Membaca Cerita Cinta!

Kalau diingat ingat, terakhir kali aku membaca novel dengan cerita cinta _sebagai tema utamanya_ ya mungkin SMU. Ayat-ayat cinta? Hem, kayaknya itu deh. Setelah itu, aku cuma ‘berhasil’ membaca cerita yang ‘kisah cinta’ nya cuma seumpama teh manis hangat setelah hujan seharian: pelengkap, tapi melekat, duh Rin!  Continue reading “Membaca Cerita Cinta!”

Advertisements

Hari Hari Penuh Tantangan (part 1)

Malam ini_di saat kebanyakan orang pada libur_aku masih dengan sederet ‘kerjaan’ dan seperti biasa, kalo buka laptop, mudah banget ter-dis·tract·ed, hehe, dan ujung-ujungnya bukan pekerjaannya diberesin, malah tiba tiba saja sudah terdorong buat mampir di #JemariArini, nulis weh dulu. Bahwa ide gak muncul sering-sering, jadi pembenaran sesaat malam ini. Continue reading “Hari Hari Penuh Tantangan (part 1)”

A Jadi B, B Jadi Z, Z Jadi Hilang

Jadi, pernah di suatu hari, aku merasa benar benar ingin berhenti menggunakan sosial media. Entah bermula dari mana, yang jelas aku merasa begitu tertekan. Faktanya sih gak ada yang menekan, tapi aku kok ya mudah merasa sebel, kesel, pengennya tuh ngapain gitu. Berita yang kubaca, status orang lain yang muncul, inilah itulah, semuanya kayak bersatu dan rasa rasanya semakin dalam, semakin bikin sakit kepala. Continue reading “A Jadi B, B Jadi Z, Z Jadi Hilang”

Ala Bisa Karena Biasa

Dulu, istilah ‘ala bisa karena biasa’ sering dipakai sebagai cambuk oleh ayah bunda atau bapak ibu guru di sekolah untuk menyemangati anak atau muridnya agar rajin belajar. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin asal tekun berlatih, begitu tekan mereka. Nyatanya, peribahasa itu tak melulu melahirkan pesan positif yang tunggal. Sebab, apapun yang tlah mulai dibiasakan, rupanya dapat berujung pada kata ‘bisa’. Sebut saja kerusakan generasi akibat pergaulan bebas yang kian merajalela hari ini. Berawal dari tak biasa, kini ‘papa mama-an’ bahkan mahir dilakoni anak TK, jadi bisa dibayangkan bagaimana kakak kakaknya di SD, SMP, apalagi SMA. Belumlah bicara mereka yang di bangku perkuliahan hingga dunia kerja. Continue reading “Ala Bisa Karena Biasa”

Atas Nama Cinta

Berselang tiga hari saja sejak perbincangan tentang mirisnya pergaulan muda mudi di Jambi, cukup untuk menyusulkan kisah menyedihkan lainnya: ada mahasiswi bunuh diri. Gantung diri di rumah kontrakannya, kabar yang diedarkan karena ia putus cinta dan diduga…sudah berbadan dua. Continue reading “Atas Nama Cinta”

Screenshot

Seharusnya aku kembali, sejak beberapa waktu lalu. Beberapa bulan lalu. Tapi entah bagaimana, meski ada banyak hal yang muncul di benakku, semua hanya berujung pada kalimat-kalimat pengantar yang terpendam dalam draft demi draft. Aku seperti kehilangan semangat, kehilangan ‘aku’ yang dulu, kehilangan…sesuatu yang rasanya sangat besar dan berharga.

Parahnya, beberapa kali aku merasa ingin menyalahkan. Menyalahkan orang lain. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan siapa dan apapun yang bisa kujadikan tersangka. Kadang memuncak, aku sampai muak.

Aku benar benar tergopoh gopoh menarik diriku sendiri. Terkadang bahuku berat, kadang kakiku lunglai. Aku mencoba merasakan keramaian, meski sentuhan angin di dedaunan lebih nyata terdengar. Ada ketakutan yang menyelimutiku, tapi terlalu berat untuk dituangkan.

***

Mengapa kau berhenti?
Mengapa kau menyalahkan?
Mengapa kau ingin lari?
Mengapa kau takut?
Mengapa?

Tak bisakah kau berjalan lagi?
Tak bisakah kau memaafkan?
Tak bisakah kau melihat lagi?
Tak bisakah kau lebih berani?
Tak bisakah?

***

Sebuah Epilog
Jika nanti kau bertemu denganku, aku sesungguhnya sudah baik baik saja. Teramat baik 🙂

Lalu ia kembali lagi.

***

“Ehm, apakah wanita itu berubah pikiran begitu saja? Kupikir dia sangat ingin menyudahi semuanya”, aku menutup ranselku.
“Memang, tapi di akhir bab 3, penulisnya memasukkan sebuah screenshot, tebak apa isinya?”
“Screenshot pesan?”
“Ya, are you okay?
“Apa, pesannya are you okay?”
“Berhentilah, aku tak mau cerita lagi. Kau baca sendiri”

***

 

 

 

 

 

 

Jambi dalam Belokan Mimpi

Pernah terbersit menjalani hari lebih dari semalam di Jambi? Tidak.
Pernah terbayang menyusuri jalannya, berjalan kaki? Laa.
Pernah terucap ingin mencicipi makanannya? No.
Pernah ber-angan tinggal di Jambi? Nehi.
Pernah ber-mimpi menaruh impian di Jambi?

Seluruhnya tidak. Tidak pernah.

***
Dulu, aku melewati Jambi dengan cerita berbeda. Berbeda tiap kali datang dan pergi. Delapan jam jarak tempuh Tembilahan menuju Jambi, mengajarkanku tentang ketegaran. Delapan jam jarak tempuh Jambi menuju Tembilahan, juga benar benar mengajarkanku tentang harapan. Sederhana, perjalanan dari Tembilahan ke Jambi selalu lebih berat dibanding Jambi ke Tembilahan. Bertahun tahun berteman ‘mabuk darat’. Bertahun tahun ‘membenci’ setiap belokan dalam perjalannya. Bertahun tahun ‘mengutuk’ bau ac, parfum mobil, hingga rumah makan di tengah belantara.

Dan itu membuatku tersadar, ini bukan sekedar perjalanan dan jaraknya yang membentang, tapi tentang…tujuan.

***
Siapa yang sangka, kini aku memasuki bulan ke-enam mendiami sisi Telanai Pura.
Siapa yang menduga, aku telah menyusuri tepian jalannya, di mana hampir tak ada pejalan kaki lainnya.
Siapa yang mengira, aku telah mencoba sana sini masakannya, meski ehm…tak terlalu mengena seleranya.

***
Aku tak menduga bahwa aku akan melewati belokan yang kubenci itu berulang kali, berkali kali. Aku tak menduga akan melewatinya dengan ‘baik baik’ saja bahkan beberapa kali terpaksa ‘membantu’ orang lain yang mabuk darat layaknya aku sebelumnya. Aku tak menduga mampu menerima sentuhan dingin ac, parfum mobil dan bahkan memesan makanan di rumah makan yang tak lagi di tengah belantara (sudah banyak rumah yang dibangun di sana, dan tak lagi benar benar belantara).

Sama sekali tak terduga.

Dan itu lagi lagi membuatku tersadar, ini bukan sekedar perjalanan dan jaraknya yang membentang, tapi tentang…tujuan yang menjadikanmu kuat.

***

Cerita ini terlalu abstrak untuk dipahami. Jelas. Alih alih membuatmu terinspirasi, mungkin malah membantumu bertambah bingung 🙂

Jadi kusudahi saja di sini 🙂 Sederhana saja, ternyata tujuan hidup akan memandu kita melewati apapun demi sampai ke ujungnya. Tak peduli berat, sulit, atau apapun itu. Sampai tanpa kita sadari, kita menjadi ‘pribadi’ yang berbeda. Yang lebih kuat, yang lebih tangguh. 

Bukan begitu?