Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”

Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?

Sebagai seorang muslim, yang sudah sejak lahir, merasa ‘sudah’ Islamis, ya tentu saja. Sampai, saya menyadari kenapa tidak seluruh muslim tampak seperti seharusnya ‘muslim’ dalam bersikap? Kenapa menjadi muslim sejak lahir, tidak lantas menjadikan ia, benar benar ‘muslim’ dalam berpikir? Continue reading “Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?”

Monolog Kongres Ibu Nusantara

Latepost banget ini, hehe…

Desember 2016 yang lalu, saya dapat kesempatan bergabung dalam kegiatan rutin tahunan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Kongres Ibu Nusantara ini, diadakan di berbagai kota di Indonesia. Saya berkesempatan menulis monolog yang akan dibacakan dalam kegiatan ini. Dan alhamdulillah untuk pelaksanaan di Jakarta, saya membacakannya sendiri.

Duh, memang masih jauh dari yang namanya hebat, keren. Tapi sungguh, gelapnya Balai Sudirman hari itu, senyapnya ribuan kepala, menjadi pemicu bagi diri saya. Saya hanya ingin berkontribusi atas apa yang saya mampu. jika ini baik, semoga Allah memberi kebaikan pada diri saya.

Btw, saya mengenakan kerudung hitam, jilbab (gamis) hitam, dan saya senang dengan momen yang tercipta, wkwkw…

Lebih kurang lima menitan. Monolognya tercipta dalam momen yang beragam: mau tidur, pas jalan, naik angkot, nanya sana sini, wkwkw… Musik, pencocokan juga dicari di hari hari terakhir jelang acara. Tergesa memang, tapi alhamdulillah untuk segalanya ya Allah. Continue reading “Monolog Kongres Ibu Nusantara”

Nanti Juga Diam

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang suka berkomentar, “Biarin aja, nanti juga diam” atau kalimat yang semakna dengan itu. Ehm, jadi ceritanya berawal dari baca-baca komentar di sosial media, yang selalu muncul pihak pro dan kontra (kadang ada yang netral, katanya, katanya ini loh ya) atas berbagai hal, ya kan. Dan dengan menjamurnya sosial media hari ini, orang dapat dengan mudah dan jelas menunjukkan dukungan atau penolakannya atas sesuatu. Bukan masalah tentunya, karena setiap orang punya hak untuk itu. Yang jadi gak enak adalah, waktu terjadi perbedaan pendapat suka ada suara nyaring [yang seperti nyari aman] dengan bilang, “Biarin aja, nanti juga diam”.

Well, sejujurnya, kalimat pendek tadi [menurut saya] justru seakan-akan wujud kekesalan atau lebih tepatnya ketidakpedulian atas apa yang diperjuangkan oleh orang lain. Anggapan mereka, ya biarin aja mereka protes sana sini, nanti kalau udah beres juga akan sunyi senyap lagi.

Misal, dalam kasus #BelaAlquran yang lalu, gak sedikit loh yang bilang gini, “Udah, biarin aja. Paling juga ntar kalo udah capek, bakal berenti mereka aksi”. Dan, contoh teranyar tentu saja naiknya harga listrik sama cabe, “Udah biarin aja pada sewot harga cabe tinggi, paling kalo butuh juga bakal dibeli, kok”. Nyelekit banget.

***

Well, entahlah, lagi lagi ini tentu cuma pandangan saya (siapalah saya, big eye onion head ). Nanti juga diam, sebenarnya dapat dimaknai dengan ‘peng-anggap-an remeh’ atas apa yang diperjuangkan oleh orang lain. Itu sama saja dengan ‘Nih, gue dengarin lu ngomong, gue dengerin kok, tapi gak bermaksud nanggepin atau ngejawab, nyakitin gak? So, what is the purpose of discussion? Communication?  

calm down crazy rabbit

 

Atau, kalau dalam kasus #BelaAlquran, ucapan ucapan itu bermakna ketidaktahuan dan peremehan tentang apa yang mendorong umat Islam berangkat aksi sekaligus mengorbankan banyak hal dalam hidup mereka. Seakan umat Islam hanya ‘sedang’ kurang kerjaan tapi kelebihan semangat, seakan nanti kalau sudah lelah dan kerjaan lain menumpuk, mereka akan lupa lagi dan senyap lagi dalam membela al quran dan Islam. Ini menyakitkan. If you are moslem, and you think like this, hhh…

            kill myself crazy rabbit

 

Dan, oke tentang cabe. Ada sebagian yang menyatakan tak setuju dengan kenaikan harga cabe karena mencekik masyarakat. Mereka bilang, harusnya pemerintah punya solusi dong gimana supaya harga terjangkau, tapi petani tetap untung. Itulah fungsi pemerintah. Solusi tanam sendiri, ya tentu skala rumah tangga, ada yang bisa ada yang enggak. Kalo pun bisa, sebanyak apa yang bisa ditanam. Alasan lain, mangga liat liat sendiri yah.

Dan yang setuju harga cabe naik, juga ada. Dengan anggapan, harga ini demi kebaikan petani. Yah saya kuliah di pertanian, saya juga senang kalau petani merasakan keuntungan dari proses bertani mereka. Saya selalu berharap pertanian negeri ini maju, petaninya hidup makmur, dan ini tentu keinginan banyak orang. Tapi tentu bukan untuk sekali dua kali, terus selebihnya rugi kan. Dan seterusnya lah ya alasan yang mendukung ini.

Tapi, intinya, selama masih fit [otaknya], semua orang bisa berdiskusi. Semua orang bisa saling membuka pemahaman. Semua orang bisa saling mencerdaskan. Begitukan semestinya kita?

embarrassed4 onion head

Well, pesan inti ada pada secarik kalimat di atas. Tapi sebagai penutup, sejujurnya, saya merasa sedih (ditambah malu banget) kalau yang bersikap begini (baca: yang komen komen tadi) adalah mahasiswa. Meski nggak berada pada kelompok apapun, cobalah -ketidakterlibatan- kita, jangan ditunjukkan dengan peremehan atas apa yang diperjuangkan oleh orang lain. Salah salah, sikap itu malah menunjukkan identitas sosok sosok yang pragmatis. Alias, kita justru sudah berkubu pada pragmatisme. Kita yang justru sudah memihak, tanpa kita sadari.

Dan parahnya lagi, kalau sikap begini juga ditunjukkan sama pemerintah. Ini parahnya kebangetan. Lha wong tugasnya ngurusin rakyat, kok rakyatnya ngadu, malah gak dianggap penting, gak didengerin. Eh, didengerin deng, cuma ada lanjutannya, ‘Sudah, biarkan mereka bicara, tapi saya tidak [akan] bertindak apa-apa’. Ups. Emang ada yang begini? Ah sudahlah.

evil smile onion head

 

Salam,

arini  

Negor Teman

teman yang senantiasa mengingatkan akan kebaikan, barangkali pemberian dari Allah yang kita kerap alpa akannya

blog

Wuhu, hari ini saya mau berbagi cerita alias curhat tentang betapa ‘susahnya’ jadi seseorang yang gak enakan. What? Gak enakan? Yup, tanya dulu deh, siapa yang punya kebiasaan gak enakan kalo ngingetin teman? Cung! Continue reading “Negor Teman”