Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

Palu!

Cerita berikut ini saya tulis di akhir tahun 2010. Sebuah curahan hati? Ehm, saya sendiri lupa apa ini kisah nyata atau bukan. Tapi yang paling saya ingat adalah komentar teman saya saat cerita ini saya boyong ke hadapannya.

“Cerita apaan sih ini? Nggak ngerti”. 

Gedebuk. Plak. Bret. Ada palu menghantam dinding rumah. Kala itu sontak kutatap dia dengan tatapan membunuh. Tapi yang ada dia cuma melengos dan meninggalkan aku yang membeku. Heleh.

Setelah kasus ini, aku tak pernah lagi memintanya membaca ceritaku.

Hahaha, apa ini? Dendam?

Nggak.

Terus?

Dia pindah kosan.

Jih.

———————————————————————

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

 

 

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.

Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji

Di samping saya saat ini tergeletak sebuah buku kumal: dilapisi debu dan ada bekas lipatan di bagian sampul. Saat pertama ketemu (saya menemukan buku ini di bawah ranjang saat sedang membereskan kamar), saya coba tiup debunya dengan pelan sambil merem (kayak adegan pilem dimana buku diary lama ditiup lalu dibuka dan keluarlah seberkas cahaya, tak lama, terbongkarlah segala rahasia bahwa ibunya ternyata adalah ibu temannya dan temannya ternyata adalah kakaknya dan…).

Continue reading “Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji”

Cerita Kita Masih Sama: Tak Bersama

Pagi ini masih bangun dengan sedikit sakit di leher. Hiks. Ini gegara tidur tak beraturan, semaunya. Al hasil, tengok kanan kiri pun tersiksa. Salah bantal, begitu sih kata orang-orang tua. Tapi kalau kejadian yang menimpa saya, sebut saja “salah sendiri”, jangan nyalahin bantal. Haha 😛

Hari ini masih ada sederet agenda yang tercatat dalam buku DL saya. Ini itu, ini itu. Sedikit membuat sakit di leher tadi naik ke kepala, haha. Tapi alhamdulillah banget nih, secara perlahan entah bagaimana TL FB saya berisi dengan status status yang menginspirasi. Jadi sebuah kebahagiaan sendiri. Ada yang cerita tentang sekolahnya, rumah tangganya, kerjaannya, dakwahnya, share materi materi Islam, info dunia dan nasional, aaaah… senang senang senang… Walaupun ada juga sebagian kecil yang apdet puisi romantis (ikutan tersipu, padahal buat siapa tau), ada yang bikin status ngelucu (pasti ketawa), ada yang curhat tentang kegalauannya-lah, haha, tapi semua masih dalam koridor ‘membangkitkan semangat’ lah intinya. So, terima kasih banyak teman teman :’)

Mungkin begitulah ‘orang baik’. Mereka melalui hidupnya dengan jalur yang ‘baik’ dan memberikan efek ‘baik’ pada orang lain, yang mungkin tidak mereka sadari. Bukankah ini spesial? Spesial banget buat saya mah.

Oke, setelah ngalor ngidul ke sana sini, akhirnya saya ingat apa yang tadi mau saya tulis. Haha, begini nih kalau nulis tanpa rencana. Udah nulis aja, tapi suka lupa tadi intinya mau apa. Tapi biasanya sih langsung ke-publish kalo momen begini. Justru kalo yang direncana-in, malah sering tertunda, dua apa tiga hari gitu. *Ga jelas*

Jadi saya mau nulis apa? Ehe, sebenarnya ada beberapa ide. Tetapi mungkin ada satu yang beneran mau saya sampaikan, saat ini. Yang lain, nanti. Oh iya, ini bukan karena ada demam AADC-Line ya saya jadi ikutan berpuisi. Haha, ini mah udah lama terpendam, tapi baru inget banget untuk diungkapkan. Atau lebih tepatnya, dijadikan catatan ‘sejarah’ saja.

Jika diam membuatmu mengerti,

aku tlah lama diam.

Jika nyaring kata mengiringkan asa,

sejak dulu aku bercerita

Hanya jika dan rupanya aku masih belajar mengurai makna

Rupanya, cerita kita masih sama.

 

Semburat pagi, tak ada beda

Bagimu, kita tak pernah ada.

 Saulriets Jurmala, Latvija (Sunset in Jurmala, Latvia)

 Cerita kita masih sama: tak bersama.

.tanpa identitas.

Aku ragu sebenarnya apa yang kupikirkan saat menulis cerita di bawah ini.

Sebentar aku berpikir, “Oh…kok bisa sih ada kisah ini?”

Entahlah. Aku benar-benar lupa.

Yang jelas, aku yakin momen ini pasti unik saat itu.

dan aku berharap aku segera ingat.

Selamat membaca. Mohon maaf untuk kisah yang “tak beridentitas” ini.

 

 

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

 

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

 

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

 

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

 

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.

 

Gambar

MEMBELI PENGALAMAN

Aku membuka sebuah blog yang bercerita tentang, yahh kehidupan yang dijalani si penulis. Cerita yang umum saja tentang makna kehidupan, kebersamaan, berbagi, dan rasa syukur. Tapi entah kenapa, aku merasa itu begitu menggugah. Aku berpikir, ah andai aku berada di tengah cerita itu dan menjadi bagiannya. Sejenak aku resapi, mungkin ini pengaruh cara menulis sang pemilik blog. Atau padanan kata yang lekat satu sama lain justru yang membuatku terpukau. Entalah, tapi alur ceritanya jelas membuatku penasaran.   Continue reading “MEMBELI PENGALAMAN”