Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”

Kopi Pertama

Quote indah di bawah foto segelas kopi

Lengkap diberi gambar hati

Alangkah lucu orang masa kini

Ramai berkumpul tapi asik sendiri

Eaaa.

Well, kita ini sekarang hidup di zaman modern. Tren ngumpul bareng teman di kafe atau tempat-tempat yang instagramable, lokasi lokasi yang ngehits, sejalan sama berkembangnya sosial media. Dan ya, tentu saja, setiap foto yang dipost, butuh caption. Maka, sebutlah ini era quote. Setiap orang jadi mahir bermain kata. Pepatah lama jadi kembali memuara dan generasi putus cinta makin lihai menempatkan peribahasa.  Continue reading “Kopi Pertama”

Tulisan Pertama di 2017

Dan 2017 pun memasuki harinya yang ke-6. Mestinya semangat, tapi kok hawa liburan lebih kenceng ya

Kalau gini, mau gak mau harus nguat nguatin diri sendiri. Semua akan ada masanya. Ya gak?

Seperti masa seminar magister yang akhirnya tiba th 7

Dan beberapa orang bilang, ‘Tenang Rin, aku juga dulu gugupnya berminggu minggu kok’. Mungkin mereka melihat semacam perubahan mengerikan dari diriku, haha, jadi berusaha menenangkan. Padahal…padahal…iya aku memang gugup, . Eh tapi gak berminggu minggu kok. Bahkan lebih tepatnya ya sejak subuh di hari menakjubkan itu. Continue reading “Tulisan Pertama di 2017”

[bagian]

“Sejak kapan kamu suka dengan serangga, Arini?”, demikian tanya wanita di hadapanku yang kuketahui berstatus sebagai seorang psikolog.

“Setelah saya mulai dapat materi kuliah Bu”, jawabku tersenyum.

“Jadi sebelum masuk kuliah, kamu belum tahu tentang jurusan ini?”

“Iya Bu, belum.”

“Kok bisa? Lalu gimana kamu memutuskan untuk kuliah di jurusan ini?”

“Saya disarankan kakak saya, katanya jurusan ini bagus dan nama jurusannya juga bagus,” antara bangga dan malu bercampur dalam kata-kataku.

Pernyataanku sepertinya membuka celah bagi wanita itu untuk mengulik tentang ayah dan ibu, “Jadi orang tua kamu tidak mengarahkan kamu?”

Aku diam sesaat.

Kutarik nafas seakan penuh pertimbangan, “Menurut saya, ayah ibu saya bukan tidak mengarahkan, Bu. Tetapi keterbatasanlah yang membuat ayah dan ibu saya tidak mampu mengakses banyak informasi tentang jurusan jurusan terkini. Meski mereka adalah guru, tetapi jauhnya desa kami, tak memungkinkan orang tua saya untuk mengetahui perkembangan terkini. Karena itu, mereka meminta saran dan masukan dari kakak kakak saya yang telah lebih dulu sekolah di luar daerah.”

Wanita itu, dan kini dua laki laki lain di sampingnya masih memandangku.

“Orang tua saya, memang tidak punya jurusan tertentu yang mereka harapkan saya masuki, tetapi mereka meminta tanggung jawab saya. Atas apapun yang saya pilih nantinya, saya harus bertanggung jawab dan menunjukkan keseriusan saya.”

Aku tercekat, wawancara ini membuatku terseret dalam arus keharuan atas banyak hal. Hingga 20 menit kemudian berlalu, aku akhirnya memunggungi mereka bertiga, “Semoga sukses Arini”, mereka tersenyum atas anggukanku.

 

***

T.E.P.A.T

 

Tepat1

“Kita selalu berharap ada di tempat yang tepat. Bertemu seseorang yang tepat. Pada waktu yang tepat. Berharap sempurna, meski tentu tak mustahil adanya.”

Suatu sistem akan berjalan tatkala organ organ di dalamnya berfungsi, dan sistem milikku saat ini kehilangan organ vital penopangnya. Ya, keyboard leptop yang ‘terkadang’ tak berfungsi normal. Kusebut terkadang karena memang kadang-kadang, kadang berfungsi, lebih sering tidak. Hanya beberapa key yakni “L”, “M”, dan yang parah adalah “enter” serta “space”, selebihnya? Baik. Tapi yang ‘beberapa’ itu justru berhasil menyulap sekumpulan tugas jadi terlantar, ide menulis terbengkalai, dan_yang cukup positif_membuatku mendalami ilmu tentang per-keyboard-an. Cukup mengetikkan beberapa kata kunci di mesin pencari, membawaku pada kesimpulan: aku tak sendiri. Continue reading “T.E.P.A.T”