Terpojok Di Sudut Radikalisme

“Memangnya mau mencari pemimpin se-sempurna apa? Namanya manusia, pasti lah punya salah, wong bukan malaikat kok”, lontaran kalimat ini agaknya menjadi highlight diskusi kami hari itu. Momen tukar pikiran yang biasanya ‘terjadwal’ di akhir jam makan siang, nyatanya berputar pada tema sosok pemimpin yang diharapkan rakyat, kritik mahasiswa, dan berbagai hal lain yang terasa berkaitan.

Meskipun tak persis sama, kalimat tadi mungkin ada di benak sebagian orang. Bahwa ‘kritik’ dan ‘kekecewaan’ yang berlebihan terhadap pemimpin bangsa hari ini, seharusnya tidak terjadi. Terakhir, tentu saja setelah orang nomor wahid di negeri ini kembali menjadi bahan pembicaraan (baca: candaan) akibat menawarkan ‘usaha’ racun kalajengking. Oleh sebagian pihak disebutlah, “Semua saja kalian kritik dan kalian katakan salah”. Continue reading “Terpojok Di Sudut Radikalisme”

Advertisements

Dituntut!!!

Rabbi, rabbi, terasa sakit dadaku sewaktu seorang teman dalam perjalanan pulang berkata padaku, “Dia pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu smp, bahkan oleh pamannya sendiri”.

Allahu akbar, aku rasanya tertegun lama sewaktu siang itu, temanku yang lain berujar, “Dia bilang buat apa aku sholat kalau Allah gak mengabulkan doaku?”

Astaghfirullah, sedih bercampur rasa marah menyeruak di kepalaku sewaktu mendengar kabar bunuh dirinya seorang mahasiswi karena pacarnya meninggal dunia, “Ayahnya baru pulang kerja, pas masuk rumah ketemu anaknya sudah meninggal gantung diri”. Continue reading “Dituntut!!!”

Peduli Amat!

Aku tertegun mendengar perkataannya siang itu, “Who cares?” Walau tak begitu ingat apa yang ia dan temannya bicarakan, tetapi kata yang keluar sebelum ia berlalu, terlanjur membuatku terdiam.

Siapa yang peduli, begitulah mungkin terjemahannya. Bukan kata yang gimana-gimana banget sih, tapi kalau dikaitkan dengan kehidupan kita sebagai seorang muslim, itu membuatku terpikir keadaan apa sih yang mampu membuat seorang muslim, mengucapkan itu, who cares. Keadaan macam apa? Continue reading “Peduli Amat!”

(sebelum menjadi) Ibu Indonesia

Agaknya cacing dalam kaleng sarden dapat lega sejenak. Setidaknya berita kehidupan mereka akan meredup sesaat. Ya, setelah puisi Ibu Indonesia menuai kritik dari umat Islam (dan non muslim sepertinya) di seantero negeri ini. Puisi yang sedari bait pertamanya saja sudah mengusik nurani itu, menjadi viral, diperbicangkan, dipertanyakan tujuannya, disayangkan, bahkan disebut setara untuk dibawa ke ranah hukum: penistaan agama!  Continue reading “(sebelum menjadi) Ibu Indonesia”

lari

Mungkin Desember akhir tahun lalu, kuutarakan, untuk pertama kalinya, pada ibu. “Kenapa?”, suara ibu terdengar dari kejauhan.

“Dulu, ketika orang-orang bertanya, kenapa pulang ke Riau, aku menjawab mereka, ‘aku ingin di dekat ibu dan ayahku’.

“Lalu?”

“Sekarang, nyatanya aku pulang, tapi tak bisa begitu dekat seperti janjiku. Apa kata mereka nanti? Aku pencari alasan? Aku pembohong?”

Aku menahan sesak di dada, teramat sesak, hari itu.

Ibu menenangkanku. Aku tau ia lebih terbebani.

Aku seperti mengejar mimpi, sekaligus lari menyelamatkan diri.

 

 

Jambi, 18 Maret 2018

 

Ngomongin Radikalisme, duh!

Aku tergelitik saat seorang adik bertanya, “Kok bisa mereka bikin bikin tema radikalisme untuk membuat orang Islam takut sama Islam? Padahal kan banyak orang gak tau tentang radikalisme itu apa, bahkan mahasiswa juga sama, banyak yang gak tau tentang itu”. Mungkin sederhananya gini kali ya, “Ada orang yang jualan, tapi barang yang dijualnya itu sesuatu yang ‘kayaknya’ gak dibutuhin sama pembeli, lah kok bisa tetep dijual? Kalo pembeli gak tau barang itu buat apa, cem mana pulak nak make, ye kan?”

***

Dan, oke, gini ceritanya, ehehe. Pertanyaan tadi itu bersumber dari sebuah diskusi yang ke-sekian-kalinya tentang radikalisme. Dengan berbagai tajuk yang berbeda, tapi baunya masih sama: tentang radikalisme yang dijadikan propaganda untuk menyerang Islam. Lah kok? Makanan apa ini? 😀 Continue reading “Ngomongin Radikalisme, duh!”

Menginspirasi Kebaikan

Siapa orang yang sering menginspirasi kamu untuk berbuat kebaikan? Oke, sebelum  itu, jawab ini dulu deh, apakah kebaikan yang kamu lakukan, seringkali terinspirasi oleh orang lain? Ehm…, iya, berbuat baik apa aja. Mudah memaafkan misalnya, selalu meninggalkan sesuatu yang gak bermanfaat, sholatnya tepat waktu, rajin bersedekah, senang membantu orang lain, baik bacaan Qurannya, hebat dakwahnya, lembut lisannya, indah senyumnya (hati hati contoh ini mulai melebar), harum baunya (kian jauh walau masih bisa nyangkut), atau rapi bajunya (oke kita sudahi saja memberi contoh). Kalau iya, tos, berarti kita sama 😀 Continue reading “Menginspirasi Kebaikan”