Atas Nama Cinta

Berselang tiga hari saja sejak perbincangan tentang mirisnya pergaulan muda mudi di Jambi, cukup untuk menyusulkan kisah menyedihkan lainnya: ada mahasiswi bunuh diri. Gantung diri di rumah kontrakannya, kabar yang diedarkan karena ia putus cinta dan diduga…sudah berbadan dua. Continue reading “Atas Nama Cinta”

Advertisements

Screenshot

Seharusnya aku kembali, sejak beberapa waktu lalu. Beberapa bulan lalu. Tapi entah bagaimana, meski ada banyak hal yang muncul di benakku, semua hanya berujung pada kalimat-kalimat pengantar yang terpendam dalam draft demi draft. Aku seperti kehilangan semangat, kehilangan ‘aku’ yang dulu, kehilangan…sesuatu yang rasanya sangat besar dan berharga.

Parahnya, beberapa kali aku merasa ingin menyalahkan. Menyalahkan orang lain. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan siapa dan apapun yang bisa kujadikan tersangka. Kadang memuncak, aku sampai muak.

Aku benar benar tergopoh gopoh menarik diriku sendiri. Terkadang bahuku berat, kadang kakiku lunglai. Aku mencoba merasakan keramaian, meski sentuhan angin di dedaunan lebih nyata terdengar. Ada ketakutan yang menyelimutiku, tapi terlalu berat untuk dituangkan.

***

Mengapa kau berhenti?
Mengapa kau menyalahkan?
Mengapa kau ingin lari?
Mengapa kau takut?
Mengapa?

Tak bisakah kau berjalan lagi?
Tak bisakah kau memaafkan?
Tak bisakah kau melihat lagi?
Tak bisakah kau lebih berani?
Tak bisakah?

***

Sebuah Epilog
Jika nanti kau bertemu denganku, aku sesungguhnya sudah baik baik saja. Teramat baik 🙂

Lalu ia kembali lagi.

***

“Ehm, apakah wanita itu berubah pikiran begitu saja? Kupikir dia sangat ingin menyudahi semuanya”, aku menutup ranselku.
“Memang, tapi di akhir bab 3, penulisnya memasukkan sebuah screenshot, tebak apa isinya?”
“Screenshot pesan?”
“Ya, are you okay?
“Apa, pesannya are you okay?”
“Berhentilah, aku tak mau cerita lagi. Kau baca sendiri”

***

 

 

 

 

 

 

Jambi dalam Belokan Mimpi

Pernah terbersit menjalani hari lebih dari semalam di Jambi? Tidak.
Pernah terbayang menyusuri jalannya, berjalan kaki? Laa.
Pernah terucap ingin mencicipi makanannya? No.
Pernah ber-angan tinggal di Jambi? Nehi.
Pernah ber-mimpi menaruh impian di Jambi?

Seluruhnya tidak. Tidak pernah.

***
Dulu, aku melewati Jambi dengan cerita berbeda. Berbeda tiap kali datang dan pergi. Delapan jam jarak tempuh Tembilahan menuju Jambi, mengajarkanku tentang ketegaran. Delapan jam jarak tempuh Jambi menuju Tembilahan, juga benar benar mengajarkanku tentang harapan. Sederhana, perjalanan dari Tembilahan ke Jambi selalu lebih berat dibanding Jambi ke Tembilahan. Bertahun tahun berteman ‘mabuk darat’. Bertahun tahun ‘membenci’ setiap belokan dalam perjalannya. Bertahun tahun ‘mengutuk’ bau ac, parfum mobil, hingga rumah makan di tengah belantara.

Dan itu membuatku tersadar, ini bukan sekedar perjalanan dan jaraknya yang membentang, tapi tentang…tujuan.

***
Siapa yang sangka, kini aku memasuki bulan ke-enam mendiami sisi Telanai Pura.
Siapa yang menduga, aku telah menyusuri tepian jalannya, di mana hampir tak ada pejalan kaki lainnya.
Siapa yang mengira, aku telah mencoba sana sini masakannya, meski ehm…tak terlalu mengena seleranya.

***
Aku tak menduga bahwa aku akan melewati belokan yang kubenci itu berulang kali, berkali kali. Aku tak menduga akan melewatinya dengan ‘baik baik’ saja bahkan beberapa kali terpaksa ‘membantu’ orang lain yang mabuk darat layaknya aku sebelumnya. Aku tak menduga mampu menerima sentuhan dingin ac, parfum mobil dan bahkan memesan makanan di rumah makan yang tak lagi di tengah belantara (sudah banyak rumah yang dibangun di sana, dan tak lagi benar benar belantara).

Sama sekali tak terduga.

Dan itu lagi lagi membuatku tersadar, ini bukan sekedar perjalanan dan jaraknya yang membentang, tapi tentang…tujuan yang menjadikanmu kuat.

***

Cerita ini terlalu abstrak untuk dipahami. Jelas. Alih alih membuatmu terinspirasi, mungkin malah membantumu bertambah bingung 🙂

Jadi kusudahi saja di sini 🙂 Sederhana saja, ternyata tujuan hidup akan memandu kita melewati apapun demi sampai ke ujungnya. Tak peduli berat, sulit, atau apapun itu. Sampai tanpa kita sadari, kita menjadi ‘pribadi’ yang berbeda. Yang lebih kuat, yang lebih tangguh. 

Bukan begitu?

Terpojok Di Sudut Radikalisme

“Memangnya mau mencari pemimpin se-sempurna apa? Namanya manusia, pasti lah punya salah, wong bukan malaikat kok”, lontaran kalimat ini agaknya menjadi highlight diskusi kami hari itu. Momen tukar pikiran yang biasanya ‘terjadwal’ di akhir jam makan siang, nyatanya berputar pada tema sosok pemimpin yang diharapkan rakyat, kritik mahasiswa, dan berbagai hal lain yang terasa berkaitan.

Meskipun tak persis sama, kalimat tadi mungkin ada di benak sebagian orang. Bahwa ‘kritik’ dan ‘kekecewaan’ yang berlebihan terhadap pemimpin bangsa hari ini, seharusnya tidak terjadi. Terakhir, tentu saja setelah orang nomor wahid di negeri ini kembali menjadi bahan pembicaraan (baca: candaan) akibat menawarkan ‘usaha’ racun kalajengking. Oleh sebagian pihak disebutlah, “Semua saja kalian kritik dan kalian katakan salah”. Continue reading “Terpojok Di Sudut Radikalisme”

Dituntut!!!

Rabbi, rabbi, terasa sakit dadaku sewaktu seorang teman dalam perjalanan pulang berkata padaku, “Dia pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu smp, bahkan oleh pamannya sendiri”.

Allahu akbar, aku rasanya tertegun lama sewaktu siang itu, temanku yang lain berujar, “Dia bilang buat apa aku sholat kalau Allah gak mengabulkan doaku?”

Astaghfirullah, sedih bercampur rasa marah menyeruak di kepalaku sewaktu mendengar kabar bunuh dirinya seorang mahasiswi karena pacarnya meninggal dunia, “Ayahnya baru pulang kerja, pas masuk rumah ketemu anaknya sudah meninggal gantung diri”. Continue reading “Dituntut!!!”

Peduli Amat!

Aku tertegun mendengar perkataannya siang itu, “Who cares?” Walau tak begitu ingat apa yang ia dan temannya bicarakan, tetapi kata yang keluar sebelum ia berlalu, terlanjur membuatku terdiam.

Siapa yang peduli, begitulah mungkin terjemahannya. Bukan kata yang gimana-gimana banget sih, tapi kalau dikaitkan dengan kehidupan kita sebagai seorang muslim, itu membuatku terpikir keadaan apa sih yang mampu membuat seorang muslim, mengucapkan itu, who cares. Keadaan macam apa? Continue reading “Peduli Amat!”

(sebelum menjadi) Ibu Indonesia

Agaknya cacing dalam kaleng sarden dapat lega sejenak. Setidaknya berita kehidupan mereka akan meredup sesaat. Ya, setelah puisi Ibu Indonesia menuai kritik dari umat Islam (dan non muslim sepertinya) di seantero negeri ini. Puisi yang sedari bait pertamanya saja sudah mengusik nurani itu, menjadi viral, diperbicangkan, dipertanyakan tujuannya, disayangkan, bahkan disebut setara untuk dibawa ke ranah hukum: penistaan agama!  Continue reading “(sebelum menjadi) Ibu Indonesia”