Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

1001 kata: Cerita tentang Abah

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau malah sedih. Ya, entah karena setting-an apanya, sound di leptopku tak menghasilkan suara normal layaknya leptop lain. Suara Opick saja, tak ada yang kenal saat kuputar nasyidnya di kajian muslimah beberapa waktu lalu, “Siapa yang nyanyi Rin, ini lagu Opick kan?”. Yah, singkat kata, semerdu apapun suara penyanyi yang lagunya ter-save di playlistku, kini akan terdengar mencicit, terjepit.

Lalu aku bersyukur untuk apa? Ya, aku bersyukur karena secara kebetulan kondisi ini menolongku. Menolongku untuk ‘terjaga’ dari keharubiruan yang mendalam (apa pula bahasa ku ini!) selama menulis cerita ini. Cerita tentang Abah. Continue reading “1001 kata: Cerita tentang Abah”

Aku beruntung memiliki mereka sebagai keluargaku (1)

Abah.

Tak pernah ada laki-laki sehebat ia.

Yang tak pernah bosan mendengar celotehku tiap pulang sekolah.

Yang selalu bangun paling awal dan membuat kegaduhan agar kami anak-anaknya tak terlelap lagi.

Ia yang selalu mendongeng satu cerita yang sama setiap hari.

Mengulang itu dan itu.

Abah adalah guruku yang terhebat.

Tak ada laki-laki sehebat ia.

Karena ia, aku menjadi diriku.

“A”

Huruf ‘A’ mengawali namaku, nama kakak abangku, dan adikku. 

Kakakku yang pertama bernama Aldina Safitri.

Abangku yang pertama (hanya ada satu kakak laki-laki) namanya Aulia Rahman.

Aku sendiri anak ke tiga, namaku Arini.

Dan adikku satu-satunya Ainul Hikmah.

Yup, seluruh nama kami diawali dengan huruf A. Kata Abah (panggilan untuk Ayah dalam bahasa Banjar, oh iya aku keturunan asli Kalimantan Selatan. Meski sejak lahir hidup di dunia Melayu) huruf A melambangkan pertama.

Abah berdoa agar kami selalu menjadi yang pertama. Menjadi terdepan. Berjiwa pemimpin. Bukan menjadi pengikut. Yang berada di belakang. Menjadi nomor satu dalam berbuat kebaikan. Itulah harapan Abah.

Nah, sesuatu yang buruk adalah HANYA NAMAKU yang satu suku kata. Abah…, ini tidak adil :O

Katanya, dulu namaku pun dua suku kata Arini Azzaharah. Tapi karena kesalahan di tempat, tempat apa ya namanya, jadilah namaku cuma ditulis ARINI. #malangnya.

Tapi doa dan harapan tidak dibatasi singkatnya nama. Namaku Arini, di dalam bahasa Arab termasuk fiil (kata kerja). Di dalam Al Quran, kata ‘arini’ beberapa kali disebutkan dalam pembicaraan antara Nabi Ibrahim dan Allah SWT. Arini sendiri berarti “perlihatkan/tunjukkan padaku”

So, aku akan melengkapi sendiri arti namaku 😀

Tapi, jujur nama yang singkat memudahkan ku saat UN. Haha. #Menyenangkan diri sendiri