Peduli Amat!

Aku tertegun mendengar perkataannya siang itu, “Who cares?” Walau tak begitu ingat apa yang ia dan temannya bicarakan, tetapi kata yang keluar sebelum ia berlalu, terlanjur membuatku terdiam.

Siapa yang peduli, begitulah mungkin terjemahannya. Bukan kata yang gimana-gimana banget sih, tapi kalau dikaitkan dengan kehidupan kita sebagai seorang muslim, itu membuatku terpikir keadaan apa sih yang mampu membuat seorang muslim, mengucapkan itu, who cares. Keadaan macam apa? Continue reading “Peduli Amat!”

Advertisements

(sebelum menjadi) Ibu Indonesia

Agaknya cacing dalam kaleng sarden dapat lega sejenak. Setidaknya berita kehidupan mereka akan meredup sesaat. Ya, setelah puisi Ibu Indonesia menuai kritik dari umat Islam (dan non muslim sepertinya) di seantero negeri ini. Puisi yang sedari bait pertamanya saja sudah mengusik nurani itu, menjadi viral, diperbicangkan, dipertanyakan tujuannya, disayangkan, bahkan disebut setara untuk dibawa ke ranah hukum: penistaan agama!  Continue reading “(sebelum menjadi) Ibu Indonesia”

Ngomongin Radikalisme, duh!

Aku tergelitik saat seorang adik bertanya, “Kok bisa mereka bikin bikin tema radikalisme untuk membuat orang Islam takut sama Islam? Padahal kan banyak orang gak tau tentang radikalisme itu apa, bahkan mahasiswa juga sama, banyak yang gak tau tentang itu”. Mungkin sederhananya gini kali ya, “Ada orang yang jualan, tapi barang yang dijualnya itu sesuatu yang ‘kayaknya’ gak dibutuhin sama pembeli, lah kok bisa tetep dijual? Kalo pembeli gak tau barang itu buat apa, cem mana pulak nak make, ye kan?”

***

Dan, oke, gini ceritanya, ehehe. Pertanyaan tadi itu bersumber dari sebuah diskusi yang ke-sekian-kalinya tentang radikalisme. Dengan berbagai tajuk yang berbeda, tapi baunya masih sama: tentang radikalisme yang dijadikan propaganda untuk menyerang Islam. Lah kok? Makanan apa ini? 😀 Continue reading “Ngomongin Radikalisme, duh!”

Menginspirasi Kebaikan

Siapa orang yang sering menginspirasi kamu untuk berbuat kebaikan? Oke, sebelum  itu, jawab ini dulu deh, apakah kebaikan yang kamu lakukan, seringkali terinspirasi oleh orang lain? Ehm…, iya, berbuat baik apa aja. Mudah memaafkan misalnya, selalu meninggalkan sesuatu yang gak bermanfaat, sholatnya tepat waktu, rajin bersedekah, senang membantu orang lain, baik bacaan Qurannya, hebat dakwahnya, lembut lisannya, indah senyumnya (hati hati contoh ini mulai melebar), harum baunya (kian jauh walau masih bisa nyangkut), atau rapi bajunya (oke kita sudahi saja memberi contoh). Kalau iya, tos, berarti kita sama 😀 Continue reading “Menginspirasi Kebaikan”

Tentang Kesempurnaan

It is too hard to say something right now. Ehm, yup. Setelah kepulanganku ke Riau (sudah hampir 2 bulan), kepalaku masih dipenuhi berbagai hal. Bukan hanya tentang Bogor, as a place, you know. Itulah kenapa aku bahkan belum berani (baca: berhasil) menulis apapun tentang tempat tinggal baruku.

Tapi jujur, aku merasa terlalu jahat menghakimi ‘kepulangan’ ini (yang jelas jelas pilihanku sendiri) sebagai alasan gak bisa nulis. Sebut saja memang malas. Sebut saja memang mau nyalahin keadaan.

Dan, yaa… haha sudahlah. Biarkanlah pembukaan tadi berlalu. Anggaplah aku sedang curhat pada siapapun kalian yang membaca dan…jika berkenan, doakan aku :), doakan aku ‘membaik’ (wkwkwk, curhat beneran >.<) Continue reading “Tentang Kesempurnaan”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”

Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji

Di samping saya saat ini tergeletak sebuah buku kumal: dilapisi debu dan ada bekas lipatan di bagian sampul. Saat pertama ketemu (saya menemukan buku ini di bawah ranjang saat sedang membereskan kamar), saya coba tiup debunya dengan pelan sambil merem (kayak adegan pilem dimana buku diary lama ditiup lalu dibuka dan keluarlah seberkas cahaya, tak lama, terbongkarlah segala rahasia bahwa ibunya ternyata adalah ibu temannya dan temannya ternyata adalah kakaknya dan…).

Continue reading “Kalau Raditya Dika Jadi Anak Ngaji”