Permulaan

Tiap menjelang Maghrib pukul 18.00 WIB kurang 20 menit, dari masjid di belakang perumahan selalu terdengar lantunan sholawat dari para santri. Selalu suara yang sama dengan irama yang sama, setidaknya begitu dalam pendengaranku. Senandung salam itu selalu membuat senja terasa hangat dan menenangkan.

Senja, sejak dulu bagiku adalah penutup. Aku tak akan berani berkeliaran lebih lama kalau langit mulai kian kemerahan. Naikan lagi ah, ujaran ini menandakan tak boleh lagi  ada yang bermain di halaman. Beairan lagi ah, artinya mulailah antri berwudhu untuk sholat Mahgrib. Tentu bukan hanya tentang rutinitas, Maghrib dan waktu singkatnya menjadi tempat introspeksi diri: hari yang terlalui tadi, sudahkah berisi amalan yang berarti?  Continue reading “Permulaan”

Advertisements

Kerudungan sih, tapi kok…

Menjadi ‘seseorang yang lebih baik’, menurutku bukan sebuah tujuan akhir dalam kehidupan ini. Ibarat jalan di sebuah tebing yang curam, kesempatan ‘menjadi lebih baik’ serupa dengan tembok pembatas di pinggirannya. Ia berperan menjaga si penempuh jalur itu untuk tetap berjalan pada alur yang benar dan tak sampai terjatuh ke jurang. Hingga ia bisa sampai ke tujuan: istiqomah dalam perjalanan itu hingga Allah ridho padanya. 

Aku pernah dicurhati teman, tentang seorang perempuan yang tetap pacaran padahal dia sudah berhijab. “Kan gak cocok Rin, masa jilbab-an (baca: kerudung) pacaran, apa kata orang. Nasehatin gih.” Kau tahu, teman yang memintaku menegur ini, padahal seorang aktivis pacaran juga, tapi kok bisa dia meminta begitu? Continue reading “Kerudungan sih, tapi kok…”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”

Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”

Kopi Pertama

Quote indah di bawah foto segelas kopi

Lengkap diberi gambar hati

Alangkah lucu orang masa kini

Ramai berkumpul tapi asik sendiri

Eaaa.

Well, kita ini sekarang hidup di zaman modern. Tren ngumpul bareng teman di kafe atau tempat-tempat yang instagramable, lokasi lokasi yang ngehits, sejalan sama berkembangnya sosial media. Dan ya, tentu saja, setiap foto yang dipost, butuh caption. Maka, sebutlah ini era quote. Setiap orang jadi mahir bermain kata. Pepatah lama jadi kembali memuara dan generasi putus cinta makin lihai menempatkan peribahasa.  Continue reading “Kopi Pertama”