deg deg an

kalau dulu mau sidang sarjana ga bisa nyenyak tidur sejak h-2.

sekarang jantungku sudah dag dig dug gak karuan sejak h-6 menuju sidang master.

dalam diam, kucoba menerka nerka apa yang membuatku sedemikian rupa.

mungkin sedikitnya tahu. sejenak sudah mampu mendorongku terpacu.

mungkin takut gagal. sejenak kusadari, insyaaAllah tak separah itu.

mungkin, mungkin aku harus berserah.

bahwa beginilah rasanya bertanggung  jawab.

bahwa ini masih sebatas ujian di dunia

bahwa kelak semua insan akan diuji di hadapanNya

tanpa bisa mengelak lagi, menuju akhir yang pasti

 

aku harus belajar mengontrol emosiku.

apapun ini, semua akan selesai.

aku harus belajar berbaik sangka pada Allah

bahwa Ia telah menuliskan jalan terbaik untukku.

bahwa Ia tak pernah memberi di luar batas mampuku.

 

Kampus, 19 April 2017

bismillahi tawakkaltu ‘alallah

walaa haula wa laa quwwata illa billah 

 

 

Advertisements

Gelar Nan Tergelar

“Coba liat, kalian lupa menuliskan gelar kalian di-nama. Gimana bisa? Kalian tau gimana susahnya ngedapetin ini, nyampe lulus, ya ampun.”

Dengan sedikit penekanan wanita yang baru sekitar 10 menit lalu kukenal itu menepuk jidatnya. Kami bertemu saat jadwal verifikasi mahasiswa baru pascasarjana. Tak tau dari mana, tiba tiba saja tercetus lah pembicaraan tentang gelar. Saya dan beberapa teman, memang mengakui tidak menuliskan gelar saat menulis nama kami. Dan bagi kami, itu biasa saja. Jika bukan karena keperluan tertentu, kami hanya menuliskan nama saja.

Continue reading “Gelar Nan Tergelar”

Ketawa Kamu Gimana?

GambarGambarGambarGambarGambar

Hei, sebagai penghuni dunia maya, sering gak ngerasa salah persepsi saat membaca sebuah tulisan? Bukan cuma di dunia maya sih, secara umum, saat membaca ‘tulisan’ maksud saya. Salah paham gimana nih? Tentang penjelasannya?

Ehm, bukan salah persepsi yang berat berat sih. Bukan tentang konten ato pun isi tulisannya yang mau saya ceritain. Tapi tentang “ekspresi” yang ditampilkan oleh penulis. Nah, jadi saya adalah tipe orang yang selalu berusaha membayangkan ekspresi sebenarnya seseorang di dunia maya. Apalagi jika orang itu saya kenal. Salah satu yang paling merepotkan itu adalah kala ada ‘perempuan’ yang di dunia maya menggunakan tulisan untuk menyatakan bahwa dia tersenyum atau tertawa. Kenapa perempuan? Karena saya perempuan. Loh?    Continue reading “Ketawa Kamu Gimana?”

pujangga belantara raya

Pagi itu aku sedang senang dengan sebuah buku yang membuat mataku tak henti berkaca kaca. Sejenak hidungku berair dan rasanya dadaku sesak. Ya, aku merasa aku hidup karenanya.

Pagi itu aku seakan diajak ke sebuah dunia berbeda, menyaksikan cakrawala baru yang betul betul asing di benakku. Melalui tulisan tentang peradaban “kaum Arab” ratusan tahun lalu, yang ditulis oleh seorang professor, aku terperangah. Adrenalinku terpacu, jiwaku membara. Adakah itu benar adanya? Ya, aku merasakan hidup.

Pagi itu, aku mendapatinya dalam barisan kata yang penuh makna. Deretan huruf yang melilit, seperti menjadi pil pahit. Tapi siapa menyangka, rupanya satu kata dari deretan kata yang layaknya ulat itu, punya pahala. Tambah lagi, seorang ulama menafsirkan maknanya. Lagi lagi tersedak, aku tak mengerti sejauh mana kebodohanku. Aku hidup.

Dan pagi itu, aku menemukan kata yang teramat sederhana. Penulisnya bermata sipit dan layaknya artis banyak yang menyukainya. Setelah hari ini, rupanya aku juga. Menyenangi gaya tulisannya yang semudah menelan ludah, tapi berat bagi yang tak peduli paedah. “kalau cinta Allah saja ia lupa, dimana cinta manusia ia letakkan?”

Pagi itu, aku tak pernah menyesal telah hidup. Seperti mereka yang membuatku bahagia, aku pun bertekad sama.

Bogor, 17 Februari 2014

(belum berjudul) Bag. 1

Ah, biar ku delete saja dialog ini | Ah, tapi kan ku bilang apapun itu, adalah sebuah sejarah | Ah, tapi siapa penulis bodoh yang menulis begini? | Ah =_=

 

Sudut Kota, akhir tahun 2009

“…kita tak perlu menangisi sebuah perpisahan tanpa pertemuan, kan…’ 

 

Aku mendapatimu siang itu saat jam istirahat kantor. Kuseruput es jeruk yang baru kupesan, berjalan ke arahmu sambil melirik jam, kau seperti biasa sudah tiba lebih dulu. “Hai sori, udah lama?”

Sambil mengangkat wajah, kau tersenyum. Kulihat kau menutup notebookmu dan mengambil serbet, “Tak pernah berubah, kau selalu sembrono saat meminum sesuatu”. Aku melirik baju depanku, hei hei, aku tak menyadari ada tetesan es jeruk disana, menguning.

Oh, kikuk segera kuambil serbet dan berupaya mengelap kemejaku sendiri. “Ehm…, jadi apa?” Kutarik bangku. 

“Aku akan pindah ke Kalimantan akhir bulan depan, setelah dipertimbangkan aku memang tak ada pilihan lagi”.

Mulutku tiba-tiba mengering. “Bagus”, kata itu yang keluar. Kuremas sarbet ditanganku.

“Aku akan disana dua tahun masa kontrak.”

Aku ragu seperti apa ekspresiku sekarang, tapi kuingat aku ingin tersenyum, “Bagus-lah”, sekarang suaraku benar-benar tercekat. Ku seruput lagi es jerukku.

“Aku akan menikah, seminggu sebelum ke Kalimantan.”

Drrrttt, drrrttt, hp di atas meja bergetar. Aku tersentak, tak jelas. 

“Maaf, aku angkat telpon dulu, dari kantor.”

Aku mengangguk, entah terlihat atau tidak. Mencoba menutupi kekacauanku, kutenggak sisa es jeruk yang sedari tadi masih ditangan. Sekarang aku merasa perutku membutuhkan sesuatu yang lebih dingin untuk menghentikannya bergejolak. 

Bruk.

***

Gambar