Terpojok Di Sudut Radikalisme

“Memangnya mau mencari pemimpin se-sempurna apa? Namanya manusia, pasti lah punya salah, wong bukan malaikat kok”, lontaran kalimat ini agaknya menjadi highlight diskusi kami hari itu. Momen tukar pikiran yang biasanya ‘terjadwal’ di akhir jam makan siang, nyatanya berputar pada tema sosok pemimpin yang diharapkan rakyat, kritik mahasiswa, dan berbagai hal lain yang terasa berkaitan.

Meskipun tak persis sama, kalimat tadi mungkin ada di benak sebagian orang. Bahwa ‘kritik’ dan ‘kekecewaan’ yang berlebihan terhadap pemimpin bangsa hari ini, seharusnya tidak terjadi. Terakhir, tentu saja setelah orang nomor wahid di negeri ini kembali menjadi bahan pembicaraan (baca: candaan) akibat menawarkan ‘usaha’ racun kalajengking. Oleh sebagian pihak disebutlah, “Semua saja kalian kritik dan kalian katakan salah”. Continue reading “Terpojok Di Sudut Radikalisme”

Advertisements

Peduli Amat!

Aku tertegun mendengar perkataannya siang itu, “Who cares?” Walau tak begitu ingat apa yang ia dan temannya bicarakan, tetapi kata yang keluar sebelum ia berlalu, terlanjur membuatku terdiam.

Siapa yang peduli, begitulah mungkin terjemahannya. Bukan kata yang gimana-gimana banget sih, tapi kalau dikaitkan dengan kehidupan kita sebagai seorang muslim, itu membuatku terpikir keadaan apa sih yang mampu membuat seorang muslim, mengucapkan itu, who cares. Keadaan macam apa? Continue reading “Peduli Amat!”

(sebelum menjadi) Ibu Indonesia

Agaknya cacing dalam kaleng sarden dapat lega sejenak. Setidaknya berita kehidupan mereka akan meredup sesaat. Ya, setelah puisi Ibu Indonesia menuai kritik dari umat Islam (dan non muslim sepertinya) di seantero negeri ini. Puisi yang sedari bait pertamanya saja sudah mengusik nurani itu, menjadi viral, diperbicangkan, dipertanyakan tujuannya, disayangkan, bahkan disebut setara untuk dibawa ke ranah hukum: penistaan agama!  Continue reading “(sebelum menjadi) Ibu Indonesia”

Ngomongin Radikalisme, duh!

Aku tergelitik saat seorang adik bertanya, “Kok bisa mereka bikin bikin tema radikalisme untuk membuat orang Islam takut sama Islam? Padahal kan banyak orang gak tau tentang radikalisme itu apa, bahkan mahasiswa juga sama, banyak yang gak tau tentang itu”. Mungkin sederhananya gini kali ya, “Ada orang yang jualan, tapi barang yang dijualnya itu sesuatu yang ‘kayaknya’ gak dibutuhin sama pembeli, lah kok bisa tetep dijual? Kalo pembeli gak tau barang itu buat apa, cem mana pulak nak make, ye kan?”

***

Dan, oke, gini ceritanya, ehehe. Pertanyaan tadi itu bersumber dari sebuah diskusi yang ke-sekian-kalinya tentang radikalisme. Dengan berbagai tajuk yang berbeda, tapi baunya masih sama: tentang radikalisme yang dijadikan propaganda untuk menyerang Islam. Lah kok? Makanan apa ini? 😀 Continue reading “Ngomongin Radikalisme, duh!”

Umat yang Sedang Belajar

 

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita tulisan tentang “Islam Agama Warisan”, yang menjadi viral di sosial media beberapa waktu lalu. Saat itu sang ‘penulis’ bahkan diundang ke istana negara. Afi Nihaya dianggap ‘berani’ menyuarakan paham keberagaman yang dipandang mulai pudar di tengah masyarakat negeri ini. Meski begitu, pemahaman segar dari Afi ini tetap menjadi sorotan sebagian besar muslim karena bertentangan dengan konsep Islam. Lalu baru baru ini, seorang artis ibukota turut menjadi pembicaraan pasca melepas kerudung yang telah ia kenakan. Pendapatnya tentang ‘beragama atau tidak beragama sejatinya tidak berpengaruh terhadap kehidupan manusia’. Umat Islam bersikukuh menyayangkan pilihannya, sementara sebagian lagi menganggap itu adalah kebebasan dan hak setiap orang. Terlepas dari berbagai peristiwa yang terjadi, ada sebuah fakta yang tak boleh dipungkiri, bahwa umat Islam di negeri ini tengah berada pada puncak semangat keIslaman yang tinggi. Gelombang penolakan atas penistaan al Maidah 51, aksi demi aksi bela Islam dan kriminalisasi ulama, kesadaran umat tentang pentingnya menjaga pemahaman Islam, hingga berkumpulnya berbagai gerakan Islam dalam reuni 212 yang lalu menjadi bukti kerinduan akan persatuan umat Islam. Continue reading “Umat yang Sedang Belajar”

Tentang Kesempurnaan

It is too hard to say something right now. Ehm, yup. Setelah kepulanganku ke Riau (sudah hampir 2 bulan), kepalaku masih dipenuhi berbagai hal. Bukan hanya tentang Bogor, as a place, you know. Itulah kenapa aku bahkan belum berani (baca: berhasil) menulis apapun tentang tempat tinggal baruku.

Tapi jujur, aku merasa terlalu jahat menghakimi ‘kepulangan’ ini (yang jelas jelas pilihanku sendiri) sebagai alasan gak bisa nulis. Sebut saja memang malas. Sebut saja memang mau nyalahin keadaan.

Dan, yaa… haha sudahlah. Biarkanlah pembukaan tadi berlalu. Anggaplah aku sedang curhat pada siapapun kalian yang membaca dan…jika berkenan, doakan aku :), doakan aku ‘membaik’ (wkwkwk, curhat beneran >.<) Continue reading “Tentang Kesempurnaan”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”