Dituntut!!!

Rabbi, rabbi, terasa sakit dadaku sewaktu seorang teman dalam perjalanan pulang berkata padaku, “Dia pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu smp, bahkan oleh pamannya sendiri”.

Allahu akbar, aku rasanya tertegun lama sewaktu siang itu, temanku yang lain berujar, “Dia bilang buat apa aku sholat kalau Allah gak mengabulkan doaku?”

Astaghfirullah, sedih bercampur rasa marah menyeruak di kepalaku sewaktu mendengar kabar bunuh dirinya seorang mahasiswi karena pacarnya meninggal dunia, “Ayahnya baru pulang kerja, pas masuk rumah ketemu anaknya sudah meninggal gantung diri”. Continue reading “Dituntut!!!”

Advertisements

(sebelum menjadi) Ibu Indonesia

Agaknya cacing dalam kaleng sarden dapat lega sejenak. Setidaknya berita kehidupan mereka akan meredup sesaat. Ya, setelah puisi Ibu Indonesia menuai kritik dari umat Islam (dan non muslim sepertinya) di seantero negeri ini. Puisi yang sedari bait pertamanya saja sudah mengusik nurani itu, menjadi viral, diperbicangkan, dipertanyakan tujuannya, disayangkan, bahkan disebut setara untuk dibawa ke ranah hukum: penistaan agama!  Continue reading “(sebelum menjadi) Ibu Indonesia”

Tentang Kesempurnaan

It is too hard to say something right now. Ehm, yup. Setelah kepulanganku ke Riau (sudah hampir 2 bulan), kepalaku masih dipenuhi berbagai hal. Bukan hanya tentang Bogor, as a place, you know. Itulah kenapa aku bahkan belum berani (baca: berhasil) menulis apapun tentang tempat tinggal baruku.

Tapi jujur, aku merasa terlalu jahat menghakimi ‘kepulangan’ ini (yang jelas jelas pilihanku sendiri) sebagai alasan gak bisa nulis. Sebut saja memang malas. Sebut saja memang mau nyalahin keadaan.

Dan, yaa… haha sudahlah. Biarkanlah pembukaan tadi berlalu. Anggaplah aku sedang curhat pada siapapun kalian yang membaca dan…jika berkenan, doakan aku :), doakan aku ‘membaik’ (wkwkwk, curhat beneran >.<) Continue reading “Tentang Kesempurnaan”

Perjalanan Kecil

Punya rencana liburan bareng keluarga, bagi sebagian orang mungkin hal biasa. Tapi, terlahir dan besar di sebuah dusun kecil yang tak terjamah peta, menjadikan liburan dimaknai sebagai sesuatu yang tak lazim, buat apa? Biaya, fakta tentang keluarga kami yang tinggal di wilayah terpencil, dan kurangnya informasi tentang tempat liburan, semua turut andil membentuk definisi liburan di keluarga kami: cukup berkunjung ke rumah nenek dan kakek saja. Kunjungan yang berulang-ulang, bertahun-tahun. Membosankan? Sejujurnya tidak. Menaiki speadboat membelah sungai yang berwarna kecokelatan, disambut monyet-monyet yang berhambur di pepohonan, tenggelam dalam lelap, berselimut gulita, sembari dininabobokan oleh nyanyian kodok setiap malam. Semua selalu menyenangkan, bahkan kini menjelma menjadi kerinduan. Continue reading “Perjalanan Kecil”

Permulaan

Tiap menjelang Maghrib pukul 18.00 WIB kurang 20 menit, dari masjid di belakang perumahan selalu terdengar lantunan sholawat dari para santri. Selalu suara yang sama dengan irama yang sama, setidaknya begitu dalam pendengaranku. Senandung salam itu selalu membuat senja terasa hangat dan menenangkan.

Senja, sejak dulu bagiku adalah penutup. Aku tak akan berani berkeliaran lebih lama kalau langit mulai kian kemerahan. Naikan lagi ah, ujaran ini menandakan tak boleh lagi  ada yang bermain di halaman. Beairan lagi ah, artinya mulailah antri berwudhu untuk sholat Mahgrib. Tentu bukan hanya tentang rutinitas, Maghrib dan waktu singkatnya menjadi tempat introspeksi diri: hari yang terlalui tadi, sudahkah berisi amalan yang berarti?  Continue reading “Permulaan”

Kerudungan sih, tapi kok…

Menjadi ‘seseorang yang lebih baik’, menurutku bukan sebuah tujuan akhir dalam kehidupan ini. Ibarat jalan di sebuah tebing yang curam, kesempatan ‘menjadi lebih baik’ serupa dengan tembok pembatas di pinggirannya. Ia berperan menjaga si penempuh jalur itu untuk tetap berjalan pada alur yang benar dan tak sampai terjatuh ke jurang. Hingga ia bisa sampai ke tujuan: istiqomah dalam perjalanan itu hingga Allah ridho padanya. 

Aku pernah dicurhati teman, tentang seorang perempuan yang tetap pacaran padahal dia sudah berhijab. “Kan gak cocok Rin, masa jilbab-an (baca: kerudung) pacaran, apa kata orang. Nasehatin gih.” Kau tahu, teman yang memintaku menegur ini, padahal seorang aktivis pacaran juga, tapi kok bisa dia meminta begitu? Continue reading “Kerudungan sih, tapi kok…”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”