Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”

Kopi Pertama

Quote indah di bawah foto segelas kopi

Lengkap diberi gambar hati

Alangkah lucu orang masa kini

Ramai berkumpul tapi asik sendiri

Eaaa.

Well, kita ini sekarang hidup di zaman modern. Tren ngumpul bareng teman di kafe atau tempat-tempat yang instagramable, lokasi lokasi yang ngehits, sejalan sama berkembangnya sosial media. Dan ya, tentu saja, setiap foto yang dipost, butuh caption. Maka, sebutlah ini era quote. Setiap orang jadi mahir bermain kata. Pepatah lama jadi kembali memuara dan generasi putus cinta makin lihai menempatkan peribahasa.  Continue reading “Kopi Pertama”

Yang Berat Itu

Yang berat itu, waktu aku berharap terlalu besar, lalu semua tak terjadi

Jangan berharap pada manusia, karena mereka tak punya apa apa, untuk kau pinta

Dan jangan lupa, dirimu juga manusia

Lalu, aku akan terisak sendiri, tanpa suara

Menyisakan mata yang perih, tanpa siapapun yang tahu

Jangan berharap dimengerti manusia, karena mereka tak berhak apa apa, untuk kau harapkan pengertiannya

Lalu, akan kusudahi dengan meminta pada Rabbnya manusia saja

Aku tak perlu banyak cerita 

Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?

Sebagai seorang muslim, yang sudah sejak lahir, merasa ‘sudah’ Islamis, ya tentu saja. Sampai, saya menyadari kenapa tidak seluruh muslim tampak seperti seharusnya ‘muslim’ dalam bersikap? Kenapa menjadi muslim sejak lahir, tidak lantas menjadikan ia, benar benar ‘muslim’ dalam berpikir? Continue reading “Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?”

Jatuh Cinta di Tengah Jalan

Dulu, blog ini lahir selain karena nyontek blog ini (sebenarnya blog yg awal lagi sih, tapi udah gak ada), juga karena jatuh cinta pada yang lainnya yang kusebut dia. Cinta di tengah jalan. Di tengah jalan, tentu saja karena tidak kumaksudkan dari awal. Sampai sekarang, aku cenderung kurang enak hati kalau mengingatnya. Semoga dia paham ketidakdewasaanku dahulu.

Kadang, aku kagum dengan mereka yang bisa yakin sejak awal. Bagaimana cara mereka bisa memutuskan? Menimbang antara ya atau tidak. Sedang aku? Seperti yang kubilang tadi, cuma bisa jatuh cinta di tengah jalan.

Aku berharap bisa menebus kesalahanku, kalau menurutmu ini adalah kesalahan. Meski menurutku tidak. Aku percaya, seseorang butuh banyak info awal untuk meyakini bahkan menilai sesuatu. Sayangnya, dulu, kau begitu samar. Bahkan, maaf, aku baru pertama mendengar namamu. Tentang sifatmu, kebiasaanmu, yang kau suka dan tidak, aku tak tau, kau begitu asing buatku. Jadi?

Jadi kau tetap cinta yang kutemui di tengah jalan. Tak mengapa kan? Dan, dan tentu saja, seiring waktu yang berlari, aku belajar mengenalmu, meski tetap bukan yang paling tau. Ah ini juga membuatku cemburu, kau tau? Kau mungkin tak sadar, aku sering kerap mencuri dengar tentangmu, dari bisik bisik teman temanku. Aku tak mengerti bagaimana mereka bisa tau semua tentangmu. Apa…apa kau terus terusan bersama mereka? Ah, maaf, kadang aku berpikir terlalu jauh.

Kalau seorang pesilat harus berguru dari gunung ke gunung, maka aku juga sama. Meski bukan gunung tentu saja. Ruang demi ruang, buku demi buku, ku buka demi mencari info tentangmu. Aku juga masuk mendengar kisah kisahmu dari mulut mulut orang orang yang lebih dulu mengenalmu. Nihil? Tidak. Kurang? Selalu. Bahkan hingga kini.

*bersambung*

photo diambil di sini