Yang di satu sisi adalah sesuatu yang kusenangi dan di sisi lain…mulai menghantui.

Secara tidak formal setelah sidang akhir, meski belum menerima SKL, seseorang dianggap telah menyandang gelar sesuai dengan tempatnya kuliah. Kami sendiri biasa menyelamati teman yang telah sidang dengan menyandingkan gelar MSi di belakang namanya. Tapi selama kepulangan Ramadhan lalu, aku sadar tentang standar S2 buat Abah dan Mamakku.

“Ni, bantu abah masang triplek”

Aku yang sedari tadi menonton Abah memaku sana sini, mendongak dan naik dengan (sedikit) gemeteran ke tangga kayu buatan abahku dan memegang kepingan triplek yang akan dipasang jadi plafon kamar. Abahku tertawa.

“Tangga ni tak kan patah dengan berat badan segitu Ni. Abah aja tahan.”

Aku mendengus sambil tetap gemeteran. Sungguh dibutuhkan keahlian untuk menjaga keseimbangan, memegang tangga dengan erat, memegang triplek dengan erat, dan menahan malu mendengar abahku tertawa.

“Katanya S2”

“Aku kan bukan S2 jadi tukang Bah”, aku membiarkan Mamak tertawa bergabung dengan abah. Mereka membicarakan tentangku dan aku mendengar Mamak berkata, kasian anak abah, naik tangge aje pon takut, sambil tertawa bahagia, nampaknya.

Itu belum selesai. Abah harus memasang atap di lantai 2. Selidik punya selidik, ada seng yang tidak bisa digeser karena ada yang nyangkut. Abah memintaku naik dan menarik seng agar menganga dan abah bisa mendorong seng baru (susah digambarkan realitanya). Aku terengah karena seng itu nyangkut teramat keras ditambah terasa ngilu saat aku melihat ke bawah.

“Katanya S2”, Abah menertawaiku.

Bukan cuma itu, kekuatan fisikku yang lemah (tak berdaya, wkwkw) dalam mengangkat air dalam gayung bekas cat (tau gak ukurannya?), kemampuan mengolah bumbu bumbu dapur yang tak seberapa, setidaknya jadi ‘standar S2’ menurut mereka. Ya, meski tentu saja aku tau perkataan mereka tak serius dan lebih banyak bercanda menggoda.

Tapi, kini berpikir, berbagai standar yang diperoleh seorang anak saat mereka sekolah tinggi, apa selalu menjadi sesuatu yang bisa menukarkan rasa bahagia pada wajah kedua orang tua mereka? Apa ayah dan ibu kita benar benar paham apa makna menjadi sarjana, magister, cumlaude, lulusan terbaik, IPK 4? Oke, mungkin sebagian paham. Tapi aku tau sebagian besar lagi mungkin tak paham.

Jadi apa yang menjadikan mereka bahagia?

Mungkin menjadi seorang sarjana, magister, doktor, hingga profesor bisa membuat mereka senang. Mereka tau anaknya telah sukses. Mungkin bergelar cumlaude, lulusan terbaik, menyandang IPK 4, bisa mereka pahami setelah kita jelaskan. Tapi sebagai seorang anak, aku mencoba merasakan, bahwa kebahagiaan mereka sederhana sekali: ingin memastikan anak mereka sukses dan bahagia.

Itu klise nampaknya. Semua orang tua maunya begitu.

Ya, iya. Tinggal kita mendalami: sukses menurut mereka itu apa? Kebahagiaan yang layak diperoleh oleh anak mereka itu, apa? Dan yang lebih penting, justru balik lagi ke diri kita, anak mereka, apa kita sudah tau standar sukses buat diri kita? Apa kebahagiaan yang patut kita perjuangkan untuk diri kita? Sekali lagi, itu semua mungkin benar-benar klise. Tapi apa iya kita sudah tau? Atau bisa bisa cuma karena ‘orang begini’ saya begini. Karena ‘seharusnya’ begitu, saya begitu. Karena kakakku sudah jadi ‘ini’, maka aku jadi ‘ini’. Itu pertanyaan besar buatku pribadi.

Emang kenapa kalo biasa-biasa aja?

Ehm, kayaknya gak gitu deh, hehe… ya, sederhananya sebagai muslim kita tau kalo Allah menciptakan manusia dengan seperangkat kemampuan untuk berpikir yang membedakan mereka dengan makhluk lainnya. Artinya ya pasti Allah nyuruh kita buat menggunakannya kan.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

(TQS. Al A’raf:179)

 

I mean, kalo sekarang kita hidup sudah seperempat abad, apa iya itu benar-benar langkah yang bakal membawa kita sukses selamanya? Di dunia dan…setelah kehidupan dunia?

Ehm, ini sungguh cerita yang…loncat sana loncat sini. Tapi biar jadi sebuah pengingat untukku sendiri. Sudahkah menjadi S2 mampu menjamin kesuksesan dunia akhiratku? Mampu membukakan pintu surga untuk ayah ibuku?

Ya Allah, berikanlah padaku ilmu yang berkah dan bermanfaat. Berikanlah padaku ilmu yang berkah dan bermanfaat. Aamiin…

me
Sebagai penutup sebuah ke-random-an, kuberikan tatapanku. Tatapan pada peserta pada sebuah acara yang datang terlambat tapi tetap tersenyum bahagia tanpa memahami betapa ku telah menanti sedari tadi. *photo diambil oleh sist @Nurmiatila. Yuk follow Ig nya sist 😂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Standar Anak S2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s