Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

dan jika tiba rasa sesak yang mendalam, lewat tulisan aku berdendang.

ingin kuceritakan untuk meluahkan rasa, tapi tiada sesiapa sanggup ku jumpa.

nanar kutatap, ah mungkin masalah mereka sudah lebih payah, usah kutambah tambah.

maka akan kuusap dada sembari menderai air mata.

berdoa pada Rabb yang Maha Penjaga saja.

biar dikuatkannya diri yang sejatinya milikNya.

biar ditambahkan kesabaran hingga hilang segala luka.

Allah, You are my only hope.

 

yang berharga

kadang, ada benda benda yang ‘sederhana’ tapi begitu berharga

seperti sebuah pemberian yang menunjukkan kasih sayang

kadang, ada hal yang ‘kecil’ tapi melahirkan kebahagiaan yang besar

seperti dukungan yang lahir tanpa diminta

kadang, ada suatu waktu yang ‘singkat’ tapi menyisakan haru dalam ingat

seperti hari hari yang terisi dalam suka duka bersama

 

-dalam doaku untuk kalian-

semoga Allah membalas segenap doa, dukungan, dan pertolongan yang kalian berikan pada ku, teman-teman

-dalam doaku untuk kalian-

semoga kalian mendapat kebaikan yang lebih banyak dari sisi Allah

 

Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”