Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”

Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?

Sebagai seorang muslim, yang sudah sejak lahir, merasa ‘sudah’ Islamis, ya tentu saja. Sampai, saya menyadari kenapa tidak seluruh muslim tampak seperti seharusnya ‘muslim’ dalam bersikap? Kenapa menjadi muslim sejak lahir, tidak lantas menjadikan ia, benar benar ‘muslim’ dalam berpikir? Continue reading “Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?”

Negor Teman

teman yang senantiasa mengingatkan akan kebaikan, barangkali pemberian dari Allah yang kita kerap alpa akannya

blog

Wuhu, hari ini saya mau berbagi cerita alias curhat tentang betapa ‘susahnya’ jadi seseorang yang gak enakan. What? Gak enakan? Yup, tanya dulu deh, siapa yang punya kebiasaan gak enakan kalo ngingetin teman? Cung! Continue reading “Negor Teman”

Tantangan Yang Tersisa

Jika kita kalah kali ini, kita tlah kalah selamanya.

Tak ada tantangan lain, karena ini adalah tantangan yang terakhir dan tersisa.

***

Tantangan yang tersisa BlogBuku adalah jendela dunia, katanya. Huruf demi hurufnya, tlah menyeberangkan penikmatnya dari satu tempat ke tempat lain. Melintaskan pemujanya dari masa ke masa. Layaknya jendela, ia terbuka, terang segala dibuatnya.

Tapi itu dulu.

Dulu sekali, karena hari ini, dunia tak berbatas lagi. Teknologi tlah menyulap yang tak mungkin menjadi nyata. Tak butuh waktu berbulan, berminggu, berhari, karena tiap detik apa yang terjadi, tampil di depan muka. Melintas dalam dengar, mengisi akan ingatan, cukup klik sana sini. Dan dunia, tinggal sebatas jari jemari. Continue reading “Tantangan Yang Tersisa”