Kabur dari Rumah

“You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them”

(quote)

Ya, kita tak pernah bisa memilih siapa yang menjadi keluarga kita. Ibu, ayah, kakak, abang, adik, mereka semua adalah hadiah terindah yang diberikan untuk kita. Right?

Sejak kapan? Continue reading “Kabur dari Rumah”

Advertisements

Konsultasi Ala

konsul

Dan, dan insiden hilangnya dua potong ayam (belum dapat dipastikan apakah telah digoreng atau belum) milik ayah teman saya menjadi perbincangan menarik pagi ini. Dua potong ayam yang semestinya nikmat disantap, telah dicuri oleh keluarga kucing (maaf ralat: hanya ibu kucing) yang datang dengan kerelaan sendiri ke rumah teman saya tersebut. Kondisi kian buruk karena kehadiran keluarga kucing itu sebenarnya mendapat penolakan sejak awal, kini ditambah kasus pencurian, eksistensi mereka kian terancam. Bukti bahwa kasus ini memanas adalah ayah teman saya tidak bisa ditelpon oleh teman saya, dan teman saya diminta untuk segera pulang ke rumah. Continue reading “Konsultasi Ala”

Semua Tak Mudah

Amir menghentakan kakinya sambil berbalik badan. Sesaat aku bisa melihat bibir mungilnya mengerut. Meski tak kudengar bunyi pintu kamar di banting, tapi aku tahu pasti Amir ada di sana.

***

“Mungkin sebaiknya kau fokus dulu pada kuliahmu Mey”, siang itu Teh Ima membujukku kembali. Aku paham kenapa Teh Ima bersikukuh memintaku berhenti bekerja. Ia tahu gajiku tak seberapa, ia juga tahu betapa beratnya ‘pekerjaan’ku ini.

“Mey akan berhenti Teh, tapi bukan sekarang.”

“Kau masih mau mengurus anak itu?”

“Amir. Dia punya nama”, sedikit kesal ku keraskan suaraku.

“Ya, Amir, atau siapalah”, Teh Ima diam dan menarik nafasnya, “Tapi kau membuang waktumu Mey. Oke, Teteh paham, kau merasa punya tanggung jawab. Amir senang padamu, menurut padamu. Tapi apa yang bisa kau lakukan lagi? Bahkan orang tuanya tak pernah menjenguknya kan? Mereka meninggalkan Amir di sana”, kini Teh Ima menatapku lekat. Aku bisa merasakan ia mencoba menahan diri, pekikan kesalnya sekarang berubah jadi bisikan lirih.

“Mey, begini saja…”

“Mey tahu rasanya ditinggal sendiri, Teh. Dan itu lebih dari sekedar cukup bagi Mey untuk tidak meninggalkan Amir.”

***

"Aku tahu menangis tak membuat jendela ini lebih lebar. Aku tak akan menangis."
‘Aku tahu menangis tak membuat jendela ini terbuka lebih lebar. Maka aku tak akan menangis lagi‘ (Dari Kak Mey untuk Amir)

Catatan 2012

Wah, setelah buka-buka file lama, aku menemukan file berjudul “Jejak Semester 6”. Tapi hanya ada dua dan itu cerita selama dua hari, haha. Ini membuktikan aku memang harus harus harus belajar kon-sis-ten! 😀

Tapi, silakan lah dihayati. Ini ga kuedit, murni sebagaimana yang waktu itu tertuang. Yaaa, walo agak-agak kerasa sisi ‘maksa’ dari analisisnya (kerasa banget :D)

 

***

Rabu, 14 Februari 2012

Pagi ini aku kuliah mulai pukul 08.00 WIB. Ternyata dosennya Bu Astri (dosen PA-nya si Nisa). Mata kulianya adalah Pengantar Bioteknologi dalam Proteksi Tanaman, menarik ya. Karena saking menariknya, jumlah mahasiswa SC dan Minor hampir menyamai jumlah kami mahasiswa mayor. Haha, tak apalah, toh menyerap ilmu kan hak setiap orang.

Bu Astri mengajar dengan baik menurutku, beliau terbuka dan menerapkan sistem diskusi dengan para mahasiswa. Beliau sering bertanya tentang pendapat dan pandangan dari kami, it’s good for me.

Sampai pada bagian peranan bioteknologi, aku jadi berpikir keras tentang satu hal. Ketika Bu Astri menyampaikan bahwa tujuan mulia pengembangan bioteknologi semata-mata demi kepentingan dan kebutuhan manusia, semua ditujukan karena adanya pemenuhan kebutuhan manusia yang terus berubah dan mutlak harus dipenuhi.

Pandanganku, seluruh akademisi, intelektual yang menyandang gelar sepanjang jalan, hanya akan menetaskan hasil pemikiran yang bernilai rendah selama sistem kapitalisme yang rusak ini masih diterapkan. Mengapa begitu?

Coba pikirkan, apakah saat ini masyarakat Indonesia kekurangan beras? Jawabannya tentu tidak. Tapi apakah setiap manusia di bumi pertiwi ini bisa makan nasi? Jawabannya juga tidak. Kenapa itu terjadi? Karena permasalahan mendasarnya adalah ketidakmampuan masyarakat untuk membeli beras ataupun barang pangan lainnya. Bukan pada ketidaktersediaan beras atau bahan pangan sendiri. Sehingga mau dibuat seberapa banyak pun beras bervitamin tinggi yang katanya dimakan sedikitpun sudah mampu memenuhi kebutuhan vitamin, jika masyarakat tak mampu beli,buat apa?

Inilah yang aku sebut dengan kegagalan. Akademisi dan intelektual tak lain pencetak barang seperti mesin bagi pemilik modal dan pemegang kepentingan yang sudah terbeli dengan iming-iming harta.

Inilah kapitalis. Tak akan memanusiakan siapapun, termasuk aku barangkali. Kecuali kau memilih berjuang dan mengubahnya.

 

Kamis, 15 Februari 2012

Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti kuliah pengelolaan dan pemanfaatan pestisida. Dosen yang seharusnya mengajar itu Pak Joko, tapi karena beliau sedang sakit maka digantikan oleh Pak Dadang. Semoga Pak Joko segera diberikan kesembuhan dan kembali mengajar, amin.

Secara umum, aku senang dengan cara Pak Dadang mengajar. Beliau berusaha membuka cara pandang dan mendorong mahasiswa untuk berpikir, tidak sekedar mendengar dan menerima semua yang diberikan.

Satu hal yang paling aku sukai pada bagian kuliah ini adalah saat bapak menjelaskan tentang peranan pertanian terhadap manusia dan kehidupan. Lalu mengaitkan antara industri yang semakin menggeser pertanian, peran besar para kapitalis pemilik modal yang rakus (like this pastinya 🙂 ) yang memang semakin membuat pertanian semakin tak dilirik, lalu para petani (yang sebagian besar tergolong masyarakat miskin) hanya semakin susah dari hari ke hari, impor yang terbuka lebar tak pelak semakin menyakitkan. Lalu closing bahwa permasalahan pangan (baca:perut) adalah salah satu ranjau yang siap meledakkan berbagai krisis sosial.

Yeah, aku seakan hidup nih dengan perkuliahan semacam ini. Mahasiswa itu butuh hawa yang berbeda biar jadi mikir.

Hanya saja, aku harus berjuang keras untuk terus menyuarakan bahwa ada solusi untuk semua permasalahan yang tadi di jelaskan Bapak. Bahwa kemiskinan hanyalah secuil akibat dari diterapkannya sistem Kapitalisme yang kotor ini di bumi Indonesia dan di seluruh negeri2 kaum muslimin lainnya. Seperti kata bapak, hati nurani kita tak akan pernah setuju dengan perbudakan manusia (satu pihak menguasai yang lain). Terlebih lagi sebagai seorang muslim kita memiliki kewajiban untuk hanya menggunakan Islam sebagai satu-satunya aturan hidup, bukan yang lain. Setuju?    

 ***

 

Lah setelahnya aku kemana? (Istighfar rin sebanyak banyaknya).

Gambar

.tanpa identitas.

Aku ragu sebenarnya apa yang kupikirkan saat menulis cerita di bawah ini.

Sebentar aku berpikir, “Oh…kok bisa sih ada kisah ini?”

Entahlah. Aku benar-benar lupa.

Yang jelas, aku yakin momen ini pasti unik saat itu.

dan aku berharap aku segera ingat.

Selamat membaca. Mohon maaf untuk kisah yang “tak beridentitas” ini.

 

 

15 November 2010

Aku jatuh cinta. Wajahku memanas saat memikirkan kalimat itu. Kata-kata yang terlalu lugas untuk menggambarkan sesuatu yang bahkan aku tak mampu mendefinisikannya. Tapi kalimat itu bagiku tepat. Teramat tepat. Tak ada yang mencela, menyalahkan, ataupun sekedar mengomentari, tentu saja. Aku mengakuinya pada hati. Cukuplah.

 

16 November 2010

Malam menghadirkan kesunyian. Setelah kemarin jatuh cinta, kini masih terasa sama, Meski merasa ini konyol, tapi pembenaran boleh terjadi toh. Ya, proses pembenaran. Kunci bagi orang-orang seperti diriku, yang sok tahu tentang cinta. Tapi tak apalah, toh cuma hatiku yang tahu.

 

17 November 2010

Cinta ternyata menghabiskan banyak hal dalam hidupku, setidaknya dalam dua hari ini. Ia menguras energiku untuk berpikir. Jujur, aku memang terus berpikir, hanya tentang satu hal sebenarnya. Bolehkah? Tidak, tunggu, masih ada lagi. Wajarkah? Mungkinkah? Tidak, tidak, masih ada. Kenapa mesti jatuh cinta? Kenapa mesti dia? Aku harus bagaimana?

Ergh…, terlalu rumitkan? Aku hanya merasa jatuh cinta dua hari yang lalu. Jatuh cinta pada seorang manusia, ya manusia sepertiku. Tapi kenapa rumit? Apa cinta yang menyapaku berbeda dengan cinta yang ada pada teman-temanku. Jatuh cinta, ungkapkan, selesai. Aku sudah teramat pusing, padahal belum tentu yang kurasakan adalah cinta? Solusi, dimana engkau?

 

18 November 2010

Hari ini ada satu peningkatan. Aku berharap melihatnya. Lengkaplah kebodohanku. Sementara solusi belum kutemukan. Jangan menertawakan kebodohanku, teman. Cukuplah hatiku yang berkhianat. Tak memberi jawaban, padahal hanya ia yang kupercaya untuk semua kisah ini. Kau tak bangga mendapat kepercayaanku, wahai hati?

 

19 November 2010

Tadi kali kedua aku melihatnya. Hanya melihat, ya hanya melihat. Tak lama. Tak ada bicara. Ketika itu hatiku hanya diam. Hanya diam dan itu jawaban, teman. Dengan diam, hatiku menyuarakan ribuan jawaban, menyuarakan jutaan alasan, namun menyuarakan satu kesimpulan. Dan semua berakhir, kuputuskan begitu.

Terima kasih karena telah menginspirasi. Hatiku tak memberi kesimpulan untuk membencimu.

 

Gambar

RE-untuk semua

Saat tulisan ini sedang kutuangkan, winamp di neti lagi muter lagu “Buka Semangat Baru”-nya Ello dkk. Entah mp3 yang mempengaruhi ide tulisan ini muncul ataukah kebetulan saja lagunya pas dengan pikiranku, aku tak begitu ingat. Yang jelas begitu saja ada sesuatu yang menggelitik di benakku. Setidaknya ku pikir, tak ada salahnya [atau sudah semestinya] kita coba menakar beberapa hal yang ingin kubincangkan berikut ini. Continue reading “RE-untuk semua”