keluarga ++

Wisuda magister kali ini jadi momen berkumpul yang paket komplit banget. Abah Mamak, Kak Dina + Bang Baihaqi + Asma Azka Ahna, Bang Aulia + Kak Putri + Athifa, Ainul, dan tentu saja Ariniiii. Plusnya nenek Es, Nenek Iyo, Lana (adik sepupu), mertua kak Dina alias Mbah Putri dan Mbah Kakung. Hehe… Gak kebayang rumah yang segini, diisi sebanyak ini dan hasilnya ngampar sana sini 😀

Ceritanya dilanjutkan dengan foto foto ya 🙂 Continue reading “keluarga ++”

Advertisements

Permulaan

Tiap menjelang Maghrib pukul 18.00 WIB kurang 20 menit, dari masjid di belakang perumahan selalu terdengar lantunan sholawat dari para santri. Selalu suara yang sama dengan irama yang sama, setidaknya begitu dalam pendengaranku. Senandung salam itu selalu membuat senja terasa hangat dan menenangkan.

Senja, sejak dulu bagiku adalah penutup. Aku tak akan berani berkeliaran lebih lama kalau langit mulai kian kemerahan. Naikan lagi ah, ujaran ini menandakan tak boleh lagi  ada yang bermain di halaman. Beairan lagi ah, artinya mulailah antri berwudhu untuk sholat Mahgrib. Tentu bukan hanya tentang rutinitas, Maghrib dan waktu singkatnya menjadi tempat introspeksi diri: hari yang terlalui tadi, sudahkah berisi amalan yang berarti?  Continue reading “Permulaan”

Seni Beres Beres

Pernah mendengar istilah ‘obesistuff’? Pernah merasa ‘sudah selalu beres-beres’ tapi kemudian rumah segera berantakan kembali? Menyadari betapa banyaknya kertas kertas dari berabad lalu masih tersimpan, gumpalan plastik di sudut dapur, atau majalah tua yang dirasa ‘masih akan dibaca lagi’? Mungkin meresapi seni beres beres dan merapikan ala Jepang ini bisa berguna.

Metode yang dikenal dengan istilah #Konmari ini bukan hanya menceritakan teknik beres beres (beres beres pun punya teknik lo), tapi menekankan filosofi besar. Ya, tentang menemukan tujuan hidup dan mengubah kebiasaan. Penulisnya bahkan memberikan banyak bukti bahwa hanya dengan ‘mengubah cara pikir, kebiasaan seseorang akan berubah’.

Orang-orang yang susah menjaga kerapian dikelompokkan menjadi tiga: (1) tidak tega membuang, (2) lalai mengembalikan, dan (3) kombinasi. Sudah bisa ditebak, 90% klien metode ini adalah tipe kombinasi. Lalai menyimpan alias menaruh sekenanya, dan tidak tega membuang alias semua dirasa sayang. Pernah merasa demikian?

Meski buku ini sukses diterima masyarakat Jepang bahkan menjadi #1 New York Times best seller, menjadi pertanyaan besar jika dibaca seorang muslim. Bagi seorang muslim, kebersihan adalah bagian dari keimanan. Kegiatan harian untuk rapi rapi dan beres beres adalah bagian dari aktivitas yang diniatkan ibadah pada Allah. Pandangan ini tentu menjadi dasar bagi setiap muslim. Konsep ini jelas berbeda dimana sebagian besar masyarakat non muslim, melakukan aktivitas beres beres demi mencapai ketenangan batin semata, mempermudah keberuntungan, melancarkan rezeki, hidup lebih sehat, dan berbagai ukuran duniawi lainnya.

Tapi, teknik teknik #Konmari dapat diambil untuk mempermudah dan well, tak ada salahnya dicoba 😀

Dari Buku “The life changing magic of tidying up” Marie Kondo.

 

***

#TulisannyaArini yang ke #2 setelah yang ke#1, haha. Buku ini sudah cukup lama dibeli, sudah dipraktekkan juga sebagian, tapi belum berhasil keseluruhan >.<

Merindu di Ujung Minggu

Sehabis insiden terbaliknya merah putih di buku panduan pesta olahraga Asia Tenggara 2017 ini, disusul walkout-nya tim sepak takraw putri, lalu drama kehabisan makanan bagi atlet Indonesia, dan rentetan fakta kecurangan lain, rasanya kian menempatkan Malaysia sebagai tetangga yang tak dirindukan. “Lah, siapapun pasti kecewa-lah sama Malaysia”, sampai ungkapan “Sebel banget gue sama Malaysia” ringan , keluar dalam perbicangan teman-temanku beberapa hari ini. Upayaku untuk mencairkan suasana ‘hati’ mereka justru berbuah gelar, “Ah, loe gak nasionalis banget nih!”.

Dicap ‘gak nasionalis’ sebenarnya tak terlalu menyakitkan ketimbang menyadari betapa semunya cinta mereka yang mengatasnamakan nasionalisme ini. Tulisan lawas Shabir Ahmed & Abid Karim dalam buku Akar Nasionalisme di Dunia Islam begitu gamblang rasanya. Nasionalisme dalam (berbagai) sejarah telah membawa pemujanya pada pembelaan mati-matian tanpa peduli sesuatu yang dibela itu benar atau salah. Lebih dari itu, nasionalisme adalah buah naluri mempertahankan diri saat diintervensi: muncul saat tertekan, menguap kala ‘dirasa’ menang. Tak beda dengan binatang. Ya sederhananya, selagi SEA GAMES, meradang, dibilang Indonesia dihinakan, tapi selepas SEA GAMES?

Singkat cerita, kebanggaan atas warna warni bendera telah menciptakan amnesia bahwa sejatinya sesama muslim itu bersaudara. Bahwa dulu umat Islam pernah tak ada sekat, menyatu dalam ikatan yang kuat. Mereka tak melukai hanya karena beda tanah dan negeri, tapi saling mencintai, hidup berdampingan dengan Islam sebagai ideologi. Sampai misionaris masuk dan nasionalisme merasuk. Umat yang dulu satu, kini berseteru. Tak lagi tau kawan, tak lagi kenal lawan.

Maka kutanyakan, “Kita begini mau sampai kapan? Sebenarnya, apa yang patut kita rindukan?”

***
Tulisan singkat di atas adalah #TulisannyaArini yang ke #1 setelah bergabung di sebuah komunitas membaca dan menulis. Nulis singkat, berisi, dan ngena itu butuh latihan yang luar biasa ya. Rutin membaca, memahami, butuh keseriusan banget. Tapi semua itu bisa dilakuin kalau benar-benar menyeriusi. Jadi, sebagai awalan, tulisan akhir minggu lalu diposting di awal minggu pas lagi dapat wifi.
Btw, semoga tulisan ini gak bikin kesalahpahaman (apalagi kebencian) tentang ‘gak nasionalis’ atau ‘nasionalis’. I love Indonesia. Aku mencintai negeri ini. Aku merindu rakyatnya yang sejahtera, merasakan keadilan, menikmati kedamaian. Aku menanam harapan akan alam indahnya yang terus terjaga, lestari. Aku menaruh mimpi yang tinggi bahwa kekayaan buminya akan diresapi hingga anak cucu selamanya. Aku menyimpan semua harap itu dalam, dalam sekali.
Tapi, semua orang bisa berkata yang sama. Jadi, kata-kata tadi mungkin tak punya banyak arti, buatmu. Begitulah. Mungkin kita hanya harus memberi bukti lebih banyak. Tapi lagi lagi tapi, bukan untuk dibenarkan dan diakui, oleh manusia. Apalagi hanya sekedar untuk dipilih buat yang suka nyalon nyalon. Bukan.
Hanya untuk meyakinkan Allah, Rabb yang menciptakan manusia, yang meletakkan amanah khalifah fii al ardhi. Itu saja.

 

 

 

Kerudungan sih, tapi kok…

Menjadi ‘seseorang yang lebih baik’, menurutku bukan sebuah tujuan akhir dalam kehidupan ini. Ibarat jalan di sebuah tebing yang curam, kesempatan ‘menjadi lebih baik’ serupa dengan tembok pembatas di pinggirannya. Ia berperan menjaga si penempuh jalur itu untuk tetap berjalan pada alur yang benar dan tak sampai terjatuh ke jurang. Hingga ia bisa sampai ke tujuan: istiqomah dalam perjalanan itu hingga Allah ridho padanya. 

Aku pernah dicurhati teman, tentang seorang perempuan yang tetap pacaran padahal dia sudah berhijab. “Kan gak cocok Rin, masa jilbab-an (baca: kerudung) pacaran, apa kata orang. Nasehatin gih.” Kau tahu, teman yang memintaku menegur ini, padahal seorang aktivis pacaran juga, tapi kok bisa dia meminta begitu? Continue reading “Kerudungan sih, tapi kok…”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”

Episode Pertama

Hari itu hari Minggu. Aku ditunggu seorang kakak, yang menyebut dirinya ‘uni’, sudah sejak pagi. Jarak tempatku berada dengan lokasi kami akan bertemu mungkin tak lewat dari 20 menit ditempuh dengan angkot. Tapi malas lebih dulu mengurungku. Kuminta selepas lohor. Iya, tak mengapa, uni tunggu, katanya. Aku jengah, ah mau bagaimana lagi. Selepas ashar, aku terpaksa menjumpainya.

Aku pernah belajar bermain peran. Menurutku tak susah menunjukkan wajah menerima meski sebenarnya hati ragu. Pertemuanku sore itu, setidaknya memberiku panggung latihan. Aku ditawari ikut kajian rutin mingguan. Berawal karena rasa tak enak, aku menerima saja.

Minggu berlalu. Bulan berganti. Kau pikirlah sendiri, kalau menurutmu baik, ambil. Kalau tidak, cari yang lain. Kalimat ini muncul dari mulut kakakku. Aku paham maksudnya. Ini tentang keseriusan mengaji. Aku ini, mau sampai kapan main-main?

Apa yang aku tolak dari semua yang diberikan padaku? Ah, bukan. Apa yang bisa aku tolak?

Pertemuan pertama, aku bernostalgia dengan kata-kata iman. Itukan kata lama. Siapa yang tak tau? 

Pertemuan kedua, masih iman. Iman itu ditempuh lewat pemikiran. Ah ya memang. Mamakku pernah bilang.

Pertemuan ketiga, aahh masih iman. Kebenaran rasul, kebenaran kitab. Ya, ya… ini pernah kudapat.

Pertemuan ke…, ah aku lupa. Muncul kata kapitalisme. Alisku berkerut. Apa ini? Menyusul sosialisme. Menyusul ideologi. Disinggung lagi Islam. Berbelit. Berputar. Tapi aku tertantang.

Ayat Al Quran dibuka. Hadits diurai. Ceritera shahabat dialurkan. Nafsiyah diri dikulik. Hari itu, aku mulai terpukau.

Aku tak takut jatuh terlalu dalam.

Ini bukan lubang.

Aku tak takut kehilangan kendaliku.

Aku hanya…teralihkan.

Aku hanya menemukan dunia yang lebih luas, lebih nyata.

Aku hanya…

…telah jatuh cinta.