Menginspirasi Kebaikan

Siapa orang yang sering menginspirasi kamu untuk berbuat kebaikan? Oke, sebelum  itu, jawab ini dulu deh, apakah kebaikan yang kamu lakukan, seringkali terinspirasi oleh orang lain? Ehm…, iya, berbuat baik apa aja. Mudah memaafkan misalnya, selalu meninggalkan sesuatu yang gak bermanfaat, sholatnya tepat waktu, rajin bersedekah, senang membantu orang lain, baik bacaan Qurannya, hebat dakwahnya, lembut lisannya, indah senyumnya (hati hati contoh ini mulai melebar), harum baunya (kian jauh walau masih bisa nyangkut), atau rapi bajunya (oke kita sudahi saja memberi contoh). Kalau iya, tos, berarti kita sama 😀 Continue reading “Menginspirasi Kebaikan”

Advertisements

Umat yang Sedang Belajar

 

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita tulisan tentang “Islam Agama Warisan”, yang menjadi viral di sosial media beberapa waktu lalu. Saat itu sang ‘penulis’ bahkan diundang ke istana negara. Afi Nihaya dianggap ‘berani’ menyuarakan paham keberagaman yang dipandang mulai pudar di tengah masyarakat negeri ini. Meski begitu, pemahaman segar dari Afi ini tetap menjadi sorotan sebagian besar muslim karena bertentangan dengan konsep Islam. Lalu baru baru ini, seorang artis ibukota turut menjadi pembicaraan pasca melepas kerudung yang telah ia kenakan. Pendapatnya tentang ‘beragama atau tidak beragama sejatinya tidak berpengaruh terhadap kehidupan manusia’. Umat Islam bersikukuh menyayangkan pilihannya, sementara sebagian lagi menganggap itu adalah kebebasan dan hak setiap orang. Terlepas dari berbagai peristiwa yang terjadi, ada sebuah fakta yang tak boleh dipungkiri, bahwa umat Islam di negeri ini tengah berada pada puncak semangat keIslaman yang tinggi. Gelombang penolakan atas penistaan al Maidah 51, aksi demi aksi bela Islam dan kriminalisasi ulama, kesadaran umat tentang pentingnya menjaga pemahaman Islam, hingga berkumpulnya berbagai gerakan Islam dalam reuni 212 yang lalu menjadi bukti kerinduan akan persatuan umat Islam. Continue reading “Umat yang Sedang Belajar”

Tentang Kesempurnaan

It is too hard to say something right now. Ehm, yup. Setelah kepulanganku ke Riau (sudah hampir 2 bulan), kepalaku masih dipenuhi berbagai hal. Bukan hanya tentang Bogor, as a place, you know. Itulah kenapa aku bahkan belum berani (baca: berhasil) menulis apapun tentang tempat tinggal baruku.

Tapi jujur, aku merasa terlalu jahat menghakimi ‘kepulangan’ ini (yang jelas jelas pilihanku sendiri) sebagai alasan gak bisa nulis. Sebut saja memang malas. Sebut saja memang mau nyalahin keadaan.

Dan, yaa… haha sudahlah. Biarkanlah pembukaan tadi berlalu. Anggaplah aku sedang curhat pada siapapun kalian yang membaca dan…jika berkenan, doakan aku :), doakan aku ‘membaik’ (wkwkwk, curhat beneran >.<) Continue reading “Tentang Kesempurnaan”

Perjalanan Kecil

Punya rencana liburan bareng keluarga, bagi sebagian orang mungkin hal biasa. Tapi, terlahir dan besar di sebuah dusun kecil yang tak terjamah peta, menjadikan liburan dimaknai sebagai sesuatu yang tak lazim, buat apa? Biaya, fakta tentang keluarga kami yang tinggal di wilayah terpencil, dan kurangnya informasi tentang tempat liburan, semua turut andil membentuk definisi liburan di keluarga kami: cukup berkunjung ke rumah nenek dan kakek saja. Kunjungan yang berulang-ulang, bertahun-tahun. Membosankan? Sejujurnya tidak. Menaiki speadboat membelah sungai yang berwarna kecokelatan, disambut monyet-monyet yang berhambur di pepohonan, tenggelam dalam lelap, berselimut gulita, sembari dininabobokan oleh nyanyian kodok setiap malam. Semua selalu menyenangkan, bahkan kini menjelma menjadi kerinduan. Continue reading “Perjalanan Kecil”

keluarga ++

Wisuda magister kali ini jadi momen berkumpul yang paket komplit banget. Abah Mamak, Kak Dina + Bang Baihaqi + Asma Azka Ahna, Bang Aulia + Kak Putri + Athifa, Ainul, dan tentu saja Ariniiii. Plusnya nenek Es, Nenek Iyo, Lana (adik sepupu), mertua kak Dina alias Mbah Putri dan Mbah Kakung. Hehe… Gak kebayang rumah yang segini, diisi sebanyak ini dan hasilnya ngampar sana sini 😀

Ceritanya dilanjutkan dengan foto foto ya 🙂 Continue reading “keluarga ++”

Permulaan

Tiap menjelang Maghrib pukul 18.00 WIB kurang 20 menit, dari masjid di belakang perumahan selalu terdengar lantunan sholawat dari para santri. Selalu suara yang sama dengan irama yang sama, setidaknya begitu dalam pendengaranku. Senandung salam itu selalu membuat senja terasa hangat dan menenangkan.

Senja, sejak dulu bagiku adalah penutup. Aku tak akan berani berkeliaran lebih lama kalau langit mulai kian kemerahan. Naikan lagi ah, ujaran ini menandakan tak boleh lagi  ada yang bermain di halaman. Beairan lagi ah, artinya mulailah antri berwudhu untuk sholat Mahgrib. Tentu bukan hanya tentang rutinitas, Maghrib dan waktu singkatnya menjadi tempat introspeksi diri: hari yang terlalui tadi, sudahkah berisi amalan yang berarti?  Continue reading “Permulaan”

Merindu di Ujung Minggu

Sehabis insiden terbaliknya merah putih di buku panduan pesta olahraga Asia Tenggara 2017 ini, disusul walkout-nya tim sepak takraw putri, lalu drama kehabisan makanan bagi atlet Indonesia, dan rentetan fakta kecurangan lain, rasanya kian menempatkan Malaysia sebagai tetangga yang tak dirindukan. “Lah, siapapun pasti kecewa-lah sama Malaysia”, sampai ungkapan “Sebel banget gue sama Malaysia” ringan , keluar dalam perbicangan teman-temanku beberapa hari ini. Upayaku untuk mencairkan suasana ‘hati’ mereka justru berbuah gelar, “Ah, loe gak nasionalis banget nih!”.

Dicap ‘gak nasionalis’ sebenarnya tak terlalu menyakitkan ketimbang menyadari betapa semunya cinta mereka yang mengatasnamakan nasionalisme ini. Tulisan lawas Shabir Ahmed & Abid Karim dalam buku Akar Nasionalisme di Dunia Islam begitu gamblang rasanya. Nasionalisme dalam (berbagai) sejarah telah membawa pemujanya pada pembelaan mati-matian tanpa peduli sesuatu yang dibela itu benar atau salah. Lebih dari itu, nasionalisme adalah buah naluri mempertahankan diri saat diintervensi: muncul saat tertekan, menguap kala ‘dirasa’ menang. Tak beda dengan binatang. Ya sederhananya, selagi SEA GAMES, meradang, dibilang Indonesia dihinakan, tapi selepas SEA GAMES?

Singkat cerita, kebanggaan atas warna warni bendera telah menciptakan amnesia bahwa sejatinya sesama muslim itu bersaudara. Bahwa dulu umat Islam pernah tak ada sekat, menyatu dalam ikatan yang kuat. Mereka tak melukai hanya karena beda tanah dan negeri, tapi saling mencintai, hidup berdampingan dengan Islam sebagai ideologi. Sampai misionaris masuk dan nasionalisme merasuk. Umat yang dulu satu, kini berseteru. Tak lagi tau kawan, tak lagi kenal lawan.

Maka kutanyakan, “Kita begini mau sampai kapan? Sebenarnya, apa yang patut kita rindukan?”

***
Tulisan singkat di atas adalah #TulisannyaArini yang ke #1 setelah bergabung di sebuah komunitas membaca dan menulis. Nulis singkat, berisi, dan ngena itu butuh latihan yang luar biasa ya. Rutin membaca, memahami, butuh keseriusan banget. Tapi semua itu bisa dilakuin kalau benar-benar menyeriusi. Jadi, sebagai awalan, tulisan akhir minggu lalu diposting di awal minggu pas lagi dapat wifi.
Btw, semoga tulisan ini gak bikin kesalahpahaman (apalagi kebencian) tentang ‘gak nasionalis’ atau ‘nasionalis’. I love Indonesia. Aku mencintai negeri ini. Aku merindu rakyatnya yang sejahtera, merasakan keadilan, menikmati kedamaian. Aku menanam harapan akan alam indahnya yang terus terjaga, lestari. Aku menaruh mimpi yang tinggi bahwa kekayaan buminya akan diresapi hingga anak cucu selamanya. Aku menyimpan semua harap itu dalam, dalam sekali.
Tapi, semua orang bisa berkata yang sama. Jadi, kata-kata tadi mungkin tak punya banyak arti, buatmu. Begitulah. Mungkin kita hanya harus memberi bukti lebih banyak. Tapi lagi lagi tapi, bukan untuk dibenarkan dan diakui, oleh manusia. Apalagi hanya sekedar untuk dipilih buat yang suka nyalon nyalon. Bukan.
Hanya untuk meyakinkan Allah, Rabb yang menciptakan manusia, yang meletakkan amanah khalifah fii al ardhi. Itu saja.