yang berharga

kadang, ada benda benda yang ‘sederhana’ tapi begitu berharga

seperti sebuah pemberian yang menunjukkan kasih sayang

kadang, ada hal yang ‘kecil’ tapi melahirkan kebahagiaan yang besar

seperti dukungan yang lahir tanpa diminta

kadang, ada suatu waktu yang ‘singkat’ tapi menyisakan haru dalam ingat

seperti hari hari yang terisi dalam suka duka bersama

 

-dalam doaku untuk kalian-

semoga Allah membalas segenap doa, dukungan, dan pertolongan yang kalian berikan pada ku, teman-teman

-dalam doaku untuk kalian-

semoga kalian mendapat kebaikan yang lebih banyak dari sisi Allah

 

deg deg an

kalau dulu mau sidang sarjana ga bisa nyenyak tidur sejak h-2.

sekarang jantungku sudah dag dig dug gak karuan sejak h-6 menuju sidang master.

dalam diam, kucoba menerka nerka apa yang membuatku sedemikian rupa.

mungkin sedikitnya tahu. sejenak sudah mampu mendorongku terpacu.

mungkin takut gagal. sejenak kusadari, insyaaAllah tak separah itu.

mungkin, mungkin aku harus berserah.

bahwa beginilah rasanya bertanggung  jawab.

bahwa ini masih sebatas ujian di dunia

bahwa kelak semua insan akan diuji di hadapanNya

tanpa bisa mengelak lagi, menuju akhir yang pasti

 

aku harus belajar mengontrol emosiku.

apapun ini, semua akan selesai.

aku harus belajar berbaik sangka pada Allah

bahwa Ia telah menuliskan jalan terbaik untukku.

bahwa Ia tak pernah memberi di luar batas mampuku.

 

Kampus, 19 April 2017

bismillahi tawakkaltu ‘alallah

walaa haula wa laa quwwata illa billah 

 

 

Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”