Kerudungan sih, tapi kok…

Menjadi ‘seseorang yang lebih baik’, menurutku bukan sebuah tujuan akhir dalam kehidupan ini. Ibarat jalan di sebuah tebing yang curam, kesempatan ‘menjadi lebih baik’ serupa dengan tembok pembatas di pinggirannya. Ia berperan menjaga si penempuh jalur itu untuk tetap berjalan pada alur yang benar dan tak sampai terjatuh ke jurang. Hingga ia bisa sampai ke tujuan: istiqomah dalam perjalanan itu hingga Allah ridho padanya. 

Aku pernah dicurhati teman, tentang seorang perempuan yang tetap pacaran padahal dia sudah berhijab. “Kan gak cocok Rin, masa jilbab-an (baca: kerudung) pacaran, apa kata orang. Nasehatin gih.” Kau tahu, teman yang memintaku menegur ini, padahal seorang aktivis pacaran juga, tapi kok bisa dia meminta begitu? Continue reading “Kerudungan sih, tapi kok…”

Standar Anak S2

Biasanya saat seminar hasil ada 1 hal yang menghantui: takut gak bisa menjawab pertanyaan peserta seminar. Tapi di seminar hasil penelitian yang lalu, ketakutanku bertambah: kehadiran Abah dan Mamak. Jujur, keberadaan mereka membuatku sedikit tertekan. Aku takut seandainya nanti mereka menyaksikan aku gagal, atau tampil buruk, atau tak mampu menjawab pertanyaan, atau…ahh, kau taulah berbagai hal sekandung lainnya. Sampai akhirnya, terhambur juga kalimat pamungkas dari mulutku pagi itu sesaat sebelum aku memasuki ruang seminar: “…maafkan aku ya Bah, Mak kalau nanti… Continue reading “Standar Anak S2”

Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

He-eh

Buat yang sering bicara sama saya (dan menyadari), pasti tau, saya kalo ngomong suka bilang ‘he eh’ sebagai pengganti ‘iya’. Sampai sebelum saya mendapat nasehat dari ‘seseorang’ (semoga Allah merahmatinya), saya tak pernah merasa (atau bahkan sadar) kalo itu kebiasaan buruk. Sampai saya diingatkan bahwa itu hal buruk dan saya harus memperbaiki cara saya menanggapi perkataan orang lain. Continue reading “He-eh”

Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?

Sebagai seorang muslim, yang sudah sejak lahir, merasa ‘sudah’ Islamis, ya tentu saja. Sampai, saya menyadari kenapa tidak seluruh muslim tampak seperti seharusnya ‘muslim’ dalam bersikap? Kenapa menjadi muslim sejak lahir, tidak lantas menjadikan ia, benar benar ‘muslim’ dalam berpikir? Continue reading “Apakah kamu mau diatur oleh Allah, Arini?”

Monolog Kongres Ibu Nusantara

Latepost banget ini, hehe…

Desember 2016 yang lalu, saya dapat kesempatan bergabung dalam kegiatan rutin tahunan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Kongres Ibu Nusantara ini, diadakan di berbagai kota di Indonesia. Saya berkesempatan menulis monolog yang akan dibacakan dalam kegiatan ini. Dan alhamdulillah untuk pelaksanaan di Jakarta, saya membacakannya sendiri.

Duh, memang masih jauh dari yang namanya hebat, keren. Tapi sungguh, gelapnya Balai Sudirman hari itu, senyapnya ribuan kepala, menjadi pemicu bagi diri saya. Saya hanya ingin berkontribusi atas apa yang saya mampu. jika ini baik, semoga Allah memberi kebaikan pada diri saya.

Btw, saya mengenakan kerudung hitam, jilbab (gamis) hitam, dan saya senang dengan momen yang tercipta, wkwkw…

Lebih kurang lima menitan. Monolognya tercipta dalam momen yang beragam: mau tidur, pas jalan, naik angkot, nanya sana sini, wkwkw… Musik, pencocokan juga dicari di hari hari terakhir jelang acara. Tergesa memang, tapi alhamdulillah untuk segalanya ya Allah. Continue reading “Monolog Kongres Ibu Nusantara”