Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)

Dulu sekali, aku pernah dibayar untuk menaikkan dan menurunkan sang saka merah putih. Setiap pagi, kadang masih belum mandi, ku dekap sehelai kain yang tak lagi baru itu. Kubawa dan kuikat pada tali yang melekat pada tiang bendera yang selalu bersuara nyit, nyit, nyit, kalau angin bertiup terlalu kencang. Lalu sore hari, sebelum gelap menaungi, akan kutarik ia segera turun. Kadang, belum sempat dilipat, cukup tergumpal dalam pelukan, ia sudah kubawa berlari dan kuletakkan di rumah, sebelum esok ia berkibar kembali. Continue reading “Terbuai Angin di Tanjung Raya (Part 1)”

Advertisements

Kopi Pertama

Quote indah di bawah foto segelas kopi

Lengkap diberi gambar hati

Alangkah lucu orang masa kini

Ramai berkumpul tapi asik sendiri

Eaaa.

Well, kita ini sekarang hidup di zaman modern. Tren ngumpul bareng teman di kafe atau tempat-tempat yang instagramable, lokasi lokasi yang ngehits, sejalan sama berkembangnya sosial media. Dan ya, tentu saja, setiap foto yang dipost, butuh caption. Maka, sebutlah ini era quote. Setiap orang jadi mahir bermain kata. Pepatah lama jadi kembali memuara dan generasi putus cinta makin lihai menempatkan peribahasa.  Continue reading “Kopi Pertama”

Tantangan Yang Tersisa

Jika kita kalah kali ini, kita tlah kalah selamanya.

Tak ada tantangan lain, karena ini adalah tantangan yang terakhir dan tersisa.

***

Tantangan yang tersisa BlogBuku adalah jendela dunia, katanya. Huruf demi hurufnya, tlah menyeberangkan penikmatnya dari satu tempat ke tempat lain. Melintaskan pemujanya dari masa ke masa. Layaknya jendela, ia terbuka, terang segala dibuatnya.

Tapi itu dulu.

Dulu sekali, karena hari ini, dunia tak berbatas lagi. Teknologi tlah menyulap yang tak mungkin menjadi nyata. Tak butuh waktu berbulan, berminggu, berhari, karena tiap detik apa yang terjadi, tampil di depan muka. Melintas dalam dengar, mengisi akan ingatan, cukup klik sana sini. Dan dunia, tinggal sebatas jari jemari. Continue reading “Tantangan Yang Tersisa”

1001 kata: Cerita tentang Abah

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau malah sedih. Ya, entah karena setting-an apanya, sound di leptopku tak menghasilkan suara normal layaknya leptop lain. Suara Opick saja, tak ada yang kenal saat kuputar nasyidnya di kajian muslimah beberapa waktu lalu, “Siapa yang nyanyi Rin, ini lagu Opick kan?”. Yah, singkat kata, semerdu apapun suara penyanyi yang lagunya ter-save di playlistku, kini akan terdengar mencicit, terjepit.

Lalu aku bersyukur untuk apa? Ya, aku bersyukur karena secara kebetulan kondisi ini menolongku. Menolongku untuk ‘terjaga’ dari keharubiruan yang mendalam (apa pula bahasa ku ini!) selama menulis cerita ini. Cerita tentang Abah. Continue reading “1001 kata: Cerita tentang Abah”

Aku Positif!

Sudah beberapa kali sebenarnya jemariku menyentuh keyboard, me-nari-kannya, hingga menghiasi layar putih di hadapanku. Tapi beberapa kali pula semua hanya singgah dan mengisi antrian draft. Dan sejauh ini, jika tulisanku gak beres sekali, berarti itu gak jadi. Jadi, supaya ga mubazir (nyungsep di draft lagi), kuputuskan malam ini harus jadi satu. Satu pokoknya mah. Continue reading “Aku Positif!”

Semua Tak Mudah

Amir menghentakan kakinya sambil berbalik badan. Sesaat aku bisa melihat bibir mungilnya mengerut. Meski tak kudengar bunyi pintu kamar di banting, tapi aku tahu pasti Amir ada di sana.

***

“Mungkin sebaiknya kau fokus dulu pada kuliahmu Mey”, siang itu Teh Ima membujukku kembali. Aku paham kenapa Teh Ima bersikukuh memintaku berhenti bekerja. Ia tahu gajiku tak seberapa, ia juga tahu betapa beratnya ‘pekerjaan’ku ini.

“Mey akan berhenti Teh, tapi bukan sekarang.”

“Kau masih mau mengurus anak itu?”

“Amir. Dia punya nama”, sedikit kesal ku keraskan suaraku.

“Ya, Amir, atau siapalah”, Teh Ima diam dan menarik nafasnya, “Tapi kau membuang waktumu Mey. Oke, Teteh paham, kau merasa punya tanggung jawab. Amir senang padamu, menurut padamu. Tapi apa yang bisa kau lakukan lagi? Bahkan orang tuanya tak pernah menjenguknya kan? Mereka meninggalkan Amir di sana”, kini Teh Ima menatapku lekat. Aku bisa merasakan ia mencoba menahan diri, pekikan kesalnya sekarang berubah jadi bisikan lirih.

“Mey, begini saja…”

“Mey tahu rasanya ditinggal sendiri, Teh. Dan itu lebih dari sekedar cukup bagi Mey untuk tidak meninggalkan Amir.”

***

"Aku tahu menangis tak membuat jendela ini lebih lebar. Aku tak akan menangis."
‘Aku tahu menangis tak membuat jendela ini terbuka lebih lebar. Maka aku tak akan menangis lagi‘ (Dari Kak Mey untuk Amir)

Palu!

Cerita berikut ini saya tulis di akhir tahun 2010. Sebuah curahan hati? Ehm, saya sendiri lupa apa ini kisah nyata atau bukan. Tapi yang paling saya ingat adalah komentar teman saya saat cerita ini saya boyong ke hadapannya.

“Cerita apaan sih ini? Nggak ngerti”. 

Gedebuk. Plak. Bret. Ada palu menghantam dinding rumah. Kala itu sontak kutatap dia dengan tatapan membunuh. Tapi yang ada dia cuma melengos dan meninggalkan aku yang membeku. Heleh.

Setelah kasus ini, aku tak pernah lagi memintanya membaca ceritaku.

Hahaha, apa ini? Dendam?

Nggak.

Terus?

Dia pindah kosan.

Jih.

———————————————————————

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

 

 

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.