Mereka Mewariskanku Iman

Berkali-kali kutekan backspace keyboardku, menghubungkan huruf-huruf baru, dan memadankan kata demi kata, untuk menjalin rantaian cerita yang mengulur padu. Berminggu setelah penguasa negeri ini menampakkan raut kecut pada ormas Islam dan dakwah, rasa-rasanya tak banyak yang berubah. Status kenalanku yang seorang pedagang masih dipenuhi dengan laporannya tentang customer yang nyinyir, beberapa masih setia membagi tautan tentang ‘Kamu Beruntung Jadi Anak 90-an’ dan beberapa lagi memimpikan adanya hari libur nasional dengan menggunakan hashtag HariPatahHatiNasional. Di sisi lain tentu saja, media-media mainstream, tetap istiqomah meramaikan ide-ide yang sejalan dengan ‘kehendak’ penguasa, yang tak berbau Islam fundamentalis, tampaknya. Continue reading “Mereka Mewariskanku Iman”

1001 kata: Cerita tentang Abah

Aku tak tau apakah harus bersyukur atau malah sedih. Ya, entah karena setting-an apanya, sound di leptopku tak menghasilkan suara normal layaknya leptop lain. Suara Opick saja, tak ada yang kenal saat kuputar nasyidnya di kajian muslimah beberapa waktu lalu, “Siapa yang nyanyi Rin, ini lagu Opick kan?”. Yah, singkat kata, semerdu apapun suara penyanyi yang lagunya ter-save di playlistku, kini akan terdengar mencicit, terjepit.

Lalu aku bersyukur untuk apa? Ya, aku bersyukur karena secara kebetulan kondisi ini menolongku. Menolongku untuk ‘terjaga’ dari keharubiruan yang mendalam (apa pula bahasa ku ini!) selama menulis cerita ini. Cerita tentang Abah. Continue reading “1001 kata: Cerita tentang Abah”