Kerudungan sih, tapi kok…

Menjadi ‘seseorang yang lebih baik’, menurutku bukan sebuah tujuan akhir dalam kehidupan ini. Ibarat jalan di sebuah tebing yang curam, kesempatan ‘menjadi lebih baik’ serupa dengan tembok pembatas di pinggirannya. Ia berperan menjaga si penempuh jalur itu untuk tetap berjalan pada alur yang benar dan tak sampai terjatuh ke jurang. Hingga ia bisa sampai ke tujuan: istiqomah dalam perjalanan itu hingga Allah ridho padanya. 

Aku pernah dicurhati teman, tentang seorang perempuan yang tetap pacaran padahal dia sudah berhijab. “Kan gak cocok Rin, masa jilbab-an (baca: kerudung) pacaran, apa kata orang. Nasehatin gih.” Kau tahu, teman yang memintaku menegur ini, padahal seorang aktivis pacaran juga, tapi kok bisa dia meminta begitu? Continue reading “Kerudungan sih, tapi kok…”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”

Episode Pertama

Hari itu hari Minggu. Aku ditunggu seorang kakak, yang menyebut dirinya ‘uni’, sudah sejak pagi. Jarak tempatku berada dengan lokasi kami akan bertemu mungkin tak lewat dari 20 menit ditempuh dengan angkot. Tapi malas lebih dulu mengurungku. Kuminta selepas lohor. Iya, tak mengapa, uni tunggu, katanya. Aku jengah, ah mau bagaimana lagi. Selepas ashar, aku terpaksa menjumpainya.

Aku pernah belajar bermain peran. Menurutku tak susah menunjukkan wajah menerima meski sebenarnya hati ragu. Pertemuanku sore itu, setidaknya memberiku panggung latihan. Aku ditawari ikut kajian rutin mingguan. Berawal karena rasa tak enak, aku menerima saja.

Minggu berlalu. Bulan berganti. Kau pikirlah sendiri, kalau menurutmu baik, ambil. Kalau tidak, cari yang lain. Kalimat ini muncul dari mulut kakakku. Aku paham maksudnya. Ini tentang keseriusan mengaji. Aku ini, mau sampai kapan main-main?

Apa yang aku tolak dari semua yang diberikan padaku? Ah, bukan. Apa yang bisa aku tolak?

Pertemuan pertama, aku bernostalgia dengan kata-kata iman. Itukan kata lama. Siapa yang tak tau? 

Pertemuan kedua, masih iman. Iman itu ditempuh lewat pemikiran. Ah ya memang. Mamakku pernah bilang.

Pertemuan ketiga, aahh masih iman. Kebenaran rasul, kebenaran kitab. Ya, ya… ini pernah kudapat.

Pertemuan ke…, ah aku lupa. Muncul kata kapitalisme. Alisku berkerut. Apa ini? Menyusul sosialisme. Menyusul ideologi. Disinggung lagi Islam. Berbelit. Berputar. Tapi aku tertantang.

Ayat Al Quran dibuka. Hadits diurai. Ceritera shahabat dialurkan. Nafsiyah diri dikulik. Hari itu, aku mulai terpukau.

Aku tak takut jatuh terlalu dalam.

Ini bukan lubang.

Aku tak takut kehilangan kendaliku.

Aku hanya…teralihkan.

Aku hanya menemukan dunia yang lebih luas, lebih nyata.

Aku hanya…

…telah jatuh cinta.

[no title]

Harusnya kau rutin menulis selama Ramadhan. Harusnya. Tapi sampai Syawal menginjak minggu pertama, tak satu tulisanpun tercipta. Kecuali [mungkin] kali ini. Jangan mengaku sok sibuk karena kau tak terlalu sibuk.

Jangan mengaku ingin fokus menikmati ibadah Ramadhan, karena ibadah itu tak layak kau jadikan alasan.

Jangan juga mengaku asik bercengkrama dengan keluarga, padahal tanganmu tak juga lepas dari gadget dan saudaranya.

Sudah, kau tak perlu cari alasan. Akui saja.

Akui saja bahwa kau belum serius.

Akui saja bahwa kau malas.

Akui saja bahwa kau belum benar-benar berniat mewujudkan…mimpimu.

 

Bogor, 06 Juli 2017

 

 

 

 

Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

dan jika tiba rasa sesak yang mendalam, lewat tulisan aku berdendang.

ingin kuceritakan untuk meluahkan rasa, tapi tiada sesiapa sanggup ku jumpa.

nanar kutatap, ah mungkin masalah mereka sudah lebih payah, usah kutambah tambah.

maka akan kuusap dada sembari menderai air mata.

berdoa pada Rabb yang Maha Penjaga saja.

biar dikuatkannya diri yang sejatinya milikNya.

biar ditambahkan kesabaran hingga hilang segala luka.

Allah, You are my only hope.