Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”

Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”

TERHENTI!

.bahkan segersang apapun, akan ada yang ditakdirkan untuk tumbuh disana.
.bahkan segersang apapun, akan ada yang ditakdirkan untuk tumbuh disana. bahkan sesulit apapun, pasti ada jalan keluarnya.

Jika kau seorang penulis mungkin kau pernah berujar, “Setelah bagian ini, lalu apa lagi seterusnya ya?”
Pun seorang jurnalis, mungkin pernah berjibaku dalam pikir, “Peristiwa yang lalu dan sekarang, apakah sama?”
Dan seorang peneliti mungkin tentu saja disibukkan dengan pertanyaan, “Mengapa diperoleh hasil begini? Apa yang mempengaruhinya?”

Ya, dan adalah sebuah kewajaran ketika muncul berbagai pertanyaan dalam kehidupan ini, tentang apa pun itu. Nah, yang menarik adalah bahwa terkadang tiba-tiba saja seluruh ‘jawaban atas pertanyaan tadi menghilang bagai ditelan bumi’, gak tau dimana, dan tak bisa ditemukan dimanapun. Pernah gak merasa begitu? Continue reading “TERHENTI!”

1001 kata: Cerita tentang Abah

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau malah sedih. Ya, entah karena setting-an apanya, sound di leptopku tak menghasilkan suara normal layaknya leptop lain. Suara Opick saja, tak ada yang kenal saat kuputar nasyidnya di kajian muslimah beberapa waktu lalu, “Siapa yang nyanyi Rin, ini lagu Opick kan?”. Yah, singkat kata, semerdu apapun suara penyanyi yang lagunya ter-save di playlistku, kini akan terdengar mencicit, terjepit.

Lalu aku bersyukur untuk apa? Ya, aku bersyukur karena secara kebetulan kondisi ini menolongku. Menolongku untuk ‘terjaga’ dari keharubiruan yang mendalam (apa pula bahasa ku ini!) selama menulis cerita ini. Cerita tentang Abah. Continue reading “1001 kata: Cerita tentang Abah”